Connesso

Cano
Chapter #38

Chapter 38 - MIA'S POV

Malam ini, aku benar-benar tak berniat untuk menggodanya atau apa pun itu, tapi balasan yang kubaca dari Benjamin sungguh membuatku tak bisa berkata-kata—tidak ingin mengatakan 'tidak', namun tak ingin pula mengatakan 'ya'. Jadi sebenarnya aku ini kenapa?

Jika aku mengatakan 'ya', Benjamin sudah pasti tidak akan main-main dengan ucapannya, dan apa jadinya jika kami punya foto keluarga? Ah tidak, maksudku ... foto bersama.

Tapi jika aku bilang 'tidak' Ah ... aku tidak mau mengatakannya, tapi aku penasaran, bagaimana penampakan kami jika bersanding bertiga dengan Rogero?

Aku mengusap wajahku yang payah ini. "Dia pasti sedang menunggu balasanku," gumamku, lantas menatap ponsel yang layarnya telah menghitam.

Sejujurnya Aku ingin membalasnya, tapi aku tidak ingin salah menjawab. Rogero, ayahmu sungguh memusingkan, batinku sambil menatap Rogero yang sudah tertidur.

Ini adalah kesekian kalinya Benjamin membuat perasaanku tak karuan. Kutaruh ponsel di atas nakas—memilih untuk mengabaikannya saja, yang mungkin ini lebih baik.

---

Siang ini. Lebih tepatnya pukul sebelas siang, di Kota Verona, dadaku ini rasanya tak karuan, memacu mobil penuh dengan rasa malas, kendati aku tahu ini adalah hari yang sangat penting, bukan tentang siapa yang menang. Melainkan siapa yang akan tersisa setelah kebenaran keluar.

Benjamin dan Marcello telah mengabariku beberapa menit lalu, katanya mereka sudah sampai di rumah sakit, lebih tepatnya di depan ruang loket administrasi laboratorium, yang katanya ada di lantai lima.

Aku bisa membayangkannya, mereka duduk bersama di kursi tunggu sambil membawa segudang data pribadi mereka masing-masing. Tidak ada lagi yang kutakutkan, dua pria dewasa itu tidak mungkin beradu mulut seperti kemarin.

Demi Tuhan, di mataku mereka terlihat sama saja, seperti adik dan kakak yang sedang merebutkan mainan yang sama. Tapi Rogero bukan mainan. Apa jadinya jika di masa depan Rogero tahu hal ini, ah ... dia pasti akan merasa terhina nantinya. Tapi ini sudah terlanjur basah, aku akan menyelam saja.

Mobilku berbelok memasuki area rumah sakit dan memarkirkannya di samping kendaraan lain. Kutarik tasku, lalu mengunci pintu mobil setelah keluar dari sana.

Aku membuang napas dengan kasar setelah melihat nama rumah sakit yang terpampang jelas—Ospedale San Marco—rumah sakit terbaik dan terbesar di Verona, yang akreditasinya tak perlu diragukan lagi. Aku pernah sekali masuk ke sini, itu pun hanya menjenguk rekanku yang sedang sakit.

Tanpa berlama-lama lagi, aku mulai berjalan dengan santai sambil menenteng tas berisi data pribadi. Anak-anak rambut di kepalaku, yang tak terikat ikut terembus terkena angin ringan.

Kali ini, gaya rambutku memang sedikit berbeda dari biasanya—rambut ini kuanyam satu dengan rapi, mengenakan atasan kemeja salur beige dan celana panjang bahan berwarna putih. Menurutku ini cukup sopan.

Segera aku memasuki lobi utama, terus berjalan lurus menghampiri lift yang berada di paling ujung koridor. Aku mengingat-ingat 'loket administrasi laboratorium, lantai lima' setelah berhasil masuk ke dalam lift.

