Connesso

Cano
Chapter #46

Chapter 46 - MARCELLO'S POV

Aku percaya kemenangan selalu berpihak pada kebenaran. Sudah kukatakan aku tidak salah dalam menyimpulkan apa yang terlihat di depan mata. Rasanya begitu tenang ketika aku mengetahui fakta, bahwa hasil tes DNA Rogero benar-benar cocok denganku.

Angelo membawaku ke rumah Mia setelah kejadian baku hantam tadi. Sialan, pria itu! Pukulannya keras sekali, hidungku sampai berdarah, wajahku memar dan lecet, semoga saja tidak ada paparazzi yang melihat adegan tadi. Tapi ini bukan masalah. Rasa sakit ini benar-benar terlapisi oleh kebahagiaan yang ada di depan mata.

Kulihat Mia menaruh air es di atas meja sofa, ia memasukkan sebuah handuk kecil, lalu memelintirnya. Bibirnya yang cantik masih terkunci, tapi Mia yang kukenal memang begini—handuk itu Mia tempelkan ke kulit wajahku. Sejuk dan nyaman. Aku tidak ingin berucap dulu, meski banyak hal yang ingin kukatakan, sebab aku tidak ingin Mia menghentikan tindakannya ini. Sungguh aku merindukan perhatiannya.

"Terima kasih, Mia," ucap Angelo, lantas melirik ke arahku. "Kau tadi melakukan apa? Sampai-sampai harus seperti ini?"

"Tidak ada. Dia yang duluan menghantamku," kataku tidak bohong.

"Kau mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya, Marcello," celetuk Mia, yang entah mengapa kalimatnya seperti sedang membela.

Aku menatap Mia dari bawah. "Aku hanya menagih janjinya, Mia. Kau juga dengar, kan?"

"Janji? Janji apa?" Tanya Angelo.

"Janji untuk menjauhi Rogero dan Mia jika hasilnya tidak cocok," balasku, sengaja kusebutkan supaya Mia juga ingat dengan janji Benjamin yang penuh konsekuensi itu.

Mia bangkit, mengabaikan handuk yang masih menempel di wajahku. "Lakukanlah sendiri," ucapnya tak acuh, lalu bergegas.

Aku membiarkannya, meski rasanya ingin sekali menghentikannya, mencoba memahami yang sepertinya Mia akan mengurus Rogero terlebih dahulu.

"Cello, kenapa dulu hubungan kalian harus berakhir?" Tanya Angelo seraya meraih handuk, lalu melanjutkan kompresan Mia.

"Itu salahku yang terlalu keras kepala. Mia begitu sensitif. Dulu dia sangat mencintaiku, tapi aku tak mendengarkan keinginannya."

"Masalah sepele?"

"Yah ... sepertinya. Mia cemburu dan memintaku berhenti dari dunia hiburan. Kau juga tahu, kami sempat akan menikah. Beruntung Rogero lahir, dan membuatku kembali pada Mia. Jika sudah takdir, maka selalu ada jalan untuk bersatu, kan?" tuturku.

"..."

"Apa kau tahu rasanya, betapa bangganya aku telah menjadi seorang ayah," susulku.

Angelo tersenyum. "Dan aku menjadi seorang paman."

"..."

Kami terkekeh bersama, hingga wajahku bersih dari noda darah. Hanya menyisakan denyutan ringan di bagian yang memar saja.

Beberapa jam kemudian pun Angelo telah pulang, aku mengizinkannya menggunakan mobilku, karena tidak mungkin dia akan menginap di sini.

Tentu aku tertidur lumayan lama, nyaris seperti orang pingsan-tidur di siang hari hingga terbangun pukul satu dini hari. Aku melenguh, tubuhku masih terbentang di sofa dengan selimut yang begitu wangi. Kulihat meja kecil di sampingku ini sudah ramai oleh makanan, sapu tangan, air dan gelas. Aku menyengir, siapa lagi yang menyiapkan kalau bukan Mia dan Norah?

Kendati lapar, tapi mulutku ini sedang malas mengunyah. Aku menelan air liurku, yang mendadak tenggorokanku terasa nyeri saat menelan. Ah ... radang tenggorokan lagi, batinku lantas beringsut, terduduk, dan segera menuangkan banyak air bening ke gelas.

Mia bahkan tidak membangunkanku.

Lihat selengkapnya