Mila mengambil hot pack bergambar bebek dan meletakkannya di antara kedua telapak tangan. Sekian langkah darinya, berdiri kerumunan penggemar girl group yang debut sekitar enam bulan lalu. Salah satu dari mereka sibuk mengecek jadwal kedatangan, sementara sebagian lagi sibuk menggosok-gosokkan tangan.
Diliriknya stok hot pack dalam tote bag. Mila mengeluarkan beberapa bungkus, lalu menyerahkannya pada seorang gadis yang terlihat seumuran dengannya.
“Ambilah,” katanya. “Idola kalian pasti sedih melihat penggemarnya kedinginan.”
Mereka berterimakasih, lalu mengambil dan membagikan hot pack pemberian Mila. Menyaksikan antusiasme tersebut membuatnya merindukan masa-masa sebagai Starry Flowers. Bohong kalau dia sudah move on setelah CALYTRIX mengumumkan disbandment akhir tahun lalu.
Tak lama berselang, terlihat kelompok penumpang dari arah pintu kedatangan. Kerumunan penggemar di samping Mila sibuk berbisik-bisik; memastikan apakah gerombolan tersebut adalah grup yang mereka nantikan.
Gadis yang menerima hot pack menengok ke arah awak media, lalu menggeleng.
“Sepertinya, itu penumpang dari Jakarta.”
Kini, giliran Mila yang sibuk membereskan barang bawaan saat mendengar ucapan tersebut. Tatapannya mengecek satu per satu penumpang yang melintas; bersiap menghentikan dua sosok yang sedari tadi dia tunggu.
“Mila? Mila, hei!” Sebuah suara mengalihkan perhatian Mila. Senyumnya merekah kala menangkap Alya yang bergegas menghampiri, sementara Alaric tergopoh-gopoh menarik dua koper. Dia lantas berlari mendekat buat memeluk mereka berdua.
“Omongan orang-orang tuh kadang suka bener, ya.” Alaric mengacak-acak puncak kepala Mila. “Lihat, dong, sekalinya kena angin Korea, style Mila udah kayak calon idol.”
“Kualitas udara di sini lebih bagus, jadi enggak bikin wajah kusam,” ujar Alya sembari mengusap pipi keponakannya. “Omong-omong, Bibi Areum menunggu di mana?”
“Di kafe luar terminal.” Ketiganya menoleh ke belakang kala kerumunan penggemar memekik melihat rombongan idolanya muncul. “Kayaknya kita harus keluar sekarang sebelum makin ramai.”
*
Ketika Alya mengabari kunjungan ke Seoul bersama Alaric, Mila serta-merta meluncur menuju convenience store Bibi Areum. Meski jaraknya dari dorm cukup jauh, gadis itu tak keberatan mengambil rute panjang. Dia bahkan mempersiapkan diri dengan membawa catatan pelajaran untuk mengisi perjalanan.
“Untuk apa kamu jauh-jauh ke sini,” ujar Bibi Areum sambil menyajikan mi instan favoritnya. “Bukannya aku sudah memberikan nomor telepon? Tinggal kirimkan pesan singkat saja padaku.”
“Maunya begitu, Bi, tapi saya mampir juga karena ada urusan lain.”
Tepat setelah itu, pintu toko terbuka. Seorang pria bermantel cokelat menghampiri mereka. Tanpa menunggu sosok tersebut menurunkan masker, Bibi Areum berkacang pinggang, lalu menjewer telinganya.
“Nam Hajoon,” katanya mengabaikan Hajoon yang mengaduh kesakitan, “kamu juga kenapa jarang sekali mampir ke tempatku?”