Aku tidak bodoh, aku dan Kellan keluar dari rumah sakit bukan untuk menghindari Mia. Sejujurnya aku ingin bicara dengannya, aku ingin mengeluh padanya, aku ingin berada di sisinya. Sangat ingin. Kali ini jika waktu memberi kami izin untuk berduaan aku ingin meluapkan semuanya;
Mia, kali ini aku sedang lemah sekali. Kau pasti sakit kan saat membaca hasil lab itu? Maaf tadi aku tidak bicara denganmu, karena aku takut pada emosiku sendiri. Aku tidak ingin kau melihat ledakanku saat marah. Marahku sungguh mengerikan.
Kutatap Kellan yang sedang berjalan menuju parkiran. Kali ini, dia yang akan menyetir. Beruntung dia hadir dan menahan tubuhku, jika tidak aku sudah melakukan hal yang memalukan di sana.
Aku menengok, melihat pintu lobi berkali-kali, berharap Mia keluar dari sana. Dan benar saja, seolah telah terikat, mataku membulat ketika melihat Mia benar-benar muncul dan tersenyum merekah dari kejauhan. Ia berjalan mendekat.
Bibirku yang baru saja menyengir tipis ini seketika lenyap ketika aku melihat lelaki yang mengaku ayahnya Rogero itu sedang mendekat juga.
"Benjamin," ucap Mia benar-benar berhenti di hadapanku.
Ingin sekali tubuhku ini merengkuhnya. Namun tatapanku sudah lebih dulu mengerem. Mia lantas mengikuti arah pandangku. Aku dan Marcello akhirnya bertemu lagi.
"Sesuai perkataanmu sendiri. Kau harus menepati janjimu, Benjamin," ucap Marcello.
"..."
Aku tetap diam, tak ingin menimpalinya, susah payah aku menahan diri, tapi dia malah menyodorkan dirinya sendiri untuk kulahap.
"Menjauh dari Mia dan juga Rogero," susulnya.
Tanganku mulai mengepal dengan sendirinya, wajahku memanas, memusatkan seluruh emosi dan tenaga pada kedua tanganku yang telah mengeras ini.
"..."
Marcello berucap lagi. "Aku ayahnya Rogero yang asli. Kehadiranmu sejak awal memang tidak diperlukan."
Aku menelan salivaku dengan mudah, aku benar-benar merasa terhina. Napasku mulai berat, gigiku mengeras di dalam. Keparat, kau! Tiba-tiba tanganku bergerak sendiri, melayang dengan mulus ke wajah sialan itu.
"Fuck!" Umpatnya sambil menutupi wajahnya sendiri.
"Ben—" tanganku menepikan Mia ke samping, karena kulihat Marcello segera bangkit, dan dengan gerilya ia berhasil membuat pipiku berdenyut.
"Berhenti, Marcello!" jerit Mia.
Dan terjadilah hal yang sedari tadi kutahan.
"Keparat, kau! Kau curang, kan?" Seruku berhasil menghantam wajahnya hingga punggung tanganku ini kotor terkena darah dari hidungnya.
"Aku tidak curang, bodoh! Memangnya siapa yang mau menipu diri sendiri?!" ucapnya.
Marcello menahan leherku dan mengeratkan jari jemarinya, membuatku kesulitan bernapas dan berucap. Dengan sekali gerakan ia berhasil menghantam wajahku hingga tersungkur ke samping.
Tidak berhenti di sana, kulihat ia bangkit dan kembali menerkam leher, sambil membenturkan kepalan tangannya ke wajahku. "Kau yang bodoh, memantau kamera CCTV yang jelas-jelas tidak ada aku di dalamnya!" Imbuh Marcello seolah mengerti yang kumaksudkan.
Dari samping, aku terus mendengar Mia berteriak histeris, memanggil-manggil siapa pun yang ada di sana.
"Marcello berhenti!" Seru Angelo, sambil menarik-narik tubuh kakaknya, yang sedari tadi memang kesulitan melerai kami.
Tuduhanku memang tidak terbukti, tapi aku tahu dan yakin dia telah melakukan kecurangan yang sangat fatal, hingga melebihi batas kewajaranku.
"Ternyata sedari tadi ini niatmu menghindariku?" Ucap Marcello. Aku melihat tangannya melayang lagi, yang seketika itu juga ditahan oleh Kellan.