Di hadapanku, laptop menyala bersanding dengan kalender dan juga vas bunga di ruang kerjaku, yang hanya satu petak namun luas.
Pukul sepuluh siang ini, aku sedang memantau meeting yang Maria pimpin, karena aku tidak datang ke kantor, dan ini adalah rutinitasku selain mengurus Rogero.
Tidak ada yang aneh, seperti biasa, aku mendengar argumen-argumen itu—saling melempar laporan positif. Ini cukup melegakan, kendati aku harus berdandan selayaknya datang ke kantor.
Di sana Maria berucap, "Terima kasih, atas pertemuan yang tidak pernah memuaskan ini. Laporan terbaik akan selalu kami harapkan."
Aku tersenyum tipis, ketika semuanya berdiri dan Maria menoleh ke arahku—lebih tepatnya ke arah kamera yang dapat kulihat secara real time. Virtual meeting pun berakhir.
Laptop kututup setelah kumatikan. Aku segera menghubungi Eva dan mengirimnya pesan singkat.
Anda:
Aku ke rumahmu sekarang.
Terkirim.
Beberapa bulan kami tidak bertemu, dan aku sangat merindukannya. Eva bilang, ia telah melahirkan bayi perempuan beberapa hari setelah kelahiran Rogero. Dan aku sudah melihatnya dari foto yang Eva kirim. Bayinya sangat cantik.
Aku bangkit memasuki kamar dan mengganti pakaianku menjadi setelan santai namun sopan—memakai kaos polo hijau sage dipadukan dengan celana beige panjang, juga tatanan rambut yang kubiarkan tergerai tanpa aksesoris.

Bukan sombong, tapi sungguh aku merasa cantik hari ini. Rapi dan juga wangi. Aku berpikir, seharusnya kemarin malam aku berdandan begini.
"Ah tidak, kenapa kau malah menyesal, Mia?" Gumamku tersadar.
Aku menoleh melihat meja rias, di sana ponselku menyala sekejap. Tanganku dengan cepat menyambarnya, segera melihat pesan masuk itu.
Eva:
Kemarilah, Mia sayangku, aku merindukanmu. Aku berharap kau membawa anakmu juga. Aku ingin melihatnya.
Dibaca.
Aku menyengir lagi, lantas membalas pesannya.
Anda:
Maksudmu kita berdua akan pamer bayi?
( '∀')
Dibaca.
Eva:
Iya, sepertinya begitu ( ^▽^)
Itu pun kalau kau izinkan.
Dibaca.
(...)
Aku sudah selesai dan tinggal berangkat, tapi aku bimbang untuk membawa Rogero atau tidak. Ya memang, anakku itu tidak rewel, tapi ... "Ah ... lebih baik tidak usah, nanti saja kalau Rogero sudah sedikit besar, baru akan kubawanya jalan-jalan," gumamku lantas keluar kamar.
Kulihat kini Rogero sedang bersama Norah di ruang tamu. Melihatnya, hatiku menjadi bimbang lagi. Apakah salah, aku sudah jadi ibu tapi masih suka main tanpa membawanya? Aku bisa membayangkan yang mungkin saja Rogero berkata begini, 'ibu kenapa tidak membawaku pergi seperti semalam? Apakah aku ini benar-benar beban kebahagiaanmu?' Ah ... wajahku malah jadi sendu. Rogero tidak salah apa-apa, ini hanya soal egoku saja.
"Norah, aku titip Rogero, sebentar. Aku mau melihat bayinya Eva."
Dan itu adalah keputusan yang sama saat aku meninggalkan Rogero untuk pergi ke kantor, sedikit berat bagiku karena alasan kali ini tidak terlalu penting dan bersifat hiburan. Rogero, ibu berjanji tidak akan lama, sayang. Segera aku keluar dari rumah dan masuk ke mobil setelah menciumi wajahnya yang harum.
Aku memacu mobilku keluar dari pelataran rumah, menuju rumah Eva. Tidak lupa aku mampir dulu ke toko, membeli hampers untuknya. Memang tidak spesial, tapi bisa sangat berarti untuk seorang ibu-hanya berisi selimut bayi, satu baju bayi, bunga mawar pink dan sepotong dessert untuk Eva.
Melihat pakaian bayi yang baru saja kupilih, aku tak menampik—juga ingin seorang anak perempuan. Aku bisa membayangkan bagaimana saat aku mengikat rambutnya yang panjang, mendandaninya, dan sepertinya akan ada banyak mainan boneka barbie jika hal itu terjadi.
Tapi Tuhan memberiku Rogero—bayi laki-laki yang sudah menjadi takdirku. Dan aku yakin, ini bukan kebetulan. Tuhan yang Maha Baik tahu, aku tak punya suami, jadi mungkin saja Rogero hadir untuk menjadi perisai di hidupku. Indah bukan?
Jikalau menginginkan bayi perempuan, mudah saja, aku tinggal menganggap bayinya Eva adalah anakku juga.
Aku tersenyum lega, betapa mudahnya hidup jika kita tidak mempersulit keinginan-keinginan kita yang tidak berbenturan dengan hukum alam.
Tidak lama aku menyetir, kini aku berhenti di parkiran umum. Karena rumah Eva tidak bisa masuk jalur mobil. Aku keluar, lalu berjalan kaki dengan santai sambil menenteng bunga dan hadiah di tanganku, yang kini terlihat begitu penuh, tapi aku tetap nekat untuk meneleponnya saat ini juga.