Connesso

Cano
Chapter #47

Chapter 47 - BENJAMIN & MIA POV

Di kantor, jari tanganku yang kaku ini tengah sibuk meremas apa pun yang ada di atas meja kerjaku. Harus berapa lama lagi aku menahan? Berapa lama lagi aku menanggung? Dan seberapa luas lagi aku menampung? Dalam bayanganku, aku sudah memorak-porandakan seluruh isi ruangan ini—nyaris gila.

Aku ingin protes pada Tuhan yang telah memberiku ujian ini. Tes DNA antara aku dan anakku sendiri tidak cocok. Lalu sekarang, masalah baru kembali menikamku.

Baru saja. Baru saja aku mendapat kabar dari kantor pusat di Seattle, katanya sistem keamanan perusahaan runtuh dalam satu malam—diretas, meninggalkan kerugian sebesar lima miliar yang harus kututup secepatnya.

Mia ... Rogero ... lalu kini perusahaan. Mengapa semua terjadi dalam waktu bersamaan? Rasanya isi kepalaku ini akan meledak.

Beberapa menit lalu Kellan menelepon. Ia memintaku segera pulang dan mengemasi barang-barang, katanya dia sudah memesan tiket ke Seattle yang akan terbang dalam lima jam lagi. Tentu tiket mendadak itu dipesan tanpa berkompromi denganku.

Dengan wajah yang masih memar, aku memejamkan mataku, bersandar ke pelukan kursi direksi. Bukan ingin tidur, tapi otakku sibuk merutuki diri sendiri. Di mana celah kesalahannya? Siapa dalang kerugian ini? Apa tujuan mereka meretas?

Saingan bisnis? Investor? Kolega? Semuanya memiliki risiko, tapi bisnisku yang bergerak di bidang jasa keuangan ini risikonya sangat tinggi, hingga rasanya sangat malu menunjukkan wajah ini ke khalayak umum, meski hanya mengumumkan servis yang sudah diperbaiki.

Ponsel yang panas, foto yang mendadak hilang, serta baterai yang cepat habis, aku sudah lama menyadari itu, tapi aku menundanya hingga kini aku dipukul oleh kenyataan yang begitu pahit. Mungkin jika aku punya penyakit jantung, aku sudah mati saat ini juga.

Tanpa berpikir lama, meski belum waktunya pulang, aku membereskan mejaku dengan cepat, lalu keluar ruangan tanpa menyapa atau berpamitan pada siapa pun.

"Jeff, kita pergi ke Ponte Pietra sekarang," titahku beberapa detik setelah terduduk di jok tengah.

Jeff hanya mengangguk, lalu segera menjalankan mobil menuju Ponte Pietra—jembatan batu Romawi tertua di Verona, yang hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki.

Aku ingin mampir ke sana, kendati isi kepalaku sedang membludak, bukan untuk bunuh diri, bukan pula sekadar drama untuk merenung, tapi ini memang harus dilakukan sejak lama.

Meski masih berada di Verona, tapi aku sudah memberi mandat ke kantor pusat, supaya membekukan uang operasional sementara waktu, demi mengamankan yang tersisa sebelum pengkhianat menguras habis isinya.

Dan aku sadar, dampak ini akan membuat para investor marah. Aku bahkan sudah membayangkan mereka protes di lobi kantor. Tapi aku akan meluruskannya dengan caraku sendiri.

"Jeff, setelah kita sampai di rumah, kau harus berkemas, kita akan pulang ke Seattle hari ini, kau harus ikut," kataku tak mengindahkannya, hanya fokus pada ponsel baruku yang galerinya tampak bersih, padahal aku sedang ingin melihat foto Rogero.

"Saat ini juga?" Tanya Jeff sedikit terlonjak.

"..."

Aku tak menggubrisnya, berdeham pun malas. Jeff sudah mengerti, diamku ini adalah isyarat, bahwa sesuatu sedang tidak baik-baik saja.

Jeff menghentikan mobilnya di sebuah parkiran umum setelah kurang lebih sepuluh menit menempuh perjalanan. Aku tak memaksanya untuk ikut, tapi aku segera turun dari mobil dan berjalan cepat seorang diri.

Meski sedikit berkelok untuk menuju jembatan, namun dari jarak jauh aku sudah bisa mendengar aliran sungai yang dangkal itu begitu berisik, namun tak seberisik pikiranku. Hingga tibalah aku melihatnya sendiri.

Jembatan ini tidak terlalu ramai, aku bisa melihat bangunan-bangunan Verona yang sederhana dan kokoh, khas Italia. Embusan angin sejuk membuat rambut cokelatku beterbangan.

Bukan ketenangan yang membuatku menginjakkan kaki di sini. Di tepi jembatan, aku menunduk melihat bagian perairan yang tenang, lalu mengeluarkan ponsel lamaku. Tanpa ragu, segera aku menjatuhkan ponselku ke sana.

Riak air seketika menelan benda itu sampai hilang ke dasar sungai. Tenggelam, tidak selamat, seperti yang sedang kualami. Bersama ponsel itu pula, aku membuang rasa kasihanku. Siapa pun yang sedang mendengarkan di balik frekuensinya, silakan saja nikmati keheningan.

Aku membuangnya karena tidak ada gunanya memelihara benda yang telah diretas. Bersama dengan itu pula kartu SIM-nya kubuang.


.

.

.

MIA'S POV

Lihat selengkapnya