Aku masih tidak percaya. Di hadapanku, tubuh mungil Rogero yang beraroma sabun bayi bercampur aroma susu ini begitu menggemaskan. Aku bisa melihat mulutnya yang belum ditumbuhi gigi itu bergerak, lidahnya keluar, tubuhnya menggeliat ringan.
Aku memegang kedua tangannya yang sengaja kugesekkan ke pipiku yang ditumbuhi bulu-bulu halus-ingin membuktikan perkataan ibunya, apakah benar Rogero kegelian atau tidak.
"Aku tidak tahu, mengobrol dengan bayi ternyata seseru ini," gumamku, lantas menciumi pipi Rogero.
"Rogero apa kau kedinginan, hmm?"
Aku memeluknya ke dalam dekapanku, karena kini kami sedang duduk di luar rumah, berhadapan dengan suasana malam hari Kota Verona, dan aku yakin dekapanku ini hangat.
"Kau tidak boleh sakit, sayang." Aku bangkit lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
Pas sekali, Mia datang sambil membawa sesuatu. Kami berhadapan lagi, Mia memasang benda itu ke tubuhnya aku tidak tahu apa namanya, tapi itu seperti gendongan bayi.
"Letakkan di sini," titahnya padaku, sembari melonggarkan gendongan.
Aku menurutinya, perlahan dan pasti aku menyerahkan Rogero ke pangkuan Mia. Aku terus mengamati wajahnya yang tak biasa kupandang, sambil tersenyum ia mengusap-usap rambut kepala Rogero.
Mia lantas mendongak, mata kami bertemu lagi, dan kali ini Mia tak berpaling. Aku melihat mata cokelatnya, pipinya yang merona, hidungnya, bibirnya, dagunya, lalu terakhir aksesoris yang melingkar tipis di lehernya, ada huruf M di sana, di samping kepalanya Rogero.
"Benjamin, apa yang kau lihat?" Tanyanya.
Aku yang masih tetap fokus, lantas memberinya senyuman. "Tidak ada, ayo berangkat."
Mia melenggang keluar, sampai-sampai tanganku yang hendak meraih tangannya itu dilewati begitu saja. Bibirku terlipat ke dalam, geram. Demi Tuhan ini terjadi begitu saja, seolah tanganku punya perasaan—dia bergerak sendiri.
Aku menyusulnya keluar setelah menutup pintu rumah.
"Ini pertama kalinya Rogero keluar," kata Mia sambil melihatku sekilas. Ia tampak berbahagia, seolah aku ini adalah suaminya. Ah ... sial! Aku terlalu percaya diri.
Kulihat tangan halusnya membuka pintu mobil belakang. Demi mencegah itu terjadi, buru-buru aku menahannya.
"Kenapa di belakang, Mia?"
"Memangnya kenapa? Aku mau duduk di belakang, supaya Rogero bisa kuletakkan di sampingku," katanya.
Ah ... iya juga, tapi aku mau Mia duduk di sampingku. "Kenapa harus tidur di jok? Kita kan mau melihat rumah, kita bisa beristirahat di sana. Jadi kau duduk di depan saja."
"Memangnya rumahmu sudah dibersihkan?"
"Sudah, pemilik sebelumnya yang membersihkan."
"Memangnya di sana sudah ada kasur?"
"Belum ada, Mia. Kenapa? Kau mau tidur denganku?-Ah tidak, maksudku ... menginap."
Sial! Kewarasanku mendadak hilang, mulutku terkatup ke dalam dan mataku berpaling melihat langit. Jika tidak ada Mia, tanganku ini pasti sudah melayang ke bibirku.
Bukan omelan atau gerutuan yang kudengar, Mia malah tertawa kecil. "Jadi kau mau aku menginap?" Tanyanya.
Iya, Mia, aku mengaku di dalam hatiku, kendati aku tidak pernah memikirkan hal ini sedikit pun. Aku menyengir lagi. Perkataannya biasa saja tapi kenapa, ini terasa sulit untuk kujawab.
"Kau mau atau tidak?" Jawabku berbalik tanya.
Aku melihat senyumannya lagi, yang entah ke berapa kali ia menyumbangkan senyumannya.
"Kau tidak bertanya," balasnya.
"..."
Ah ... ya ampun, Mia ... kau benar-benar-baiklah aku akan bertanya sekarang. "Jadi kau mau menginap di rumahku atau tidak?"
"Tidak."
"..."
Lihat. Jawabannya begitu singkat dan jelas. Aku suka sekali. Aku jadi menyesal bertanya, apa wanita selalu begini? Pantas saja banyak pria yang gemas dengan wanitanya.