Come Back to Me

Erlin Natawiria
Chapter #37

Berhenti Mengalah

“Kalian tak perlu melangkah sampai sejauh ini—”

“Bisakah kamu berhenti bersikap egois, Hajoon? Sebenarnya aku kurang suka memakai kartu ini, tapi aku anggota tertua CALYTRIX. Patuhi perintahku dan kita bakal dapat lebih banyak bukti buat menuntut CEO Jun setelah minggat dari agensi.”

Percakapannya bersama Johwa terngiang-ngiang dalam benak Hajoon sampai dia terlelap setibanya di apartemen. Satu-satunya hal yang membangunkannya dari tidur nyenyak adalah bunyi bel dari orang kurang sabaran.

Hajoon melangkah menuju pintu utama. Sambil menggerutu, dia menggeser selot dan kunci. Tanpa diduga, saat pintu terbuka, Hajoon nyaris terjengkang kala seseorang mendorongnya.

“Nyenyak tidurmu, Nam Hajoon?” Kesadaran Hajoon seketika melonjak drastis kala mendengar suara sang tamu. CEO Jun. “Seperti ini permainanmu sekarang. Menggunakan teman-teman satu grupmu sebagai perisai untuk berlindung.”

“Bukankah Anda—” Hajoon melirik jam dinding. Pukul sebelas siang. “Bukankah Anda seharusnya di Tokyo?”

“Saya terpaksa mengundurkan jadwal gara-gara kamu!” Pria itu memojokkan Hajoon sampai merapat ke dinding. “Sikap Johwa semalam makin menegaskan kecurigaan saya pada hasil rekaman CCTV yang Sekretaris Bo dapatkan beberapa hari lalu.”

“Rekaman apa lagi yang Anda maksud?”

“Malam selepas fansign, kamu tiba-tiba meninggalkan dinner. Sekretaris Bo berhasil mendapatkan rekaman di lobi sampai tempat parkir. Di sana, saya melihatmu berlari bersama Alya ke basement, lalu kembali ke atas bersama Manajer Lee.

“Apa,” telunjuk CEO Jun menekan dadanya, “yang kalian bicarakan malam itu? Apa ada hubungannya dengan Alya yang menolak fee?”

Si tua bangka ini memang cerdas, batinnya. Hajoon bergeming; menatap CEO Jun yang memelototinya bak banteng murka. Pasti ini pula alasannya ingin bicara empat mata malam tadi: supaya bisa menekan Hajoon.

“Berikan tebakan terbaik Anda,” Hajoon balik menantang. “Aku yakin Anda sudah memegang satu atau dua tuduhan yang ingin digunakan untuk mengancamku.”

CEO Jun menarik tangannya, lalu bersedekap. “Langsung saja ke intinya, kamu pasti menceritakan keterlibatan Yulyeon dalam kematian ibu Alya, termasuk isi surat itu. Mustahil Alya mengancam bakal menyebarkan Kartu As saya kalau belum memegangnya sendiri.”

Meski lututnya lemas, Hajoon berusaha menyunggingkan senyum meledek. “Lantas, apa yang akan Anda lakukan untuk mempersulit langkahku dan CALYTRIX? Menjegal kami dari agensi? Menahan gaji terakhir kami?”

Giliran CEO Jun yang menunjukkan seringai menyebalkan. “Saya tak akan bertindak gegabah sampai memancing amarah penggemar kalian. Mari kita bermain cantik saja. Kalau kalian merasa sudah punya bukti kuat, ayo, kita bertemu di pengadilan.”

Hajoon tak mengira kemungkinan ini datang lebih cepat. “Biarkan CALYTRIX menuntaskan tur terakhir, baru kita masuk ke babak selanjutnya.”

It’s a deal then!” CEO Jun mengulurkan tangan. Hajoon paham, menerimanya bakal menutup peluang CALYTRIX mundur.

Namun, dia sudah lelah mengalah.

“Sampai bertemu di ruang pengadilan, CALYTRIX,” ujar sang CEO kala tangan mereka berjabatan. Sementara Hajoon hanya melempar tatapan dingin; mengamati sosok itu keluar dari unit apartemennya.

*

Selama beberapa detik, ruangan itu hanya diisi ketukan jam. Mengisap ketegangan yang mencekik Hajoon. Tanpa sadar dia pun telah terduduk tangan yang gemetaran.

Lihat selengkapnya