“Semangat buat konsernya, Mbak.”
Sepiring nasi goreng ayam kampung mengalihkan atensi Alya dari ponsel. Mila, yang bertugas masak hari ini, mengacungkan jempol padanya. Pasti efek terlalu sering latihan bahasa Korea bersama Alaric.
“Makasih. Kamu juga makan dulu.” Ini adalah pekan kedua mereka menempati co-living space yang lokasinya dekat sekolah Mila. Walau tak seluas rumah keluarga, atmosfernya yang hangat membuat ketiganya langsung betah.
“Wuih, pantes wangi banget.” Alaric yang baru berganti pakaian bergabung bersama Alya dan Mila. “Ah iya, hari ini Mbak ada tugas negara. Ke bandara pukul berapa?”
Diceknya jam di ponsel. “Setengah jam lagi. Boris bakal jemput ke sini.”
“Baru aja mau aku tawarin ojek,” celetuk sang adik. “By the way, kemarin sore aku iseng lewat rumah kita. Udah dipasang banner sama pihak bank.”
Alya melambatkan kunyahannya. Berat meninggalkan rumah itu meski dia hanya tinggal beberapa tahun. Kresna ingin anak-anaknya yang menempati. Sayangnya Nandar….
“… terus pas beli gorengan,” rupanya Alaric masih bercerita, “aku ketemu bapak-bapak yang pegang bengkel Om Nandar sekarang. Dia cerita, Om Nandar pernah mampir buat minta kerjaan. Diterima tuh, tapi pas hari kedua dia ketahuan mau ambil uang.”
Dari ekor mata, Alya menangkap ekspresi wajah Mila yang seketika masam.
“Keputusan kita pindah mungkin bakal mempersulit dia melacak Mila,” ujar Alya. “Kita harus lebih hati-hati juga. Sebelum Mila terbang ke Korea, jangan sampai dia menemukan tempat tinggal baru kita.”
Alaric pergi terlebih dulu, meninggalkan Alya dan Mila yang mencuci peralatan makan. Deringan ponsel menghentikan Alya dari aktivitasnya. Boris ternyata sedang menunggu di area parkir.
“Mila, aku harus pergi sekarang.” Alya menyambar tas dan blazer di kamar. “Sebelum pergi, kunci semua pintu dan jendela.”
“Iya,” sahut Mila. Kemudian, tanpa diduga, dia memeluknya. “Mbak juga hati-hati.”
Sejenak, Alya termenung di tempat. Sejak menemukan topeng beruangnya, tak ada perubahan signifikan dari Mila. Memang saat perempuan itu mengakui dirinya sebagai Nona Ungnyeo, sang keponakan dibuat terkagum-kagumkarena tak percaya ikon legendaris bagi Starry Flowers adalah saudaranya.
“Kenapa? Tumben begini.” Meski begitu, Alya mengelus lembut pundak Mila.
“Soalnya bulan depan saya yang pergi ke Seoul,” jawabnya setengah terisak. “Padahal saya betah tinggal sama kalian. Saya menganggap kalian seperti kakak-kakak yang selalu saya dambakan.”
Alya membiarkan Mila memeluknya lebih lama. Semoga saja, setelah semua masalah selesai, mereka bisa berkumpul lagi sebagai keluarga.