Connesso

Cano
Chapter #41

Chapter 41 - BENJAMIN'S POV

Aku membuang napas pelan, setelah melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh lebih sedikit. Kellan sudah mengajakku pulang, padahal aku masih ingin di sini.

Dan sepertinya aku sudah mulai berani pada Mia—berani masuk ke kamarnya dengan niat bertemu Rogero sebelum pulang. Kulihat Mia pun tidak keberatan. Saat aku berjongkok menatap Rogero yang sudah tertidur.

Kejadian yang berlangsung selama beberapa detik tadi, benar-benar terasa dampaknya. Terutama Mia yang kulihat selalu menahan senyumnya jika kutatap. Aku tahu dia sangat malu tadi, dan aku? Aku benar-benar telah memantapkan hati untuk tetap memperjuangkan Mia apa pun yang terjadi.

Dan kurasa, kini aku tidak perlu menunggu jawaban spesifik lagi. Rencana Menikah? Jelas, aku sudah merencanakan itu—aku akan melamarnya nanti setelah hasil tes DNA keluar, kendati aku belum membicarakan hal ini dengannya, sebab tidak ingin membuat Mia kebingungan.

"Aku ingin di sini saja," kataku berbisik di hadapan Mia, masih memandangi Rogero seraya mengusap dahi mungilnya.

"Menginap?" Tanya Mia, ia tersenyum lagi. "Kellan akan berprasangka buruk nanti."

"Kau benar, dia bahkan tidak tahu proses yang kau jalani, mungkin sedari tadi pikirannya sudah sekotor itu. Maafkan dia, Mia."

"Aku tahu. Dan terima kasih sudah menjaga privasiku."

Aku mengambil napas dalam-dalam, lalu bangkit. "Baiklah, aku harus pulang, besok kami harus ke rumah sakit, kau tenang saja, Mia."

"..."

Mia ikut bangkit, bersama-sama kami mulai bergegas menuju ruang tamu. Kulihat Kellan segera berdiri ketika kami datang. Tidak ada yang aneh, seperti orang pada umumnya, kami berpamitan dengan baik, lalu pulang dengan hati yang penuh rasa puas.

"Pantas saja kau sangat betah di sini," celetuk Kellan.

Aku yang sedang berkendara lantas melirik sekilas, menahan senyum sebisa mungkin. "Jangan meledek, kau juga begitu kan dulu?"

Kellan terkekeh. "Iya. Aku masih ingat semuanya. Tapi sepertinya usahamu mengejar Mia ini lebih sulit daripada usahaku."

"Jelas. Dia tidak bereaksi seperti kebanyakan wanita."

"Haha ... Benjamin ... dengar, semua pria mengatakan itu ketika mereka jatuh cinta, Bro."

"Aku tahu. Maksudku ... di antara banyaknya wanita. Mereka baik, tapi aku sulit untuk merasa cocok. Karena selain apa yang terlihat, aku juga melihat wataknya, jalan pikirannya, kesukaannya juga tutur bahasanya," kataku jujur pada Kellan.

"Setelah mencari-cari di antara tumpukan wanita Amerika, ternyata kau menemukannya di Italia. Ceritakan padaku, bagaimana pertemuanmu dengan Mia."

"Untuk apa?"

"Hanya ingin tahu."

"Kau tidak perlu tahu, yang jelas pertemuan kami sangat indah," ucapku membanggakan diri.

"Lalu ... kenapa sekarang kau harus berusaha, kalau kau pernah tidur dengannya? Apa yang terjadi?"

Sudah kuduga, dia akan bertanya soal ini. "Itu aku tidak tahu. Jawabannya ada pada Mia," balasku berbohong, namun tampak masuk akal.

"Tapi seingatku kau tidak pernah bilang akan pergi ke Italia satu tahun belakangan ini," ucapnya lagi. Kulihat dahinya mengernyit, itu tandanya dia sedang berpikir lebih dalam—sedang mengorek-ngorek atau memancing agar aku bercerita tanpa dipaksa.

"Kau tidak akan tahu, kami pernah bertemu satu kali," balasku, yang—Ah sial! Kenapa aku bilang satu kali? Batinku merutuki.

"Satu kali? Oh ... aku paham sekarang."

"Apa?" Aku mulai sewot, sedangkan Kellan mulai tertawa.

"Cinta satu malam, Tuan Benjamin?" Ledeknya, tawanya mulai terdengar renyah.

"Kami tidak seperti itu, Kellan. Mia wanita baik-baik," ucapku dengan tenang.

"Baiklah ... baiklah, kalau bukan seperti itu, bagaimana cerita aslinya?"

Lihat selengkapnya