Aku di sini, di samping kanannya Benjamin, beserta Rogero yang sedang dibopong ayahnya. Betapa banyak hal yang ingin kutanyakan padanya, termasuk soal keluarganya, tapi aku tak ingin ada telinga lain yang mendengar.
"Ben, sekarang berikan Rogero pada Mia, cepat," titah Kellan.
Entah apa yang dipikirkan Benjamin saat ini, tapi baru saja aku memberikan Rogero padanya, kini ia menyerahkannya kembali padaku bak bola voli. Bila Rogero tidak menangis, aku tidak keberatan sama sekali.
Ia lantas beringsut sedikit, hingga rasanya kami tak berjarak lagi. Kami tersenyum lagi menghadap ponsel milik Kellan yang flash-nya menyala.
Dan aku benar-benar merasakannya. Dekat sekali, hingga rasanya aku seperti berada di dalam dekapannya, napasnya hangat menyentuh kulit telingaku yang sesekali kami tak sengaja bersentuhan, sebab foto yang diambil sudah cukup banyak kurasa.
Tak tanggung-tanggung pula aku tersenyum, karena aku tidak mau terlihat jelek saat difoto. Memangnya siapa yang mau terlihat jelek? Tidak ada.
Kellan pun mengarahkan. "Satu gaya lagi."
Sedari tadi memang Kellan yang mengatur pose kami, dan kini ia meminta agar tubuh Rogero dibuat setengah berdiri, lalu katanya aku dan Benjamin mencium pipi Rogero bersamaan.
"Kurasa ini sudah cukup, Kellan. Pose barusan itu terlalu berlebihan," protes Benjamin. Dan aku diam-diam setuju dengan keputusan itu.
Aku menyengir sambil menatap Rogero yang tidak rewel, bila dipikir-pikir kami seperti sudah menikah, Rogero, maafkan aku, batinku, yang entah mengapa rasanya sedikit sendu.
Bohong bila aku tak memikirkan ucapan Kellan tadi. Benjamin sudah diminta untuk menikah oleh orang tuanya. Iya. Ayahnya Rogero ini memang sudah menyatakan perasaannya padaku, tapi aku tetap merasa jauh, karena kami beda kewarganegaraan.
Di negaranya, sudah jelas banyak wanita cantik, seksi dan juga pintar. Sedangkan aku? Aku bisa menjadi seperti itu, tapi aku tidak mampu bertahan bila banyak wanita yang mengerubunginya.
Beberapa hal dari Benjamin yang membuatku tertarik, adalah dia mampu memahami perasaanku, dia menghormati setiap keputusanku, dia menjaga privasiku dan dia tidak lelah berada di sampingku, padahal aku belum mengatakan apa pun.
Di sampingku, kini Benjamin sedang melihat-lihat hasil fotonya—Kellan meminjamkan ponselnya. Dan aku tidak mendekat, tapi Benjamin yang mencondongkan tubuhnya lagi, seraya mengajakku melihat beberapa hasil jepretan, yang ternyata hasilnya cukup bagus.
Ah ... iya, aku ingat kemarin Benjamin sempat menyayangkan—saat aku mengirim foto berdua dengan Rogero, ia bilang 'sayang sekali tidak aku di dalamnya' aku jadi berpikir, Apa ini rencananya Benjamin?
"Bisa kau kirim fotonya padaku?" Kataku meminta.
"Akan kukirim nanti."
Selain merasa was-was pada kemungkinan Benjamin yang akan menikah, aku juga merasa senang saat Kellan mengatakan bahwa ayah dan ibunya ingin ikut. Bukankah itu tanda bahwa anakku sudah dianggap keluarga oleh mereka, kendati aku dan Benjamin tidak ada ikatan apa pun.
Ah ... Mia, mereka hanya berhubungan dengan Rogero, bukan dengan ibunya, kataku dalam hati. Lagi-lagi sadar diri agar tidak melewati batas.
Usai makan malam, kami berpindah tempat ke ruang tamu. Di sini Rogero dibopong oleh Kellan. Ia berterus terang, katanya rasanya seperti sedang membopong Ammy. Dan aku hanya tersenyum. Kellan memang masih orang asing bagiku, tapi dia kakaknya Benjamin, dan aku mengizinkannya.
"Benjamin, aku ingin bicara," kataku lirih.
Benjamin melirik melihat Kellan yang sepertinya mengerti maksudku. Kami berdua berdiri setelah menitipkan Rogero sebentar, lalu bergegas ke belakang rumah, lebih tepatnya duduk di kursi yang menghadap langsung ke kolam renang.