Kulihat orang itu tak memperpanjang masalahnya. Ia benar-benar mengambil alih antreanku. Sedangkan aku tidak jadi memesan makanan.
Mia menepuk-nepuk pelan Rogero yang masih menangis, lalu hendak berjongkok membersihkan makanan yang berserakan. Tapi aku mengangkat tangannya yang nyaris menyentuh lantai.
"Tidak apa-apa, sayang. Biar aku saja yang bersihkan," kataku pada Mia.
Aku berjongkok dengan cepat, memunguti makanan yang berserakan dan memasukkannya ke dalam wadah. Namun tampaknya Mia tak menggubris kata-kataku, ia malah berjongkok lagi.
Kenapa kau berjongkok, Mia? Kau tidak dengar anak kita menangis? Gerutuku tak kuucapkan. "Masuk ke mobil sekarang, Mia," titahku berbisik tegas tanpa menoleh.
Mia menghentikan tindakannya, lalu menatapku. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi wajahnya. Tapi Mia bangkit, lantas pergi ke luar dari restoran.
Bagus.
Aku yakin dia tidak marah, dan kali ini aku senang dia menuruti apa yang kuinginkan. Selesai memunguti, aku segera membuangnya ke tempat sampah lalu mencuci tanganku. Aku benar-benar berniat membersihkan sisanya dengan mengepel, namun kulihat lantainya sedang dibersihkan oleh karyawan restoran.
"Terima kasih," ucapku, lantas keluar menyusul Mia.
Aku tidak marah, tapi aku khawatir Mia salah memahami kata-kataku. Kubuka pintu mobil depan, namun kulihat Mia sudah duduk di jok belakang. Kututup kembali pintu itu, lalu beralih, masuk ke jok belakang—duduk di samping Mia.
"Maafkan aku, Benjamin," ucapnya lirih.
Aku tersenyum tipis, lega, ternyata Mia tidak marah. Dan kulihat Rogero sudah berhenti menangis, tapi kepalanya ditutup kain, aku mengerti karena Mia sedang menyusuinya.
"Tidak apa-apa, Mia. Maaf karena telah sengaja menyebutmu begit—"
"Iya, aku mengerti." Kulihat Mia menutup matanya sebentar, bibirnya terlipat ke dalam seperti sedang menyesali sesuatu. "Aku juga minta maaf sudah memanggilmu begitu di depan umum," susulnya.
Aku terkekeh pelan. "Justru senang kau berkata begitu, Mia."
"Ini semua salahku. Seharusnya aku tidak datang ke sana."
"Iya, kau salah. Seharusnya sejak awal kau ikut."
"Lalu kita pura-pura menjadi suami dan istri, begitu?"
Kami terkekeh bersama, seakan tidak keberatan pada kepura-puraan yang baru saja terjadi. Aku berdoa kepada Tuhan, agar momen-momen yang serupa seperti ini tidak cepat hilang di antara aku dan Mia.
"Selain aku, ada satu orang yang tidak keberatan pada kepura-puraan kita tadi," kataku.
"Siapa?"
"Rogero."
Mia mengangguk pelan. "Ah, iya ... kau benar lagi. Benjamin aku baru ingat ... saat kau berbicara dengan Marcello kemarin, kau berbohong lagi," ucapnya tidak jelas.
"Berbohong?"
"Iya. Kau bilang Rogero akan punya adik."
"..."
Aku terdiam, tapi tidak kosong, tidak pula lupa pada perkataan itu. Aku tersenyum tipis, kupikir Mia akan marah, tapi ternyata ibunya Rogero ini malah terkekeh.
"Iya, mungkin saja, kan?" Ucapku.
Mia yang semula terkekeh, kini wajahnya mengendur. Ia menatapku dengan sungkan. "Iya, mungkin kalau kau menikah dan punya anak. Rogero akan punya adik."
"Kenapa kau tidak mengerti juga, Mia?"
"Apa?"
"Aku membicarakanmu, bukan wanita lain."
"Tapi sepertinya ini bukan topik yang benar. Membicarakan adik Rogero, aku dan juga kau ..." Mia menggeleng, seolah mengelak. "Ini semua terlampau jauh untuk dicapai, tidak mungkin kan aku hamil anakmu lagi dari program yang sama. Bagiku Rogero saja sudah cukup," ucapnya, lantas mencium Rogero.
"..."
Dan itu adalah jawaban yang sangat masuk akal. Tapi maksud dari perkataanku bukan ke sana, melainkan soal perasaan. Harus bagaimana lagi aku memberimu petunjuk, Mia? Gumamku tak terucap.
Rasanya aku seperti sedang tersesat di dalam rumahku sendiri. Nyaman tapi aku tidak tahu harus pergi ke mana. Mia benar-benar membuatku gila.
"Jadi, apa kau masih menahan rasa buang air?" Tanyaku tiba-tiba mengalihkan topik ke awal permasalahan. Mengingat Mia tadi ingin meminjam kamar mandi restoran.
"Sudah tidak, aku bisa menahannya. Kalau begitu sekarang kita ke rumahmu saja, kasihan Rogero sudah mengantuk."
"Tapi kita belum makan. Baiklah kita ke restoran lain saja, ya."
"Tidak usah, kita pesan deliveri saja, dan kirim alamatnya ke rumahmu."
"..."
Aku menuruti saran Mia yang sangat masuk akal itu. Tanpa paksaan, hanya kedewasaan yang mengontrol pikiran kami, rasanya sudah cukup untuk menjadi manusia yang waras. Dan aku senang Mia memahaminya.
Aku mengemudi di jok depan, sedangkan Mia dan Rogero tetap di belakang. Kendati begitu, entah mengapa kami yang berbeda tempat duduk ini, rasanya seperti sedang berjauhan. Aku tak bisa menjangkaunya langsung dengan mataku, selain menggunakan kaca spion tengah.
Sepanjang jalan pun kami tidak mengobrol. Kulihat Mia masih menyusui Rogero sambil memainkan ponselnya yang kadang berdering.
Ya. Aku mendengarnya yang kadang dering itu tersendat, sepertinya Mia me-reject panggilan dari seseorang. Jangan-jangan Marcello? Tebakku dalam hati.