Connesso

Cano
Chapter #42

Chapter 42 - MIA'S POV

Mataku membelalak saat membaca pesan dari Benjamin. Dia bilang akan segera datang ke rumah untuk menjemputku ke rumah sakit, yang katanya tes DNA sudah bisa dilakukan hari ini.

Kenapa Benjamin buru-buru sekali?

Aku segera membalas pesannya dan mengatakan, bahwa aku akan datang sendirian.

Tidak ada waktu untuk berdandan lama. Kuraih mantel hitam guna menutupi gaun putihku, lalu memakainya setelah mengoleskan lipstik merah muda pada bibirku. Sedangkan rambut, hanya kutahan menggunakan bando putih supaya tidak mengganggu saat menggendong Rogero nanti.

Aku menatap pantulan diriku di cermin setelah menggunakan flat shoes cokelat.

Segera aku memindahkan Rogero ke stroller, dan dengan santai aku membawanya keluar rumah. Namun kudengar Rogero menangis saat stroller mulai menginjak pelataran karena aku lupa menjulurkan penutupnya hingga membuatnya silau terkena cahaya matahari.

"Sshhh ... sebentar, sayang," kataku sambil buru-buru membawanya ke garasi, agar lebih teduh, lalu membuka pintunya lebar-lebar.

Buru-buru aku menaruh Rogero di jok mobil, yang masih terikat di infant car seat stroller (kursi mobil bayi). Buru-buru pula aku duduk di jok kemudi. Tidak lama, setelah gerbang dibuka oleh Norah, mobil pun melaju menjauh dari rumah.

Dengan tenang, jalanan Verona yang ramai ini kutelusuri, seakan kami memang akan menghadapi hidup yang terjal, sesekali aku melirik, memastikan Rogero baik-baik saja.

Hingga tibalah mobilku berbelok, memarkirkannya tanpa berpikir panjang. Dengan gerakan cepat aku keluar, lalu membopong Rogero masuk ke dalam lobi rumah sakit.

Bodohnya aku tidak menggunakan masker, di dalam lift orang-orang menatapku, meski aku tahu itu bukan tatapan yang aneh, karena bukan aku yang mereka lihat, melainkan Rogero.

Lift di lantai lima terbuka. "Permisi," kataku, lantas membelah julangan tubuh yang menghalangi. Sesaat kutatap wajah Rogero yang sedikit berkeringat, beruntung ia tidak menangis.

Ah, aku tidak bawa sapu tangan. Kuusap dahinya menggunakan mantel lenganku, yang seketika itu pula bedaknya menempel di kain.

Langkahku berbelok ke kiri, kulihat di depan loket ada empat orang sedang duduk yang sepertinya mereka sedang menungguku.

Ketika jarakku telah dekat, Marcello dan Benjamin berdiri bersamaan, mereka mendekat ke arahku, seperti akan membopong Rogero, yang seketika itu pula lenganku mengencangkan gendongan.

"Maaf aku terlambat," kataku.

"Tidak apa-apa, Mia. Kita duduk dulu sebentar." Benjamin menarik pelan lenganku, kami duduk bersama di kursi lain. Sedangkan Marcello, baru saja aku mendengar dengusan samarnya sambil menggigit bibirnya yang tampak sedikit kesal ketika aku mengabaikannya. Tapi tidak berhenti di sana, Marcello mengikutiku, ia berdiri di sebelah kananku.

"Mia."

Aku mendongak, melihat seseorang yang baru saja menyapaku itu mendekat. "Angelo?"

Pemilik nama itu terkekeh. Kami lantas bersalaman. "Iya, ini aku. Bagaimana kabarmu?" Tanyanya, adiknya Marcello ini memang ramah. Berbeda jauh dengan kakaknya yang sedikit gila.

"Seperti yang kau lihat, aku semakin—"

"Cantik. Kau semakin cantik mengenakan bando itu dan hei—" Angelo langsung berjongkok, mendekat ke arah Rogero. "Rogero, ini adalah pertemuan pertama kita. Mia, dia tampan sekali," susulnya sambil menyentuh pipi Rogero.

Kudengar Angelo mengoceh menirukan suara gaya bayi di hadapanku. Sedangkan dua pria di sampingku ini masih membantu, tak berkata apa pun. Mataku melirik sekilas, menatap wajah Benjamin tak berpaling melihat anaknya sendiri juga pria di hadapannya.

Lihat selengkapnya