Seharusnya hari-hari berikutnya semakin tenang, aku justru merasa gila sendirian—merasa wajib dan harus mengontrol penuh sistem keamanan yang ada di rumah sakit, tempat kami melakukan tes DNA kemarin.
Dan Kellan juga terkena dampaknya, awalnya dia ingin pulang setelah pengambilan sampel DNA dan akan kembali saat hasil akan segera dikeluarkan. Tapi saat ini aku menahannya agar ia tidak pulang ke Seattle. Berbagai alasan logis kugunakan, hingga ia menyerah sendiri dan bekerja hanya via virtual meeting saja.
Dan ini adalah hari ke empat setelah tes, sudah empat hari pula aku bolak-balik rumah sakit hanya untuk berdiam diri di ruang pantau kamera CCTV. Aku hanya menonton hasil rekaman hari sebelumnya di titik yang kuinginkan saja—di lantai lima, lebih tepatnya di koridor depan laboratorium serta di depan loket administrasi laboratorium.
Aku hanya memantau supaya tidak ada tindak kecurangan atau keterlibatan orang asing yang keluar masuk lab sembarangan. Dan sejauh ini tidak ada yang aneh—tidak melihat ada Marcello atau adiknya yang mungkin saja mereka akan curang.
Dan sayang sekali aku tidak diizinkan mengakses kamera secara langsung via ponsel, karena ini menyangkut keamanan yang dilindungi Undang-Undang. Beberapa hal yang kusoroti adalah waktu yang berjalan, aku harus memastikan agar tidak ada satu detik pun yang terlewat, melihat wajah-wajah orang di dalamnya, sekaligus memerhatikan gelagatnya.
Setelah dirasa telah selesai dan tidak ada hal yang aneh, aku lantas bangkit, menggeser kursi, dan menyelipkan sebuah amplop ke dalam salah satu map yang ada di meja petugas.
Niatku murni, bukan untuk membeli integritas mereka, tapi ini adalah bentuk terima kasih, karena mereka sudah mengizinkanku berada di sini, kendati tidak seharian penuh.
"Terima kasih sudah membantu menjaga ruangan ini tetap steril," kataku singkat. "Kabari aku jika ada kejanggalan."
Petugas itu tidak segera membuka map, ia hanya mengangguk singkat, menguatkan kesan ramahnya. Namun saat aku hendak keluar dari ruangan, kulihat pintu itu terbuka dan masuklah seseorang yang kukenal.
"Kau?" Gumamku lirih.
Kulihat Marcello tidak segera menggubris, dia malah melihat ke arah sekuriti sambil memegangi kopinya."Maaf aku terlambat. Aku akan mengecek sekarang."
Kukira dia hanya bercanda akan mengecek rekaman CCTV di rumah sakit, tapi sekarang sudah jelas—kami ternyata melakukan hal yang sama.
"Kebetulan sekali," ucap Marcello, lantas menutup pintu, lalu menaruh kopinya ke meja.
Aku tersenyum miring. "Tak kusangka kau juga sejauh ini?"
"Anakku pantas mendapatkan lebih dari sekadar harapan," timpalnya.
"Terima kasih. Terima kasih sudah sangat peduli pada anakku. Aku senang kau melakukan ini, silakan lanjutkan. Karena aku akan pergi ke rumah ibunya anakku sekarang," tuturku, lantas mulai melangkah hendak keluar.
Aku tidak memerhatikan, bagaimana ekspresi wajahnya, tapi rivalku itu tak berucap lagi. Dan rasanya sangat puas, bisa membuat suasana hatinya ditikam kepanasan, kendati hanya menggunakan untaian kata-kata.
Kuakui kata-kataku itu hanya omong kosong, tapi sebenarnya aku memang ingin sekali ke rumah Mia. Namun kehadiran Kellan yang sementara ini terlampau penting, aku tidak ingin dia tiba-tiba kabur ke Seattle sebelum menyaksikan kemenanganku.
Saat aku berjalan menuju parkiran, kulihat Jeff keluar dari dalam mobil, ia melihatku yang seketika itu juga kami sama-sama mendekat.
"Tuan Kellan mengirim saya pesan," ucap Jeff.
Aku mengernyit. "Kenapa dia mengirimnya padamu?" Kurogoh saku celanaku hendak mengambil ponsel.
"Katanya Tuan Benjamin tidak bisa dihubungi."
Ucapan Jeff memvalidasi keadaan ponselku yang entah sejak kapan telah padam. "Ah ... baterainya habis lagi. Dia bilang apa?"
"Maaf, saya tidak sengaja membacanya." Jeff menjulurkan ponselnya, yang seketika itu juga kuraih. Kulihat layar itu memperlihatkan sebuah pesan dari Kellan.
Tuan Kellan:
Katakan padanya, jangan terlalu sibuk melihat kamera CCTV hingga mengabaikan dapur yang tidak ada satu pun bahan makanan.
Dibaca.
Aku menyengir samar. "Ah ... dia hanya kelaparan. Kenapa repot sekali? Kan dia bisa beli," gumamku.
Kuberikan kembali ponsel Jeff. "Kita ke restoran sekarang."
Kami berdua kembali masuk ke dalam mobil. Ini pukul enam sore, namun langit Verona masih saja terlihat cerah, meski tidak terlalu gelap.
Aku menengok ke luar kaca, memerhatikan suasana jalanan yang ramai. Aku menyengir, merasa lucu ketika kami melintasi restoran yang kala itu—Mia menabrak seseorang. Aku merindukannya lagi.
Aku tidak akan begini jika ponselku tidak padam. Karena biasanya aku selalu mengecek semua informasi di ponselku setelah pulang kerja.
"Tuan Kellan suka memasak?" Celetuk Jeff tiba-tiba mengajakku berbicara, mungkin dia mengerti keadaanku yang sangat jarang ia lihat.
"Tidak, dia tidak suka memasak, kecuali darurat," jawabku.
"Sepertinya sedang ada masalah pekerjaan rumit sampai Tuan Benjamin harus mengecek CCTV setiap hari ke rumah sakit. Jika lelah, saya bisa mengantar Anda pulang lebih dulu, lalu saya yang akan beli makanan," tutur Jeff.
"Tidak usah, Jeff. Sebenarnya ini bukan masalah pekerjaan. Apa kau tahu sesuatu?"
"Maaf?"
"Sesuatu tentangku di Italia ini?" Pancingku bertanya. Aku hanya penasaran, seberapa tahukah bapak-bapak ini tentang majikannya?
"Yang saya tahu, Anda sedang banyak masalah dan gosip," balasnya.
"Apa saja yang kau tahu?"