Connesso

Cano
Chapter #44

Chapter 44 - MIA'S POV

Kepalaku terasa berdenyut-denyut sebelah, sebab aku terbangun pukul tiga dini hari dan tidak melanjutkan tidurku lagi.

Di pangkuanku, Rogero sedang menyusu. Sebelah tanganku pun masih menggenggam ponsel yang entah sejak kapan telah padam. Pukul delapan pagi tadi aku sudah dihubungi oleh pihak rumah sakit, yang katanya hasil tes DNA kami sudah keluar.

Jelas yang dihubungi oleh pihak rumah sakit bukan hanya aku, tapi Benjamin dan juga Marcello, dan kami serentak akan berangkat saat ini juga—pukul sebelas siang.

Sambil fokus berkendara aku membatin, Benjamin yang akan menang, lalu Marcello akan menjauh dari hidupku. Semudah itu berkata, dan aku yakin ini akan segera terjadi beberapa menit lagi.

Lalu Marcello akan marah, kemungkinan besarnya ia tak terima dan ... kepalaku spontan menggeleng, baru saja aku membayangkan hal yang sangat kekanak-kanakan untuk dilakukan orang dewasa. Jangan sampai mereka bertengkar. Itulah mengapa aku tidak datang bersama Rogero.

Entah mereka sudah tiba atau belum, tapi kini mobilku sudah terparkir di rumah sakit yang terlihat sedikit padat dan juga ramai.

Rok cokelat yang kukenakan ini mengayun pelan mengikuti pijakan kaki berbalut sepatu flat shoes beige. Sebisa mungkin aku berusaha tak memedulikan orang lain lagi, kendati di dalam lift aku masih merasa sedikit terintimidasi dengan tatapan mereka.

Hingga aku telah sampai di depan ruang privat konsultasi genetik, ruangan ini masih di lantai lima dan berdampingan dengan ruang loket administrasi laboratorium.

Aku mengetuk pintu kaca itu dua kali, yang mana aku melihat ada bayangan beberapa orang tengah duduk di dalam. Tak ada jawaban apa pun, namun aku memberanikan diri untuk membuka pintunya.

Di dalam, ternyata sudah ada Benjamin, Kellan dan juga dokter serta meja kayu mengkilap yang kurang lebih panjangnya hanya satu meter. Tak lupa pula aroma antiseptik yang tercium samar. Kulihat kakak dan adik itu duduk berdampingan, kecuali dokter yang berada di paling tengah dan paling depan.

Dokter itu menoleh padaku. “Silakan duduk, Nona Mia,” ucapnya sambil menunjuk kursi yang berada di seberangnya.

Aku mengangguk, melemparkan senyuman terbaikku, lalu duduk di kursi yang dimaksud. Suasana ini tidak asing, mirip seperti sedang menunggu meeting skala kecil, di atas meja tidak ada laptop, ataupun kopi dan sudah dipastikan kami tengah menunggu kehadiran Marcello.

Mataku melirik sekilas ke arah Benjamin, yang entah sejak kapan ia menatapku. Hati ini bergejolak lagi, rasanya ingin sekali aku menyapanya, mengobrol dengannya, namun aku harus tetap diam untuk menjaga situasi tetap netral.

Suara derit pintu membuatku menoleh ke arah pintu masuk. “Maaf, sepertinya kami terlambat,” ucap Marcello, lantas duduk. Disusul oleh kedatangan Angelo di belakangnya.

Mereka duduk berseberangan dengan Benjamin. Kini, lengkap sudah semuanya. Kehadiran pria-pria ini telah membuat meja di hadapanku ini terasa mengecil.

Dokter itu mengeluarkan dokumen berwarna cokelat yang terlihat masih terpasang segel wax berwarna merah. Itu pasti hasil tes DNA-nya, batinku menerka-nerka.

Dokumen itu diperlihatkan ke hadapan kami semua. “Bisa dilihat, Tuan dan Nona, ini masih disegel ya.”

Kami semua mengangguk mengerti. Kulihat punggung Benjamin semakin tegak saja, sedangkan Marcello malah semakin condong ke arah dokumen.

Dokter pria berkacamata itu menarik napas singkat. “Hasil pemeriksaan sudah kami verifikasi ulang. Pemeriksaan dilakukan dua kali untuk memastikan tidak ada kesalahan.”

Dadaku mulai tidak tenang ketika melihat dokter itu mengambil sebuah alat pemotong kecil, yang ia gunakan untuk membuka segel wax merah bercap logo rumah sakit itu. Aku yakin Benjamin dan Marcello juga merasakan hal yang sama.

Lihat selengkapnya