Jangan sampai Marcello menghubungimu duluan, batinku tak sabar, lantas menggigit kuku ibu jariku yang pendek.
Aku mengeluh. "Tidak biasanya dia seperti ini." Sabarlah, Mia. Pesannya baru terkirim satu menit yang lalu.
Tidak ingin lagi membuang waktu. Aku bangkit lalu masuk ke kamar mandi. Handphone tetap kubawa, di mana layarnya tetap menyala, memperlihatkan ruang chatku dengan Benjamin.
Ini sedikit konyol, tapi aku benar-benar tidak bisa mengabaikannya. Bahkan saat mandi pun aku menaruhnya di tempat yang kering—jauh dengan shower, sambil sesekali melihat tampilan pesan yang tidak kunjung berubah.
Rogero masih bersama neneknya. Ini adalah kesempatanku untuk berdandan setelah mandi. Benar, aku berdandan karena malam ini aku akan menemui Benjamin dan aku tidak boleh terlihat kacau di hadapannya, kendati ayah Rogero itu belum juga membalas pesanku, entah sedang apa dia.
Aku diam lagi menatap ke arah cermin dan terheran-heran. Apa untungnya kau mendatangi Benjamin saat ini, Mia? Bukankah kau ingin dia pergi?
Spontan aku menggeleng, melawan perasaanku sendiri. "Ini bukan soal untung atau tidak, ini mencegah segala hal yang tidak diinginkan. Benjamin memang harus pergi dari Italia, jika tidak, Marcello pasti akan mendatanginya."
Di hadapan cermin, tanganku memutar bagian bawah lipstik, lalu mewarnai bibirku sendiri dengan lipstik nude (warna natural), tidak lupa aku juga menjepit separuh rambutku dengan jepit pita berwarna hitam.
Bibirku tersenyum tipis, merapikan rambut serta kemeja marun yang kukenakan. "Ini sudah cukup," kataku, lantas berdiri menghadap standing mirror sehingga aku bisa melihat penampilanku yang utuh.

Umumnya, wanita lain akan mengenakan gaun untuk makan malam, tapi aku nyaman berpenampilan casual seperti ini.
Pandanganku seketika beralih melihat meja rias, ponselku menyala di sana—Benjamin telah membalas pesanku. Aku mengeklik namanya yang tanpa sengaja bibirku tersungging dengan sendirinya.
Benjamin:
Aku tidak sibuk, Mia.
Mau bertemu?
Dibaca.
Anda:
Kita harus bicara. Temui aku
di kafe kemarin.
Dibaca.
Benjamin:
Baiklah. Apa kau akan membawa
Rogero? Aku merindukannya.
Dibaca.
Anda:
Tidak
Dibaca.
Benjamin: