Connesso

Cano
Chapter #32

Chapter 32 - MIA'S POV

Sudah menjadi penyakit orang dewasa—merebahkan diri tak melakukan apa pun, dengan pandangan yang kosong, tapi pikiran benar-benar bercabang. Ah ... kebebasan beban pikiran adalah privilege, yang bahkan orang kaya pun tidak bisa lepas.

Sambil menyusui Rogero di sofa, lebih tepatnya pukul lima sore, mataku tak lepas dari menatap ponsel. Menunggu Benjamin menghubungiku duluan.

Iya. Dia harus menghubungiku duluan atas pernyataan ambigunya. Aku mendengar itu semua dari Marcello. Kami berdebat kemarin, pria gila itu tiba-tiba datang, lalu marah-marah seolah aku ini masih pacarnya.

Kedatangannya benar-benar memvalidasi prasangkaku, bahwa aku dan Rogero adalah topik pembicaraan mereka kemarin sore.

Aku masih bersandar pada sofa, setelah beberapa menit yang lalu menyantap makanan, kini mataku terasa begitu berat. Kulihat Rogero juga sudah tertidur. Aku beringsut sedikit, membenarkan pakaianku. Tentu saja tanganku ini memeluk Rogero, tapi tangan kananku terus memegang ponsel.

Kepalaku bersandar ke sofa, perlahan mataku terpejam, namun sesaat aku merasakan getaran pada tanganku, membuatku mengerjapkan mata berkali-kali.

Bibir ini tersungging ketika melihat nama Benjamin terpampang di layar handphone-ku.

Ibu jari ini juga nyaris menekan tombol hijau berlogo panggilan diangkat, tapi kutahan. Bibirku terlipat ke dalam, menimang segala kemungkinan yang akan dia katakan.

Jangan diabaikan, Mia. Bukanya ini yang sedari tadi kau tunggu-tunggu?! Batinku geram.

Entah mengapa rasanya senang membuatnya harus menunggu, kendati aku hanya berpura-pura sibuk nantinya.

Kulihat panggilan itu berakhir. Perasaanku kembali menghardik, bodoh kau, Mia. Bagaimana kalau dia tidak menelepon lagi?

"Ah benar juga ..." Aku beringsut lagi, duduk dengan posisi yang benar, menyandarkan handphone pada vas bunga, lalu membatin lagi, Benjamin .. ayo telepon lagi.

Aku menelan salivaku, tak lama ponselku kembali menyala tapi tidak bergetar lama—Benjamin malah mengirim pesan.


Benjamin:

Ibunya Rogero sedang sibuk?

Tidak ada di rumah, ya?

Baiklah aku akan putar balik.

Dibaca.


"Ah ... ya ampun." Aku mendongak, tersenyum. Dia sudah di depan? Aku lantas membalas pesannya:


Anda:

Kenapa tidak bilang?

Dibaca.


Benjamin:

Kenapa tidak diangkat?

Dibaca.


"Sial! Aku ketahuan," gumamku, lantas menatap Rogero yang masih tertidur. Ia mengirim pesan lagi.


Benjamin:

Maaf. Aku tahu kau sibuk.

Kau pasti jenuh di rumah.

Dibaca.


Anda:

Lihat selengkapnya