Moon’s Lonely Eyes menjadi rilisan pertama CALYTRIX setelah hiatus sebagai grup selama empat tahun. Menggabungkan unsur tradisional dan modern, lagu power ballad tersebut mengisahkan penantian seseorang saat memandangi rembulan di tepi Sungai Han.
Hajoon kembali memegang kendali sebagai penulis lirik utama bersama Gaeul yang debut sebagai composer.
Kembalinya CALYTRIX disambut hangat para penggemar setianya, Starry Flowers. Namun, akankah Moon’s Lonely Eyes menjadi salah satu lagu perpisahan mereka? Rumor berakhirnya kontrak yang menguat, ditambah kematian Yulyeon…
Hajoon menutup laman website saat menemukan nama Yulyeon. Seharusnya dia mengikuti saran Johwa setelah mereka meluncurkan lagu itu: hindari review dan media sosial kalau tak mau sakit hati.
“Selamat siang!” CEO Jun masuk ke ruangan bersama Sekretaris Bo. “Maaf saya mengganggu jam makan kalian, tetapi ada tur menanti akhir bulan ini.”
Hampir empat bulan Hajoon putus kontak dengan Alya. Jika tak ada tur, dia pasti sudah menyerah sejak pulang dari fansign di Jakarta. Hanya kesempatan ini, lebih tepatnya lewat rapat ini, dia dapat memastikan mereka dapat bertemu kembali.
“Sekretaris Bo barangkali sudah mengabari kalian tentang topik pertemuan ini.” Sang CEO menggulir layar tablet. “Sebelum membahas kebutuhan dan logistik tur, saya mau memastikan riders yang ingin diajukan kepada EO.
“Hajoon,” panggilnya, “sebagai wakil teman-temanmu, bisa berikan konfirmasi pada kami tentang riders yang kalian inginkan?”
Butuhkan lebih tepatnya. “Tidak ada yang berubah dari daftar yang kami berikan minggu lalu. Hanya saja, saya punya satu permintaan.”
“Katakan segera,” pinta CEO Jun sambil lalu.
“Aku butuh dua interpreter selama di Jakarta. Salah satunya untuk menemani kami jalan-jalan dan mengurus keperluan konser.” Semua mata tertuju padanya. “Kalian pasti menyediakan kandidat, tapi aku juga butuh dari EO yang jadi partner kita.”
Dari tatapannya, CEO Jun kurang menyukai gagasan itu. “Baik. Akan kami—”
“Sajang-nim, aku punya nama orangnya. Dia yang datang mengurus konten Nona Ungnyeo.” Terdengar bisik-bisik di sekitar Hajoon, tetapi dia tak mempedulikannya. “Namanya Alya Kahyana. Aku ingin dia yang menjadi interpreter kami di Jakarta.”
*