Connesso

Cano
Chapter #49

Chapter 49 - MARCELLO'S POV

Sudah dua jam berlalu mobil metalik hitamku menembus udara sejuk antara Milan dan Verona.

Semalam aku menginap di hotel, setelah menyaksikan peragaan busana yang diadakan di salah satu ballroom hotel eksklusif. Di sana aku bertemu dengan para desainer, model serta orang yang memiliki pengaruh di dunia fashion Italia.

Aku bersyukur, dalam satu minggu ini luka memarku sudah sepenuhnya pulih, sehingga aku sudah bisa bekerja dengan normal. Kabar baiknya, manajerku memberitahu ada project baru yang menginginkanku bermain film. Informasinya mendadak sekali, katanya tiga bulan lagi.

Aku tak menampik, ini tawaran yang sangat menggiurkan, namun mengingat aku sudah berjanji pada Mia akan meninggalkan dunia hiburan, ini membuatku bimbang. Aku senang Mia perlahan berubah, ia tak lagi ketus saat kuajak berbincang.

Sayang sekali bila Mia yang mungkin saja hatinya telah kembali terbuka untukku harus diberi harapan palsu. Aku ingin hubunganku dengan Mia baik-baik saja, maka aku memutuskan untuk menahan tawaran itu, kendati kemungkinan besar aku akan menolaknya.

Aku akan pulang ke rumah Mia, lalu bermain dengan Rogero. Tapi sebelumnya aku akan mampir sebentar ke kantor, untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal, terutama mainan yang sudah kubeli untuk anakku.

Karena kantorku tidak terlalu besar, dan tidak berada di pusat kota, aku harus memarkirkan mobilku di parkiran umum. Berjalan sedikit tak masalah. Pukul delapan pagi ini pasti beberapa timku sudah datang.

Sesampainya di depan kantor, kulihat di samping tiang lampu depan, seorang wanita tengah berdiri mengenakan mantel cokelat, rambutnya yang pirang itu diikat rapi menjuntai. Tetapi aku tidak memedulikannya, lebih memilih masuk ke dalam kantor.

Di dalam, kulihat sudah ramai saja, ada manajer dan timku yang entah sejak kapan telah hadir. Dan seperti biasa, mereka menyapaku.

"Hai, Marcello. Maaf kami tidak menemanimu ke Milan. Bagaimana? Apa kau kerepotan?" tanya salah satu dari timku, kami lantas bersalaman.

"Tidak sama sekali, aku menikmatinya. Staf bergerak lebih cepat karena produk tidak terlalu banyak. Apa mereka sudah sampai?"

"Sudah, sejak malam, barang-barangnya ada di belakang," balasnya dengan ibu jari yang menunjuk ke ruang belakang. "Hei Marcello, tadi ada yang mencarimu," susulnya, dahiku spontan mengernyit.

"Siapa?"

"Aku tidak tahu, katanya dia menunggumu di depan."

"Perempuan?"

"Iya. Dia pakai mantel cokelat."

"..."

Pasti wanita tadi.

Segera saja aku keluar setelah mengambil paper bag berisi mainan. Kulihat wanita itu masih di sana. Dia menoleh, menghampiriku.

"Tuan Marcello," katanya, wanita itu tersenyum, lalu menjulurkan tangannya. "Apa kabar?"

Tanpa ragu aku menyalaminya. "Baik. Kabarku baik sekali." Siapa dia? Aku tidak kenal sama sekali. Apa dia model baru? batinku.

"Aku datang untuk meminta sedikit waktumu. Bisa kita minum kopi sebentar?" ucapnya tanpa menyebutkan nama sama sekali.

"Tentu."

"..."

Kami berjalan bersama, mencari kafe terdekat. Baru saja wanita ini berterus terang, ingin minum di kafe yang tidak terlalu ramai pembeli, itulah sebabnya dia datang satu jam sebelum kantorku buka, katanya. Entah benar atau tidak aku tidak peduli.

Setelah beberapa menit kami mencari kafe, duduk dan menunggu, akhirnya kopi pesanan kami datang. Kulihat asapnya masih mengepul menguarkan aroma khas, yang sepertinya kami akan duduk sedikit lebih lama—menunggu kopi sedikit menghangat.

"Aku membawa kabar yang sangat penting, Tuan Marcello," katanya, dengan anggun terduduk tegap tanpa menyentuh cangkirnya sedikit pun.

"Terus terang saja, aku tidak mengenalmu. Bagaimana ceritanya kau membawa kabar penting untukku?"

Wanita itu tersenyum ramah, lalu berucap, "Aku Yessi Remark, dari Seattle."

Seattle? Seketika itu juga aku teringat pada Benjamin. "Senang bertemu denganmu, Nona Yessi," balasku menghormatinya. Aku yakin dia pasti kenal dengan Benjamin.

"Aku tidak tahu harus memulai obrolan dari mana—"

Kalimatnya tak dirampungkan. Kulihat dia menunduk, merogoh tasnya, mengambil sebuah amplop cokelat, lalu menaruhnya di antara cangkir kopi kami.

Kutatap amplop itu seperti tidak asing, aku pernah melihatnya satu kali. Ya, aku ingat. Di rumah sakit.

"Apa ini?" tanyaku.

"Surat hasil tes DNA yang asli," tuturnya.

Aku mendelik terheran-heran. Yang asli? Apa maksudnya? Firasatku mendadak tidak enak. "Maaf, tapi aku tidak mengerti ..."

Mengapa dia tiba-tiba menyinggung hasil tes DNA? Tahu apa dia? Apa hubungannya dengan Benjamin? Pikirku.

Lihat selengkapnya