<Hajoon> Kamu sudah lihat foto konsep kami?
<Hajoon> Ada tiga versi, tapi yang keluar semalam jadi favoritku.
<Hajoon> Karena kamu terlibat dalam pembuatannya.
Menjelang fansign CALYTRIX di Jakarta, Music High Entertainment merilis jadwal comeback untuk peluncuran album. Jika separuh materi tak digarap sebelum Gaeul menuntaskan wajib militer, mustahil bagi mereka menyelesaikannya dalam waktu cepat. Hajoon pun lega dapat keluar dari kesibukan selama sebulan terakhir.
<Alya> Hasilnya lebih bagus dari ekspektasiku.
<Alya> Lega juga lihat banyak respons positif.
Pesan-pesan itu seketika menerbitkan senyum di wajah Hajoon. Meski masih butuh proses, hubungannya dengan Alya perlahan membaik. Sayangnya, dia juga terus diingatkan kenyataan bahwa rahasia yang dipikulnya berpotensi menghancurkan kebahagiaan yang melingkupi mereka.
Seolah belum cukup membebani, CEO Jun kembali mengetatkan pemantauan dan melemparkan peringatan. Seperti yang dilakukannya siang ini.
“CEO Jun meminta Anda menemuinya di ruangan.” Jika Sekretaris Bo yang langsung menemuinya, berarti ada topik urgen yang bakal dibahas. “Mari, ikut saya.”
Sesampainya di tujuan, Hajoon mendapati CEO Jun tengah memandangi tulisan-tulisan di papan tulis putih, lalu berbalik memandanginya.
“Duduklah, Hajoon.” Sang CEO mengambil sebuah amplop cokelat. “Saya dengar kalian sudah mulai mendiskusikan konsep tur dan konser.”
Hajoon mengangguk. “Sajang-nim, apa yang ingin Anda bahas bersamaku?”
“Tidak mau basa-basi dulu? Sesibuk itu jadwalmu?” Lawan bicaranya berdecak, lalu menaruh amplop itu di hadapannya. “Bukalah.”
Dari celah amplop, terlihat lembaran foto seukuran kartu pos. Hajoon menarik sebagian untuk kemudian membaliknya. Matanya pria itu membesar kala menyadari siapa dan di mana potret-potret tersebut diambil.
“Ingat sasaeng yang mengirimkan foto-fotomu dan Alya saat bertemu di taman dulu? Ternyata dia belum puas memeras saya.” CEO Jun memutari meja dan duduk di hadapan Hajoon. “Dia mengikuti kalian saat kamu membawa sepeda kantor. Foto-fotonya memang gelap karena pencayahaan remang, tapi dia tetap minta bayaran yang bikin saya harus menyisihkan uang tabungan.”
“Malam itu, aku mengantar Alya—”
CEO Jun mengangkat tangannya. “Mood saya sedang kurang bagus buat menyimak alasanmu yang berbelit-belit. Saya tak mau kejadian ini terulang. Bersyukurlah saya bersedia menyelamatkanmu. Kalau tidak, comeback CALYTRIX terancam berantakan.”