Connesso

Cano
Chapter #30

Chapter 30 - MIA'S POV

Benjamin pulang tepat pukul sebelas malam. Seharian penuh ia berada di rumahku. Rogero adalah tujuan utamanya dan ketika anak kami tidur, di situlah kami melakukan adegan sewajarnya—mengobrol bersama selayaknya orang berpacaran, lalu makan, tertawa bersama.

Kutatap wajah Rogero yang tengah tertidur begitu damainya. Hingga saat dicium pun aku menghirup aroma bayi yang bercampur dengan aroma parfum Benjamin—menempel di jumper-nya Rogero.

Tanpa kusengaja, berlama-lama dengan Benjamin membuatku melupakan ponsel, meski hanya sekejap saja tapi berhasil membuat kabar-kabar penting terlewat.

Jariku berkutat di atas layar, kulihat ternyata gosip-gosip itu masih belum juga reda—aku masih melihat akun media sosialku selalu terseret di kolom komentar orang-orang.

Aku mengeklik pesan masuk, yang mana sudah ada beberapa pesan dari orang-orang terdekatku, dan nama Marcello sudah berada di paling atas saja dengan rentetan pesan yang dari tadi siang belum kubaca sama sekali.


Marcello:

...

Tampaknya kau sedang ada tamu.

Lama sekali tamunya.

Apa aku harus memaksa masuk?

Memanjat lagi?

Mia kau sedang apa dengan Benjamin?

Dia benar-benar penuh kejutan rupanya.

Dia pulang jam sebelas malam?

Jangan bilang kau selesai bercinta

dengannya.

Dibaca.


Menjijikkan sekali dia, batinku. Aku sama sekali tak ingin membalas pesannya. Kutekan namanya sebentar, lalu muncullah beberapa pilihan—logo tempat sampah menjadi pilihanku saat ini.

Marcello kini terlihat lebih menyebalkan dari hari-hari sebelumnya. Aku sampai tidak mengerti, mengapa dulu aku sempat mencintainya.

Aku mengusap wajahku, malas. Layar yang sedang kuperhatikan ini mendadak berubah menjadi panggilan masuk dari pria gila yang baru saja menuduhku bercinta dengan Benjamin.

Tidak ingin membalasnya sama sekali, lantas kutaruh ponsel ini di bawah bantal, supaya aku tidak dapat mendengarnya lagi.

---

Duduk di ruang tamu dan menghadap ke arah jendela, di mana cahaya pagi belum sepenuhnya masuk ke dalam rumah. Kutatap dua roti yang mengimpit selai aprikot, di sampingnya ada buah apel dan butiran biji delima, tak lupa dua sendok yoghurt juga mendampingi sebagai pelengkap—sarapan pagiku yang sederhana, manis dan sedikit asam.

Berbekal tubuh yang prima, dan merasa sudah sangat sehat, pukul tujuh pagi ini aku sudah selesai bersiap-siap dengan gaya formal, karena hari ini aku akan datang ke kantor.

Dan ini adalah pertama kalinya aku menitipkan Rogero selain pada anggota keluargaku sendiri—kepada Norah, yang sudah kembali ke rumah, meski sebenarnya hatiku sedikit menganjal, tak ingin meninggalkan Rogero.

Aku bangkit setelah meneguk air bening, lalu membawa piring dan gelasnya ke dapur, ada Norah di sana.

"Norah, sebenarnya aku tidak ingin lama berada di luar. Kabari aku dua jam sekali soal Rogero, ya. Dan tutup semua pintu, jangan buka gerbang sebelum aku benar-benar kembali," titahku.

Norah mengangguk ramah. Aku yang bersemangat lantas keluar rumah setelah mencium pipi Rogero.

Langit Verona pagi ini biru cerah, suhunya tak terlalu sejuk pula tak panas, penampakan pagi ini sungguh sedap dipandang bila dilihat dari jarak jauh. Pohon yang bercokol sejajar, daun hijaunya rimbun menjulang, terlihat subur.

Aku menghembuskan napas dengan kasar sebelum akhirnya melangkah menuju garasi. Mobil kunyalakan, setelah dirasa tidak ada benda yang tertinggal, aku memberanikan diri keluar meski gosip dan hinaan terus terketik, seakan aku tidak peduli pada paparazi.

Benjamin, aku berusaha mengikuti apa yang kau sarankan kemarin, gumamku dalam hati, lantas keluar dari area rumah.

Aku sadar, saran dari Benjamin memang mirip dengan saran Marcello, tapi entah mengapa saran Benjamin lebih bisa kuterima dibanding Marcello. Apa karena perasaanku yang mulai mempercayai Benjamin? Atau karena aku tidak suka pada Marcello? Mereka benar-benar sangat berbeda.

Di tengah perjalanan, bibirku tersungging dengan sendirinya, membayangkan hari kemarin—untuk pertama kalinya Benjamin berkunjung begitu lama, yang mungkin saja Rogero akan merindukan kehadirannya lagi.

Hatiku berkata, yang akan merindukanmu Rogero atau dirimu sendiri, Mia?

Aku menyengir, mengabaikan kata hatiku, lalu terbayang tiga kata yang berhasil membuat hatiku berantakan, yaitu 'Mia aku mencintaimu' katanya.

Aku terkekeh pelan, lantas menggeleng tak ingin percaya. Pikiranku membayangkan senyumannya, candaannya, suaranya bahkan gendongannya yang kaku saat membopong Rogero.

Batinku bertanya lagi, kau menyukainya, Mia?

"Tidak," gumamku menolak, menjawab batinku sendiri.

Lihat selengkapnya