Kulihat Marcello bangkit setelah kami bertukar nomor telepon. "Semoga beruntung," ucapnya, menggeser kursi, lalu pergi berlawanan arah dengan Mia.
Sebenarnya pertemuan ini sama sekali tidak memuaskanku. Aku masih ingin mengobrol dengan Mia, tapi ia malah meninggalkanku.
Aku ingin mengejarnya, tapi Mia butuh ruang untuk memikirkan masalah hidupnya yang sedang kacau. Belum lagi ia harus mengurus Rogero. Mia benar-benar memaksaku harus memahami perasaannya.
Aku yang selalu penasaran, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Setelah Mia dan Marcello tidak terlihat lagi, aku segera melenggang, lalu masuk ke dalam mobilku yang terparkir tepat di depan kafe.
Tombol start kutekan yang seketika mobil menyala. "Mia .... tunggu aku," gumamku bersiap-siap. Tak lama mobil segera melaju ketika aku menginjak pedal gas.
Kendati di depanku kini bukan mobil Mia, tapi aku sudah tahu letak rumahnya. Kini aku benar-benar mengikuti kata hatiku—mengikutinya hanya untuk memastikan Mia baik-baik saja, selamat sampai tujuan, sekaligus mencari tempat nyaman di dekat rumah Mia, yang mungkin saja bisa kuhuni selama di Verona, meski sudah malam, tidak ada salahnya mencoba.
Dering ponsel dari dalam saku celanaku terasa bergetar, aku tahu ini adalah suara panggilan telepon. Sambil berkendara, aku merogohnya cepat. Kulihat layarnya memperlihatkan sebuah nama 'Kellan'—kakakku. Tanpa berpikir lagi, aku menjawab panggilan itu.
"Hallo." Aku mengeraskan suaranya.
"Hallo, Benjamin. Kau sibuk?" Tanya Kellan yang kini sedang berada di Seattle.
"Sedikit. Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengobrol denganmu. Benjamin aku penasaran pada putramu, kapan kau akan membawanya ke Seattle?"
"Oh ... aku tidak tahu, itu tidak pasti, Kellan."
"Kenapa? Kau tahu, ibu di sini menunggunya. Dia ingin cucunya berkumpul di rumah."
Aku terkekeh, lalu mengerem mobilku di lampu merah. "Ah ... Kellan, dia masih sangat kecil untuk bepergian jauh."
"Ah iya. Benar juga. Apa kau punya fotonya?" Aku hanya punya foto kaki dan tangannya yang viral it—"
"Tidak—oh .... Kellan, jangan bilang kau menceritakannya pada ayah dan ibu, soal berita omong kosong itu?" Ucapku, aku tidak suka sesuatu tak terduga tiba-tiba muncul begitu saja, karena aku tidak ingin membebani mereka.
"Tenang saja, mereka tidak tahu. Ayah dan ibu hanya tahu kau punya anak dari wanita Italia. Apa masalah itu sudah selesai? Kulihat media semakin gencar saja."
Mobilku melaju lagi. "Belum. Dia sangat menantangku, Kellan."