“Congrats, Mbak, you’re a celebrity now.”
Alya tercengang mendapati kerumunan di depan kantor Polished Wood Events. Benar kata Hanni, sebaiknya dia tak masuk dulu hari ini. Starry Flowers bersama para wartawan tengah menunggu untuk tujuan yang sama.
“Tutup helmnya,” titah Alaric. “Bahaya kalau ada yang noleh ke sini, terus lihat Mbak. Nanti aku harus ngebut buat kabur.”
“Iya, iya, bawel.” Kemudian, Alya mengirimkan pesan pada Hanni dan Olive untuk mengurus pekerjaannya sementara waktu. “Kayaknya kurang aman juga kalau aku ikut kamu ke kantor polisi buat lihat Om Nandar.”
Sang adik bergumam tak setuju. “Kita mau ke kantor polisi, bukan mal. Orang-orang kayak di kerumunan itu enggak bakal berani masuk begitu ditahan petugas.”
“Menurutmu aman, nih, kita pergi ke sana?”
“Aman, aman. Asal Mbak pakai masker.” Setelah itu, Alaric memanaskan lagi sepeda motornya. “Pegangan yang kuat, kita cabut sekarang.”
*
Mengenakan jaket yang Alaric pinjamkan, Alya mematut masker kain pada spion sesampainya di kantor polisi. Sang adik menunggu sembari mengecek kondisi sekitar, lalu mengisyaratkannya masuk saat dirasa aman.
Setelah melewati pemeriksaan singkat, Alya dan Alaric mengikuti petugas menuju ruang besuk. Terdapat dua meja di sana dengan penerangan yang begitu dingin. Tembok-tembok warna birunya pun tak membantu atmosfer yang terasa menegangkan.
“Tunggu sebentar, saya akan panggilkan Pak Nandar.” Petugas yang mengantar mereka berbelok ke koridor. Alya hanya bertukar pandang dengan Alaric sampai perhatian mereka tertuju pada sosok yang muncul tak lama kemudian.
Mengenakan kaus cokelat dan celana denim lusuh, Nandar duduk di hadapan keduanya. Rambutnya yang tak terurus tampak mengilat karena minyak. Kuku pada jemarinya pun tampak kotor dan menghitam.
“Di mana Mila?” todong Nandar sebelum Alya melontarkan sapa. “Om mau bicara sama dia sekarang.”
“Mila sekolah, enggak bisa ambil izin sembarangan.” Sebisa mungkin, Alya menjaga sikapnya tetap tenang. “Ternyata yang Mila ceritakan selama ini pada kami benar. Om Nandar main judol sampai mengorbankan sertifikat rumah.”
Pria di hadapannya mendengkus. “Padahal tinggal sekian puluh juta rupiah lagi, Om bisa tebus sertifikat sekaligus beli hak bagian rumah ayah kalian! Kenapa kalian harus menghalangi Om menikahkan Mila? Jumlah uang yang juragan pasar siapkan sampai dua kali lipat harga hak Om atas rumah itu!”
Cepat-cepat, Alya merentangkan tangan; menghalangi Alaric yang siap menerjang Nandar. “Apa yang akan Om lakukan setelah mendapatkan uang itu? Langsung bayar utang? Aku yakin Om bakal memakainya buat terus berjudi.”
Rahang Nandar mengencang. Jemarinya mengepal. “Seharusnya Om langsung jual rumah itu setelah Kresna meninggal dunia.”