Menghadapi perselisihan grup bukan perkara baru bagi Hajoon. Bisa dikatakan keributan-keributan dalam dinamika CALYTRIX menjadi bumbu yang membuat mereka makin solid. Hal ini pula yang mengasah kemampuannya sebagai leader secara alami.
Namun, kecelakaan yang melibatkan Sumi dan Yulyeon adalah pengecualian.
Duduk di hadapan Hajoon, Gaeul menunjukkan sikap berjarak. Tatapannya selalu terarah ke berbagai tempat kecuali matanya. Jika ingin menyampaikan sesuatu padanya, dia bakal menjadikan Manwol sebagai kurir pengantar pesan. Johwa yang mengamati perilaku tersebut akhirnya meminta nomor telepon Alya padanya.
“Kenapa kita harus menghubungi Alya?” tanya Hajoon kala mereka pindah dari hotel ke apartemen untuk menghindari kerumunan pengegmar.
“Alya dapat menjadi penengah kalian.” Lirikannya terarah pada Gaeul yang sedang bicara bersama Manajer Lee. “Katakan padaku, Hajoon, Alya sudah tahu tentang surat itu, bukan? Saat Manwol menyinggung absenmu dari dinner, hal selanjutnya yang kamu lakukan adalah membagikan pesan terakhir Yulyeon. Pasti ada hubungan di antara dua kejadian itu.”
Johwa tak menginterogasi Hajoon lebih lanjut begitu menerima nomor telepon Alya. Tebakannya merupakan jawaban yang semestinya diberikan kepada Manwol kalau dia tak mendadak mengubah rencana.
Di sisi lain, Hajoon berharap kehadiran Alya dapat melunakkan hati Gaeul walau dia bimbang sikapnya bakal sehangat dulu.
*
“Tamu yang kita tunggu sudah datang.”
Seketika, Hajoon, Manwol, dan Gaeul menoleh ke ambang koridor. Berdiri di belakang Johwa, Alya melepas masker dan tersenyum kikuk. Kemudian, Johwa mengarahkan perempuan itu duduk di antara sofa-sofa panjang mereka tempati.
“Alya tahu kita semua sudah membaca surat Yulyeon.” Johwa serta-merta masuk ke inti pembicaraan. “Sebelumnya, kami ingin mengonfirmasi satu hal lain. Apa benar Hajoon memberitahumu lebih dulu mengenali pesan terakhir maknae kami?”
Sepasang mata bulat Alya tertuju pada Hajoon sesaat; memastikan dia tak keberatan bercerita. Maka untuk menjawabnya, Hajoon mempersilakan lewat anggukan.
“Selepas fansign, kami bertemu untuk membahas surat Yulyeon. Hajoon pergi menemuiku saat kalian dinner.” Dari tempat duduknya, Manwol menggumam mendengar jawaban Alya. Rasa penasarannya terjawab.
“Berarti kejadiannya empat bulan lalu,” ujar Johwa. “Posisimu di sini sangat sulit, bukan? Seorang anak dari korban kecelakaan lalu lintas, sekaligus—” Kala menoleh ke arahnya, Hajoon hanya mengangkat bahu.
Menyadari kecanggungan tersebut, Alya mengambilalih pembicaraan. “Posisiku enggak hanya sulit, tapi menyakitkan. Kehilangan ibu akibat kecelakaan yang dilakukan seseorang yang kukagumi. Kemudian, sosok yang kuharap bakal menghiburku malah memutuskan hubungan—”
Sekonyong-konyong, Alya menutup mulut saat tak sengaja melontarkan kalimat terakhir. Hajoon membelalak. Sementara ketiga pria yang sedang menyimak penjelasannya perlahan menyadari konteks ‘hubungan’ yang dimaksud.
“Kalian,” Manwol menunjuk Alya dan Hajoon bergantian, “kalian pernah kencan?”