Connesso

Cano
Chapter #28

Chapter 28 - BENJAMIN'S POV

Mia kembali lagi, kini di tangannya ada nampan berisi teko bening yang sepertinya itu adalah teh serta dua cangkir yang masih kosong. Pelan-pelan ia meletakkannya ke meja, lalu duduk di sampingku.

Kecanggungan ini membuatku beringsut sedikit, karena kurasa jarak kami ini terlalu dekat. Kulihat Mia menuangkan tehnya ke masing-masing cangkir, lalu menaruh satu cangkir tepat di hadapanku.

"Jangan senang dulu," celetuknya tiba-tiba.

Aku menoleh cepat. "Tidak boleh? Ini kan keinginanku."

"Aku hanya tidak suka jika kau tertangkap kamera, itulah kenapa aku memintamu masuk." Mia menyesap teh hangatnya, lalu mendelik ke arahku.

"Apa pun alasannya, aku tetap senang. Terima kasih sudah mengizinkanku masuk. Di mana Rogero?" Tanyaku tanpa basa-basi.

"Jadi itu tujuanmu?"

"Aku ingin melihatnya, Mia."

"Aku tidak mengizinkannya."

"Kenapa?"

"Aku tahu kau mau membawanya pergi, kan?" Tuduhnya tiba-tiba.

"Membawa? ... Apa maksudnya? Aku benar tidak mengerti."

Mia memalingkan wajahnya. "Kau boleh jujur di sini, Benjamin. Apa tujuanmu selalu datang padaku? Kau ingin membawa Rogero, kan? Iya, dia memang anakmu."

Aku terdiam sejenak, mencerna kalimat yang Mia ucapkan. "Jadi ini alasanmu selalu menghindariku?" Mataku terpejam, merasa lucu pada prasangka Mia.

"Mia aku tidak pernah ada sedikit pun niat merebut Rogero darimu. Dia anakmu, dia ... anak—anak kita berdua, dan kau yang melahirkannya."

"Bohong!"

"Bohong apa?"

"Kau sudah mengincarnya sejak Rogero belum lahir. Aku masih ingat, kau selalu memintaku untuk melakukan panggilan video hanya untuk melihat keadaan perutku, kan? Kau selalu meneleponku, menanyakan alasan, mengapa aku tidak mengunggah apa pun di media sosial, dan kau selalu menjadi seseorang yang terlalu peduli padaku. Untuk apa lagi kalau alasannya bukan untuk merebut Rogero? Kau adalah pria yang kaya, hukum pun bisa kau patahkan dengan uang," ucapnya begitu jelas.

Mia mengingat semuanya, dan kalimat terakhirnya sungguh aku tak pernah terpikirkan Mia akan berkata begitu.

"Mia, sejelek itukah pikiranmu?"

Mia menoleh, matanya memerah bening seperti akan ada air yang tumpah, hidungnya juga memerah.

Lihat selengkapnya