Seattle tidak pernah sekacau ini. Aku sudah memperbarui nomor teleponku setelah tiba tiga hari yang lalu. Satu per satu para investor kuhubungi sebagai penanda aku tidak akan pernah lari dari tanggung jawab.
Kellan telah membuatku sedikit lebih tenang. Bisnis keluarga bergerak lebih cepat menambal separuh kerugian yang ada. Ini akan menjadi bahan pembahasan di meeting nanti.
Tapi masalah yang paling disorot bukan faktor dari dalam, justru para nasabah yang protes karena mereka tidak dapat menarik uang selama tiga hari ini. Timku telah mengumumkan bahwa perusahaan tidak akan lama melakukan pembekuan.
Kaki yang dilapisi sepatu kulit ini akhirnya turun dari mobil setelah Jeff menepikan mobil tepat di depan lobi. Dan ketika aku memasukinya, seperti biasa, aroma kantor tidak pernah berubah. Aku senang di dalam sudah ramai, padahal masih pukul delapan kurang sedikit.
Tatapan mereka pun beragam—sama seperti nasabah di luaran sana, melihatku dari atas hingga ke bawah tanpa celah. Tapi aku tak memedulikannya.
Kulihat George—wakilku itu menghampiri setelah aku masuk ke ruang kerja yang satu bulan ini tidak kusinggahi.
"Tuan Benjamin, para investor sudah menunggu di ruang meeting."
"Segera," kataku, lalu menghela napas dalam-dalam, mempersiapkan beberapa keperluan untuk meeting.
Aku senang, kerja sama tim yang cepat, tanggap melaporkan segala hal serta meng-upgrade grafik terbaru, kendati warna merah di layar ini tampak mengerikan untuk dipandang, dan aku yakin para investor sudah melihatnya.
Kubuka pintu kaca itu. Sejuk. Aroma pengharum ruangan dan kopi menguar tak kupedulikan. Disusul oleh kedatangan timku yang juga duduk bersebelahan dengan deretan para investor dengan masing-masing jas yang begitu berkarisma.
Kulihat sekilas wajah mereka tampak terkejut memandangku. Mungkin mereka terheran-heran melihat wajahku yang masih sedikit memar, kendati sudah membaik.
"Tuan Benjamin, bagaimana kabar Anda?" tanya salah seorang investor wanita.
Aku tersenyum tipis. "Seperti yang Anda lihat, Nona Sarah. Aku baik-baik saja."
Dia hanya mengangguk, tampak menghormati situasi.
"Baik." Aku menghela napas dalam-dalam setelah semuanya hening, lalu memimpin doa bersama sebelum memulai. Ini sudah menjadi budaya perusahaan.
Tatapan antusias mereka membuatku semakin bersemangat untuk meyakinkan mereka yang sedang menuntut jawaban.
"Langsung saja, Tuan dan Nona. Seperti yang kita ketahui, perusahaan kami sedang mengalami kerugian. Tindakan awal yang sangat efisien sudah dilakukan—melakukan pembekuan selama tiga hari. Saya pastikan aset kita semua aman, meski grafik belum sepenuhnya membaik," tuturku.
"Ada improve?" imbuhku tanpa ragu—siap menerima segala protes mereka.
Salah seorang investor lantas mengangkat tangannya. "Aset tetap aman, tapi bagaimana dengan kepercayaan nasabah? Uang harus tetap berputar, Tuan Benjamin. Sedangkan kepercayaan sedang runtuh saat ini. Mungkin saja mereka sedang berbondong-bondong ingin menarik uangnya."
Sudah kuduga, pertanyaan ini akan muncul, kataku dalam hati. "Pembekuan uang adalah bentuk tindakan darurat kami, dan ini bekerja. Kepercayaan nasabah di luar kendali kami, tapi kami bisa mengendalikan sistem—tim kami sedang memperketat sistem keamanan yang baru. Kami punya kolega dan banyak perusahaan yang bekerja sama, Anda tidak perlu takut. Saya yakin, perlahan orang akan mengerti."
"Lalu kapan pembekuan berakhir?"
"Tidak akan lama. Yang kami lakukan tidak hanya mengamankan aset, tapi juga berupaya menangkap pelakunya," balasku, lantas membatin. Masalah ini terlalu bertepatan untuk dikatakan masalah bisnis. Tapi sang peretas kemungkinan besar punya maksud tertentu untuk meruntuhkanku dari berbagai arah.
"..."
Banyak hal yang aku bahas pada pertemuan hari ini, dan kurasa itu belum cukup. Aku lembur, bersama beberapa tim kepercayaanku yang baru—hasil rekomendasi Kellan dari bisnis keluarga.
Sistem keamanan perusahaan kupersempit, yang bahkan kepala divisi staf IT pun tidak kuberi tahu kode akses yang baru. Hal ini kulakukan demi menangkap pengkhianat yang ada di dalam timku sendiri. Dan orang yang mendadak mengundurkan diri akan menjadi sorotan nantinya.
Meski aku sendiri tidak begitu yakin, apakah pelakunya ada di dalam kantorku sendiri atau berada di Verona, tapi berdasarkan semua kesialan ini, dapat ditarik kesimpulan, sang peretas sudah ikut mencampuri urusan pribadiku.
Aku harus tahu pelakunya, lalu memenjarakannya secepat mungkin.
---
Malamnya. Di kamar yang lumayan luas ini, kutatap cermin yang memantulkan rupa diriku sendiri. Rapi mengenakan kemeja putih lengan panjang juga celana formal hitam. Malam yang seharusnya kugunakan untuk beristirahat, kini harus kugunakan untuk makan malam bersama keluarga Remark. Katanya Ayah dan Ibu mengundangnya.
Tentu saudaraku yang lain juga memboyong istri atau suami, bahkan anak mereka, kecuali aku yang hanya membawa diriku sendiri.
Aku bukan orang yang terakhir datang dan duduk di hadapan meja lebar berlapis kain putih ini, melainkan keluarga Remark tiba setelah semua makanan dihidangkan. Begitu menggugah selera, mengingat aku baru pulang bekerja dan belum menyantap apa pun.
Aku menoleh ketika kursi di samping kananku itu ditarik, diiringi duduknya seorang wanita bergaun biru navy dengan rambut blonde yang terurai bergelombang. Dia tersenyum padaku, membuatku dapat melihat riasannya yang natural.
Aku mengenal wanita ini. Yessi Snipes Remark, yang bulan kemarin aku sempat digosipkan dekat dengannya.