Di hadapanku, Marcello beranjak hendak mengejar Mia, tapi aku menahan lengannya. "Biarkan dia ... kita belum selesai, Marcello," kataku, lantas menatap wajahnya. Dua hari yang lalu, kami memang sudah merencanakan pertemuan ini.
Ia melepas tanganku sedikit kasar, lalu kembali duduk di kursinya. "Dia pergi, padahal ini kesempatan untuk menentukan tanggalnya."
"Aku yang akan menentukan."
Marcello mendecih, garis wajahnya penuh ejekan. "Kenapa kau yang menentukan?" Tanyanya.
"Mia sudah percaya padaku."
"Hanya karena seharian berada di rumah Mia, kau sudah sangat sombong."
Aku menyengir. "Terser—"
"Apa yang kau lakukan di rumahnya?" Selanya.
"Menurutmu apa yang dilakukan oleh dua orang dewasa, di rumah yang sepi?"
"..."
Perlahan aku menyesap kopi, tersenyum tipis dibalik cangkir sembari menatap wajahnya yang mendadak keheranan, yang mungkin saja pikirannya sangatlah kotor. Lantas pandanganku beralih melihat tangannya yang mengepal di atas meja.
Sungguh ini adalah pemandangan yang sangat menyenangkan, kataku dalam hati.
"Aku tidak percaya," balasnya santai.
Aku terkekeh lagi. "Kau benar-benar memikirkannya? ... baiklah ... adiknya Rogero akan segera datang."
Marcello mendelik, raut wajahnya berubah datar. "Omong kosong. Kau hanya berusaha membuatku marah."
"Bulan depan," kataku sambil membenarkan jas.
"Apanya?"
"Tes DNA."
"Kenapa lama sekali?"