Dan ternyata kebetulan sekali, lift ini terbuka terlebih dahulu di lantai lima. Aku segera keluar dari sana, menengok ke kanan lalu ke kiri, lalu berjalan dan berhenti lagi di persimpangan. Tepat di koridor sebelah kiri, aku melihat dua orang pria sedang duduk di depan satu ruangan.

Itu mereka?

Yang pertama kali kulihat adalah Benjamin, yang juga sedang menoleh ke arahku. Aku membetulkan tasku di pundak, lalu berjalan mendekat. Marcello ikut menoleh, ia berdiri dan tersenyum.

Kupercepat langkahku, merasa bersalah telah membuat kedua pria ini menunggu. "Maaf aku terlambat, kalian berdua sudah daftar?" Tanyaku yang entah pada siapa, tapi pandanganku tertahan sejenak pada wajah Benjamin.

"Belum, Mia. Aku menunggumu," balas Marcello.

Benjamin berdiri, dengan santai ia berucap, "Petugasnya bilang, lebih baik mendaftar bersama-sama, supaya semuanya jelas."

Ke mana jambangmu, Benjamin? Tanyaku tak kuucapkan. Kali ini aku melihatnya, sama seperti saat pertama kali kami bertemu di Seattle, aku masih ingat betul, bagaimana penampilannya kala itu.

Dia terlihat lebih muda, jika dicukur.

"Ayo, Mia." Marcello menarik tanganku masuk ke dalam ruang loket administrasi laboratorium, seolah sedang memisahkan aku dan Benjamin yang belum sempat berucap.

Aku menoleh lagi setelah berhasil masuk dalam, memastikan Benjamin mengikuti kami dari belakang.

Ruangan ini lebih sejuk dari sebelumnya. Dan terlihat biasa saja—masih seperti resepsionis di ruang bawah, hanya saja lebih tertutup dan tidak ada poster-poster kesehatan atau tulisan lain.

Petugas di dalam berucap. "Tes DNA?"

"Iya," kataku pelan.

"Mohon satu orang satu," katanya lagi.

Kulihat Benjamin dan Marcello duduk di kursi belakang. Rasanya sedikit aneh dan perasaanku mendadak tidak nyaman.

Petugas itu bertanya lagi. "Identitas hubungan biologis?"

Aku menghela napas dalam-dalam. "Ayah dan anak."

Suara keyboard yang ditekan-tekan itu terdengar begitu jelas, sekaligus menyadarkanku, bahwa ini adalah tempat di mana orang menitipkan kebenaran yang sangat berharga.

Kulihat petugas itu mendongak lagi. "Ayahnya yang mana?"

Mataku terpejam sekejap, tubuhku mendadak kaku, bahkan menelan ludah pun rasanya sulit. Perlahan aku menoleh melihat Benjamin, aku tahu dua pria di belakangku ini juga mendengarnya.

"Saya," ucap Benjamin seraya bangkit dari kursinya. Kini ia berdiri di sampingku. Namun perasaanku belum juga tenang.

"Dan saya." Marcello menyusul, ia ikut berdiri di sampingku kiriku.

Aku tetap diam, dan membatin. Apa yang akan dipikirkan oleh petugas ini? Mau ditaruh di mana wajahku? Dia pasti akan menyangka aku wanita yang tidak benar.

Kulihat petugas yang mengenakan penutup wajah itu mendelik, mengangkat sebelah alisnya, lalu menatap aku dan Benjamin. Ah ... sudah kuduga.

"Baik," ucapnya, seolah matanya yang mendelik itu tak kuperhatikan. "Kalau begitu kita akan melakukan prosedur sesuai permintaan."

"Dokumen kami sudah lengkap," ucap Benjamin.

"Bagus," ucapnya. "Baiklah, kita mulai pendaftaran."

Proses pendaftaran berjalan tanpa percakapan yang berarti, sangat kaku, hanya memverifikasi nama, tanggal lahir, dan segala identitas yang diperlukan.

Lihat selengkapnya