Complicated Boss

Rina susanti
Chapter #10

Bab 10

Bab 10  Menguping percakapan 

Selain pekerjaan yang berhubungan dengan data yang cukup membuat kepala pening, Pak Aryo secara rutin menugaskan ke Klaten, mengecek ini itu. Kemampuan menyetirku sudah bertambah jadi tidak  diantar Pak Rahman. Penugasan ke Klaten menjadi tugas yang ditunggu-tunggu, jadi semacam pelarian dari ketegangan yang disebabkan Pak Aryo. Di kantor aku menghindari bertemu Pak Aryo kecuali dipanggil ke ruangannya saat mengoreksi atau mendelegasikan pekerjaan. Datang lebih pagi agar tidak berpas-pasan dengan Pak Aryo di parkiran, pulang lebih cepat sebelum Pak Aryo pulang. Jika meeting, memilih tempat yang aman, yang jauh dari tatapannya.  Tatapan Pak Aryo terasa mengintimadasi, seperti bisa meneropong ketidakmampuanku dalam pekerjaan yang dia berikan. Tatapannya bisa dengan seketika  merusak suasana hati. Kalau dipikir-pikir  mungkin ini kesamaan Pak Aryo dengan Bu Hardjo, sesuai teori; buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Jam menunjuk di angka lima  ketika aku kembali ke kantor untuk absen pulang dan mengambil motor karena ke Klaten  dengan mobil kantor. 

Kulihat mobil Pak Aryo masih terparkir, di sampingnya ada mobil sedan merah  yang rasanya familiar tapi seingatku tidak ada karyawan di sini yang memiliki sedan merah seperti itu, mungkin tamu.  Padahal berharap Pak Aryo sudah pulang.  

Sampai di pintu masuk kantor kulihat pintu ruangan Pak Aryo sedikit terkuak. Aku memelankan langkah, berusaha tidak menimbulkan suara dengan harapan Pak Aryo tidak tahu kedatanganku. Aku menghentikan langkah begitu mendengar suara  Bu Hardjo,”Orang pintar memang banyak tapi yang jujur dan penuh dedikasi susah dicari. Kamu  bisa mengajari dia sebulan atau dua bulan soal pekerjaan di sini. Tapi kejujuran dan dedikasi  tidak bisa diajarkan dengan instan.”

“Tapi Bu, kita  tidak punya waktu untuk mengajarkan itu berbulan-bulan. Semua orang di sini sibuk.”

 “Kalau kerepotan  kenapa kamu tidak rekrut satu karyawan lagi.”

“Tidak efisien. Perusahaan kita baru digabungkan dan tengah ekspansi jadi butuh biaya tidak sedikit.”

“Kalau kamu keberatan menggaji Ayu, biar Ibu yang menggaji.”

Terdengar Pak Aryo berdecak sebelum berkata,“Bukan begitu Bu.”

“Lalu apa masalahnya? Ibu bukan setahun dua tahun menghadapi karyawan, puluhan tahun. Ibu tahu insting Ibu.”

Lalu hening. Terdengar helaan nafas Pak Aryo.

Lihat selengkapnya