Rumah satu lantai di pinggiran kota Bogor itu terlihat biasa-biasa saja, menyatu dengan rumah-rumah lain di sekitarnya. Memiliki atap pelana yang dilapisi genteng merah, menghadap ke timur sehingga sinar matahari pagi memenuhi seisi rumah dan memberikan rasa sejuk saat siang panas sekalipun. Bagian depannya tampak sudah lama tidak mendapatkan sentuhan tangan yang begitu telaten memastikan rumput-rumput liar tidak tumbuh sembarangan di sana, dengan bunga bougenville beraneka warna menghiasi teras serta pohon bonsai di taman kecil. Sekarang pohon bonsai sudah meranggas, bunga-bunga bougenville hanya ada satu dua.
Cat depannya berwarna putih, tapi entah karena serangan matahari atau percikan hujan, mulai muncul noda di mana-mana. Terlihat kusam.
Jendela yang bisa dibuka di kedua sisi, sudah lama tertutup. Gorden tebal melindungi, sehingga tak ada seorang pun bisa mengintip dari luar.
Sebuah garasi sudah lama tidak dibuka, tepatnya sejak satu-satunya mobil Kijang lawas yang dulu ada di sana, akhirnya dijual dengan harga murah karena tidak bisa lagi dipakai.
Ada sepasang kursi rotan dan meja jati di teras. Dari modelnya, perabotan itu tampak tua. Namun, masih kokoh. Di sekeliling teras ada tembok setinggi lutut orang dewasa. Dulu, ada banyak buka di sana. Sekarang kosong melompong. Di atas teras, ada lampu gantung yang sama tuanya, berayun setiap kali ada angin berembus.
Pagar berkarat yang mengeliling rumah itu juga sudah tampak usang, layu dimakan usia. Tidak ada yang bisa menebak apa warna aslinya. Jika ingatan tidak salah, kali terakhir pagar itu dicat adalah saat menyambut Idulfitri, sepuluh tahun lalu. Besi yang kokoh sekalipun tidak bisa menahan serangan panas dan hujan terus menerus.
Bunyi berderit selalu terdengar setiap kali ada yang membuka pagar. Terkadang harus mengerahkan seluruh tenaga untuk mendorongnya, sebab bagian rodanya sudah mulai macet. Jika dibuka di malam hari, bunyinya yang begitu keras sampai-sampai menimbulkan protes dari pemilik warung di sebelah rumah.
Satu-satunya benda yang tampak layak pakai hanya sebuah sepeda motor di depan rumah. Modernitas yang tampak begitu kontras dengan kesan tua yang dihadirkan oleh rumah tersebut.
Itu baru bagian luarnya. Bagian dalamnya pun tak kalah tua.
Tidak heran, sebab rumah itu sudah berdiri lebih dari tiga dekade.