Come Back to Me

Erlin Natawiria
Chapter #30

Mengubur Identitas Lama

“Dari semalam kuperhatikan, kamu sering melamun.” Johwa menyerahkan sebotol air dingin. Mereka baru menuntaskan rehearsal untuk konser hari kedua. “Penampilanmu bagus. Sedikit grogi, tapi tidak separah aku atau Gaeul.”

Hyung juga keren!” Manwol yang menduduki sound system berseru pada Johwa. “Menurutku wajar kita kena demam panggung. Ini rangkaian tur pertama kita setelah break panjang. Lama-lama juga bakal terbiasa.”

Bukan demam panggung yang membuat Hajoon terdiam, melainkan rencananya dengan Alya yang akan dieksekusi malam ini. Untuk mencapai tujuan tersebut, dia telah melobi sejumlah kru, tak terkecuali Manajer Lee yang setuju tanpa banyak tanya.

Tinggal ketiga temannya yang perlu dia ajak bergabung.

“Teman-teman,” Hajoon mengedarkan pandangannya ke sekitar. Sebagian kru sudah meninggalkan panggung, “bisa kumpul sebentar?”

Mendengar keseriusan sang leader, Johwa, Gaeul, dan Manwol berkumpul membentuk lingkaran. Keempatnya merapat hingga nyaris tak ada celah yang berpotensi membocorkan isi pembicaraan.

“Aku ingin meminta kalian melakukan sesuatu nanti malam,” katanya, tegas. “Nona Ungnyeo yang memerintahkanku.”

*

Untuk tur bertajuk To the Moon and Back: CALYTRIX’s Last Journey, konser dibagi menjadi lima act. Dua di untuk penampilan solo, sementara act terakhir adalah encore yang kerap mengundang tawa dan tangis haru para penggemar.

Namun, malam ini, mereka akan mendapatkan pengalaman tak terlupakan.

“Selamat malam. Starry Floweeers!” sapa Hajoon setelah menyelesaikan act empat yang merupakan sesi subunit. “Indonesia selalu meninggalkan kesan mendalam untuk CALYTRIX. Dari konser pertama, fansign, sampai kunjungan kali ini untuk mengakhiri perjalanan kami sebagai grup.”

Seisi venue bersorak sedih. Dari kejauhan, terdengar seseorang berteriak ‘please join to another company’ yang disambut senyum penuh arti dari Gaeul dan Hajoon.

“Kami tetap pastikan kalian akan pulang membawa cerita mengesankan,” Gaeul meneruskan sambil memainkan piano sebagai pemanasan. “Bagaimana kalau kita bernyanyi bersama? Kalian ingat lagu ini, bukan?”

Lihat selengkapnya