Mataku menghangat, dengan kepala yang menengadah ke langit guna menahan air mata yang rasanya menjijikkan jika sampai keluar. Meski mata ini terasa sedikit basah, aku tak mengusapnya sama sekali.
Entah berapa lama pula aku harus berpura-pura kuat, padahal hati dan pikiran ini tak pernah istirahat, kecuali saat tidur.
Aku memutar tubuhku memunggungi gerbang, menunduk memperhatikan kakiku yang melangkah tanpa alas. Otakku kembali berputar, bagaimana caranya mencuri waktu milik Benjamin supaya mereka berdua tidak bertemu?
Hati dan pikiran yang tak lagi bersih ini penuh dengan umpatan yang kutahan untuk pria berkepala batu yang baru saja pergi itu—umpatan ini rasanya sudah sangat menumpuk, tapi aku harus memperluas rasa sabarku.
Ibu lantas bertanya setelah aku memasuki rumah. "Ada apa, Mia? Di mana Marcello? Kenapa dia tiba-tiba membawamu keluar?"
Aku yang berlagak seolah tak terjadi apa pun, lantas duduk kembali di samping ibu, menatap Rogero yang berada di pangkuanya.
"Dia mantanmu yang mengaku ayahnya Rogero, kan?" Tanyanya lagi.
"..."
Aku tertegun, membatin, kukira ibu tidak tahu gosipnya.
Ibu berbisik, "Siapa ayahnya Rogero? Kau tidak pernah memberitahuku," imbuhnya dengan sorot mata yang tajam.
Aku memalingkan wajah dengan gusar. "Ayahnya Rogero ... ada, Bu," jawabku lirih.
"Bukan ada, tapi siapa, Mia? Tidak mungkin kau hamil tanpa berhubungan—"
"Mungkin," sergahku menoleh cepat. Menatap mata ibu dengan sangat intens. Ternyata ibu tidak terpikirkan soal bayi tabung.
"Kau mengecewakanku, Mia. Kenapa kau tidak bisa menceritakan yang sesungguhnya? Sebegitu tidak percayakah kau pada ibumu ini?"
Aku terdiam lagi. Kalimat itu benar-benar menghantam perasaanku. Aku merasa telah menjadi anak yang durhaka, sebab telah menyembunyikan semua ini. Dan aku tak menampik, aku memang sulit untuk percaya pada seseorang.
"Maaf." Aku berhenti sejenak untuk memastikan bahwa apa yang akan kulakukan ini adalah benar, lantas aku berbicara dengan pelan, "aku ... aku benar-benar hamil tanpa berhubungan, Bu. Dan Rogero lahir dari program bayi tabung."
Akhirnya aku mengucapkannya selain kepada Eva. Namun anehnya, tidak ada rasa lega sama sekali, melainkan malah memunculkan kekhawatiran.
Iris mata yang sama cokelatnya seperti aku dan Rogero itu membulat, ibu menatapku seakan tidak percaya. "Mia ini bukan lelucon!"
"Ini memang bukan lelucon, Bu—"
"Lalu siapa mereka yang telah mengaku sebagai ayahnya Rogero? Tidak mungkin itu sebuah kebetulan."
Mataku memanas, membuang napas dengan kasar. Mengapa semua orang sama saja, Marcello, Benjamin, lalu kini ibu. Apakah privasiku ini tidak penting?