Kata orang-orang, pengalaman pertama selalu meninggalkan kesan mendalam. Begitu pula fansign perdana yang CALYTRIX adakan selepas debut.
Hajoon ingat sebagian besar wajah yang menghadirinya. Sekitar 30 orang muncul, terlihat kikuk dan malu untuk saling menyapa. Mungkin kalau Yulyeon kurang pandai mencairkan suasana, mereka bakal terjebak dalam kecanggungan sampai akhir acara.
Malam ini, di hadapannya terdapar 200 orang bersorak memanggil CALYTRIX. Cahaya hijau keunguan dari lighstick menyinari venue. Olive, yang dipercaya menjadi host malam itu, sama-sama takjub menyaksikannya.
“Yulyeon pasti senang melihat pemandangan ini,” gumam Johwa. “Dia yang selalu percaya CALYTRIX layak mendapatkan apreasiasi tinggi.”
Hal itu pula yang membuat Yulyeon cepat akrab dengan Alya. Keduanya memiliki misi membawa CALYTRIX ke puncak kesuksesan. Keinginan tersebut pada akhirnya terwujud meski hanya sekejap. Seperti bintang-bintang besar yang meledak di puncak kehidupan mereka, lalu berubah menjadi lubang hitam.
“Bagaimana kalau kita sapa bintang utama malam ini?” seru Olive yang disambut teriakan yang menggema keras di arena tersebut. Salah satu staf panggung mengisyaratkan mereka untuk bersiap-siap keluar. “Berikan sambutan terbaik kalian untuk CALYTRIX!”
Hajoon, Johwa, Manwol, dan Gaeul berjalan melewati tirai menuju panggung utama. Keempatnya lantas berdiri di depan sofa, lalu mengangkat tangan mereka dan berseru,
“Bloom and shine! Halo, kami dari CALYTRIX!”
*
Berdasarkan rundown, fansign akan berlangsung selama hampir 2 jam yang dibagi jadi beberapa sesi. Hajoon tak menyangka bakal menikmatinya. Bak memory muscle yang dilatih bertahun-tahun, semua terkesan natural meski dia perlu menyesuaikan diri dengan aneka istilah kekinian dan budaya pop. Sektor yang biasanya di-handle baik oleh Yulyeon.
“Kalau boleh, apa kalian bisa bagi sedikit saja bocoran lagu terbaru CALITRIX?” pinta Olive sebelum memasuki sesi tanda tangan. Pertanyaan itu sengaja tim kreatif masukkan untuk promosi ‘halus’. “Chorus-nya aja enggak apa-apa.”
“Kasih jangan?” Manwol melempar senyum yang mengundang pekikan histeris Starry Flowers. “Cuma sebaris lirik biar kalian penasaran. Tapi kita kasih member lain yang belum sempat menyanyi.”
Punggung Hajoon menegak. Lirikannya bertemu tatapan usil Manwol. Kalau yang ini jelas tak ada dalam rencana tim.
“Kita belum dengar suara main vocalist kita.” Manwol yang makin berapi-api bergeser mendekati Hajoon. “Bukannya hyung yang menulis title track juga?”
“Oh, ya ampun. Setelah sekian tahun kita dapat lagu lagi dari Hajoon!” Seruan Olive kian menyudutkan posisi Hajoon. “Yuk, kita kasih semangat, Starry Flowers!”
Sulit bagi Hajoon mengelak saat Starry Flowers mengelu-elukan namanya. Nam Hajoon! Nam Hajoon! Nam Hajoon! Pria itu tak punya pilihan selain menerima mic pemberian Manwol seraya melayangkan sorot mengancam padanya.
“Title track ini kutulis setelah menyelesaikan wajib militer.” Saat bercerita, Hajoon memindai kerumunan yang seketika senyap untuk menyimaknya. “Malam itu, awal musim panas, aku bersepeda di sekitar Sungai Han saat melihat pantulan bulan purnama.
“Mungkin di antara kalian ada yang suka mellow memandangi bulan.”Ucapannya ditanggapi beberapa penggemar yang menggoyangkan lighstick. “Itu juga yang aku rasakan saat berhenti memandangi purnama dan—”
Pandangannya jatuh ke tepi panggung. Di sana, Alya bersama seorang temannya tengah menyimak. Jarak mereka cukup dekat, sehingga dia yakin perempuan itu bakal menyadari sepasang mata yang mengamati.
Selain itu, Hajoon mau Alya tahu dialah sosok yang muncul di dalam benaknya kala memandangi bulan di atas Sungai Han.
“Kupikir, tak ada salahnya menulis surat cinta untuk bulan,” Hajoon meneruskan. “Kemudian lahirlah lagu berjudul Moon’s Lonely Eyes.”
*
<alya> a powerful ballad song? darimu?
<hajoon> sebagai musikus, aku ingin bereksperimen.