Connesso

Cano
Chapter #27

Chapter 27 - BENJAMIN'S POV

.

.

.

Aku tersenyum saat membaca pesan dari Mia. Baru saja ia mengizinkanku masuk ke dalam rumahnya, tanpa perdebatan sama sekali. Mia bilang, gerbangnya tidak dikunci. Aku yang sedari tadi berada di depan gerbang segera keluar dari mobil.

Bodohnya aku tidak membawa apa pun. Kukira di jalan tadi akan ada penjual bunga, tapi nihil. Kuharap Mia tidak protes nanti, sebab aku tidak tahu apa makanan dan minuman kesukaannya, apa warna favoritnya, apa yang tidak disukainya.

Kini aku telah sadar pada perasaanku sepenuhnya. Aku menyukainya ... ah bukan, lebih dari itu, aku mencintai ibunya Rogero. Entah sejak kapan, tapi aku bertekad akan bersungguh-sungguh mendapatkan hatinya, mengingat kami telah terhubung langsung lewat kehadiran anak, kecuali aku benar-benar tidak diinginkan, baru aku akan mundur.

Kini aku berdiri tepat di depan pintu abu-abu polos yang terang, sedangkan dinding rumah Mia bercat abu-abu gelap, sangat sesuai dengan Mia yang bila kuperhatikan ia senang dengan warna yang netral dan terkesan elegan.

Aku menyimpulkan begitu, karena aku tak pernah melihat Mia menggunakan gaun seksi feminin secara langsung—hanya di foto saja.

Aku mengangkat kepalan tanganku, hendak mengetuk pintu itu. Namun benda kayu di hadapanku ini sudah terbuka lebih dulu.

"Benjamin."

Senyum seketika tercipta di antara kami. Mia begitu sedap dipandang dan juga wanginya memikat.

"Masuk Benjamin, di sini tidak ada siapa pun. Norah sedang pergi ke pasar," katanya seraya menarik tanganku.

Kulihat Mia mengunci pintunya dari dalam, lalu menarik tanganku menuju ke kamarnya. Aku tertegun, lagi-lagi Mia mengunci pintu kamarnya, membuat hatiku menjadi tak tenang.

"Kenapa dikunci?" Bisikku, dengan lubang hidung yang nyaris mengembang, menahan perasaan rancu.

"Lihatlah, Rogero sudah tidur, hanya ada kita berdua di sini," ucapnya, lantas memutar tubuhnya menghadap standing mirror.

Entah apa yang Mia lihat, tapi aku bisa melihatnya dari belakang. Ini pertama kali aku melihatnya mengenakan gaun sundress lengan pendek berwarna hijau dengan motif bunga-bunga kecil berwarna putih.

Pikiranku bertanya-tanya, Mia, kenapa kau mendadak seperti ini? Apa maksudnya?

Kemudian Mia menghadapku lagi, mendekatkan tubuhnya ke tubuhku. Demi Tuhan Mia kau membuatku tegang. Aku juga pria normal, batinku yang seketika memunculkan suatu dorongan yang tidak bisa kujelaskan.

"Mia aku datang bukan untuk—"

"Diam dulu, Benjamin," ucapnya menyela dengan tegas namun lembut.

Aku menelan ludahku. Entah mengapa ucapan Mia membuatku ingin menuruti semua permintaannya.

Mia mendongak seolah menawarkan diri. Kedua tanganku mulai terangkat. Pelan-pelan aku mengusap rambutnya yang halus juga tengkuknya.

Mia tersenyum malu-malu, tapi tak menghindar. Kurasakan tangannya mengusap punggungku dengan pelan, dan ketika garis senyum kami mendekat, terdengar pula suara tangis Rogero membuyarkan kami berdua, yang seketika menoleh melihat keranjang bayi.

Mia menoleh cepat ke arahku, lalu kami terkekeh lagi, ia melepas pelukan yang sempat terikat, lalu menghampiri Rogero yang ternyata tak nyaman karena popoknya terasa penuh.

"Kau mau membopongnya, Benjamin?" Tanya Mia, lantas memindahkan Rogero ke kasur.

Rogero tetap menangis dengan kaki dan tangan yang terus bergerak.

"Sebentar ya, sayang," ucapnya dengan lembut. Mia mengganti popok itu, sedangkan aku hanya diam memperhatikan Mia yang terlihat sangat keibuan. Meski aku merasa sedikit payah karena tak tahu cara merawat bayi.

Setelah popoknya diganti, tangisnya mulai mereda. Mia membopongnya lagi, lalu menyerahkannya padaku. "Pelan-pelan, Benjamin," ucapnya.

Lenganku sedikit bergetar, aku takut Rogero jatuh, jadi aku merengkuhnya erat-erat. Aku menunduk, tapi mendadak wajah Rogero terlihat tidak jelas dan buram. Aku terus mengedipkan mataku, dengan harapan keburaman ini pergi, tapi nihil.

"Mia ... ah ... mataku ..."

"Kenapa, Benjamin?"

"Mataku kenapa?"

Lihat selengkapnya