Connesso

Cano
Chapter #29

Chapter 29 - BENJAMIN'S POV

Aku membuka mataku yang sudah basah, lalu mengusapnya pelan. Tapi Mia malah tertawa di sampingku.

"Apa yang lucu?" Akhirnya aku terkekeh juga, lebih tepatnya terkekeh karena malu. Ini pertama kalinya aku menangis bahagia di hadapan seseorang.

"Perasaanku juga sama sepertimu," ucapnya.

"Perasaanku yang mana?"

"Oh bukan—maksudku ... kau terharu karena Rogero, kan?" Kulihat Mia bicara seperti orang yang canggung. "Aku juga merasakan itu. Kita sudah jadi orang tua," imbuhnya.

"..."

Kupikir kau akan menjawab, soal perasaanku yang tadi, pikirku terlalu percaya diri, yang untung saja tidak kuucapkan.

Kurasa kalimat itu akan lebih manis bila diucapkan oleh orang tua Rogero yang sudah menikah, bukan? Tapi sampai saat ini, aku tak mendengar jawaban Mia soal perasaannya padaku.

"Apa Rogero akan punya saudara yang lain?"

Mia menoleh cepat. "Maksudmu?"

"Ah ... lupakan, tidak usah dipikirkan," kataku tidak enak.

Aku tahu, Mia pasti mengerti maksud dari perkataanku. Aku memang sengaja menanyakannya—bila di kemudian hari, mungkin Mia akan menikah dengan pria lain. Jika benar begitu, berarti aku dapat menyimpulkan bahwa Mia memang tidak menyukaiku. Sadar diri dalam asmara itu sangat penting.

Mia tak berucap, ia lantas bergegas ke dapur, meninggalkanku yang sedang sibuk bermain dengan Rogero—menggoyang-goyangkan kaki mungilnya ke pipiku, disusul dengan ocehannya yang tidak jelas.

"Rogero, papa di sini," bisikku sangat pelan, lalu menciumi pipinya. Sengaja agar tidak terdengar oleh Mia. Entah kenapa rasanya sedikit aneh jika aku mengatakannya di depan Mia.

Mendadak aku tidak ingin pulang ke mana-mana, aku betah di sini, di rumah Mia, padahal aku baru duduk beberapa jam yang lalu. Semua ini karena Rogero—penghubung yang nyata antara aku dan Mia.

Aku mencondongkan wajahku ke depan bayi mungil ini, dengan niat agar Rogero bisa terbiasa melihat atau mengenal wajah ayahnya, tapi bukan tawa yang kudapat, melainkan tangisan.

"Sshhhh ..." Aku menepuk-nepuk pelan pinggulnya, sembari melirik ke arah pintu tengah, memastikan agar Mia tidak datang dengan wajah panik.

"Mama akan datang sebentar lagi," kataku mengoceh sendiri.

Dan benar saja, Mia datang sambil membawa satu dot susu yang terisi penuh. Ia duduk di sampingku. Bersama-sama kami saling menyodorkan—Mia menjulurkan dotnya, sedangkan aku hendak menyerahkan Rogero.

"Kau saja yang pegang," katanya.

Aku yang mengerti maksud Mia, lantas mengambil dot itu, lalu memberikannya pada Rogero, meski tanganku benar-benar kaku dan sedikit gemetar saat memasukkannya, aku hanya takut melukainya.

Bibirku terlipat ke dalam, aku mendengar suara tegukan dan napas Rogero, yang katanya ini adalah suara yang akan selalu dirindukan oleh orang tua di seluruh dunia. Tangan kecilnya yang semula tak mau diam itu kini hanya bergerak pelan.

Lihat selengkapnya