Aku membaca pesanku yang belum Mia lihat. Aku mengingat-ingat—Apa aku telah membuat Mia marah? Apa aku terlihat jelek? Tidak biasanya Mia begini, setelah keluar dari rumah sakit pun dia tidak berucap apa pun, bahkan pesanku belum dia baca.
Kuabaikan Mia sebentar dan membiarkan pikiran positifku saja yang bekerja. Segera aku menghubungi Kellan dengan meneleponnya. Entah dia sedang apa, tapi aku tahu dan sudah dipastikan, waktu dan suasana di Seattle kini pasti masih pagi buta.
Aku menunduk melihat ponselku, yang ternyata Kellan tidak menjawab panggilanku. "Hm ... mungkin dia masih tidur," gumamku, yang kini sedang duduk bersandar di sofa.
Jarang sekali aku sesantai ini. Biasanya aku selalu menyempatkan diri untuk melihat laptop atau pekerjaanku sedikit saja jika libur atau cuti. Tapi kali ini, fokusku benar-benar pada tes DNA, yang ternyata prosesnya bisa lebih cepat.
"Kellan harus segera datang ke sini."
Kucubit hidungku sekejap, lalu menaruh ponsel di meja. Tadinya aku hendak berdiri, tapi mataku melebar saat layar ponsel tiba-tiba berubah menjadi foto anaknya Kellan, disertai nada dering dan getaran.
Tanganku menyambarnya dengan cepat, lalu mendekatkan ponsel ke telinga setelah menekan tombol hijau.
"Halo, Kellan?"
"Halo, Ben? Ada apa, sudah dapat tanggalnya?" Tanyanya dari dalam panggilan. Kellan sudah tahu, aku akan melakukan tes DNA, karena aku memberitahunya kemarin malam.
"Pengambilan sampelnya minggu depan, jadi kau harus sudah berada di sini dua atau tiga hari sebelumnya."
"Oke, aku akan berangkat besok lusa."
"Lusa? Kalau bisa besok kenapa harus lusa? Aku butuh kau sekarang."
"Aku mengecek pekerjaanku dulu, Bro. Dan harus izin pada istriku," balasnya, sungguh membuatku iri.
"Baiklah ... kau suami yang baik," ledekku.
Kellan terkekeh dengan jelas. "Tentu saja. Aku tahu, kau pasti iri."
Akhirnya aku terkekeh juga. "Sial! Kau berhasil membaca pikiranku."
"Lalu kapan kau akan menyusul? Percayalah padaku, Ben. Punya istri ternyata sangat menyenangkan."
"Iya, aku tahu keseruanmu. Anak-anakmu adalah buktinya."
"Baiklah, nanti siang aku akan memesan tiketnya."
Aku mendecak, geram. "Kenapa nanti siang, kalau bisa pesan sekarang?"
"Ini masih pagi, Ben. Aku mau mandi dulu."
"Pesan saja tiketnya dulu, baru kau mandi," kataku sedikit galak.
"Ya sudah, aku tidak jadi berang—"
"Oh—oke, oke, oke ... Oke," tandasku berkali-kali menyanggah. "Lakukan sesukamu dan jangan sampai kehabisan tiket." Kali ini Kellan benar-benar telah membuatku payah, itu kulakukan agar Kellan tidak berubah pikiran. Kami memang selalu begini sejak masih kecil.
"..."
Panggilan berakhir dan aku kembali merasa jengah. Ini masih jam satu siang, Benjamin. Ayo ambil kunci mobil, lalu ke rumah Mia sekarang! Kata hatiku yang berisik ini menggiring lagi.
Kulihat pesanku masih belum dibaca. Meski heran, tapi tak masalah. Aku beringsut, mengangkat kakiku ke atas sofa—membentangkan tubuh, lalu perlahan menutup mataku, memekur lagi.
Mungkin Mia ingin istirahat dan sibuk mengurus Rogero, mengurus pekerjaan, mungkin Mia ...
Aku membuka mataku lagi, tiba-tiba saja aku membayangkan Marcello, yang mungkin saja dia juga sedang berada di rumah Mia.
Ah ... biarkan saja, Benjamin. Kalau pesanku saja belum dibalas apalagi orang lain, begitulah kiranya aku menenangkan perasaanku sendiri—merasa percaya diri, merasa sedikit sombong dan merasa penting dalam hidup Mia.
Kelopak mataku kembali menutup dengan tenang. Hingga kesadaranku perlahan disusupi kegelapan.
---
Hari-hari setelah pendaftaran rasanya berjalan sangat lambat. Seperti biasa, aku bekerja, menghubungi Mia yang balasannya pasti selalu membahas perkembangan Rogero. Jangan ditanya, aku senang atau tidak? Apa pun yang ada pada Mia aku selalu senang.
Aku tahu ini terkesan berlebihan. Tapi aku sadar, logikaku selalu padam sementara bila berkomunikasi atau sedang berada di sisinya. Apakah itu sebuah kebodohan? Tentu bukan, kurasa semua orang juga mengalami hal ini.
Dua hari berlalu, di hari libur ini, bukannya aku pergi ke rumah Mia, justru kini aku harus menjemput Kellan yang beberapa menit lalu mengomel, katanya sudah setengah jam ia menunggu di Bandara. Biarkan saja dia.
Dan yang paling kutunggu-tunggu, adalah pertemuan kami berempat yang tentu saja dengan Mia dan juga Rogero. Mia menyanggupinya, tanpa bersyarat, dan tentu saja ini adalah permintaanku.
Tidak lama aku mengemudi—kurang lebih lima belas menit, kini mobilku menepi di Bandara Valerio Catullo, lebih tepatnya menepi di parkiran dekat dengan pintu kedatangan, dan kulihat Kellan sedang berdiri ditemani koper silvernya.
Matanya mengernyit sembari menoleh ke kanan dan ke kiri seperti orang aneh yang tersesat. Segera aku keluar dari mobil, lalu berjalan menemuinya.
Kellan semringah saat melihatku mendekat, wajahnya seperti baru saja terbebas dari belenggu kepanikan, kami berpelukan. "Hei, maaf sudah menunggu lama, kau sudah makan?" Tanyaku.
"Kau nyaris membuatku gila, Ben. Bawa aku ke rumahmu sekarang."
"..."
Mendengar Kellan yang sudah ingin beristirahat, lantas kami langsung masuk ke mobil, kembali ke rumah sembari menenteng banyak makanan, lalu menaruhnya di meja makan dapur. Di sinilah kami makan bersama.
"Bagaimana kabar ibu dan ayah?" Tanyaku sembari mengaduk-aduk pasta.
"Mereka baik-baik saja. Aku juga sudah memperlihatkan foto Rogero."