Connesso

Cano
Chapter #50

Chapter 50 - MIA'S POV

Seperti kata pepatah, cinta mampu membuat kewarasan seseorang menghilang. Bukan benar-benar hilang, mungkin hanya tertidur sebentar.

Itu yang sedang terjadi padaku. Tujuh hari berlalu setelah tes DNA. Benjamin tak kunjung memberiku kabar. Sudah puluhan pesan kukirim tapi tidak ada indikasi pesan sudah dibaca atau nomornya aktif. Aku seperti sedang mengirim pesan pada tembok—bisu, tak pernah terbalas.

Kau ke mana, Benjamin? kataku dalam hati, sambil fokus berkendara hendak pulang ke rumah setelah pulang dari kantor.

Aku bisa menjadi wanita yang kuat, mengatur perusahaanku sendiri, keinginan serta hidupku sendiri. Tapi wanita tetaplah wanita, makhluk perasa yang sangat pandai menutupi kekurangan dan kesedihan. Bukan berarti lemah. Wanita kuat di luaran sana sebenarnya hanyalah bentuk atau upayanya untuk melindungi dirinya sendiri.

Tapi bukankah kau sudah mendapatkannya dari Marcello? Dia mencintaimu, Mia, logikaku menentang keras, seolah tak terima.

Batinku lantas menimpali. Aku sudah memberikan hatiku untuknya di masa lalu, tapi sekarang aku tidak ingin lagi. Bukankah cinta butuh timbal balik? Persetan dengan wanita kuat! Aku manusia, bukan robot.

Aku memacu mobilku lagi setelah berhenti di lampu merah, lalu mengambil jalur kiri—menghindar dari jalan utama menuju rumah.

Tidak jauh sama sekali, jalur ini masih cukup ramai. Aku menoleh setelah menepikan mobil tepat di depan sebuah rumah—rumah milik Benjamin.

Beberapa hari ini aku memang sengaja menyempatkan diri datang ke sini hanya demi melihat rumah Benjamin, barangkali dia keluar dari rumah atau kami bisa bertemu, kendati hanya menatapnya dari luar, namun momen makan malam sederhana bersamanya kala itu begitu kurindukan.

"Apa Benjamin sudah kembali ke Seattle?" gumamku bertanya-tanya.

Aku mengusap rambutku dengan acak, mengecek ponselku demi melihat ruang chat yang tampak mati.

"Kalau kau ke Seattle kenapa tidak memberitahuku? Setidaknya berpamitan atau sekadar basa basi," protesku berbicara pada ponselku sendiri, benar-benar seperti orang gila.

Aku juga sudah berulang kali mengintip akun media sosialnya, tapi tidak ada kabar terbaru, ataupun unggahan. Dan kali ini aku ingin mengeceknya lagi. Namun tetap nihil. Kemudian aku beralih melihat kolom tag-nya.

Kelopak mataku melebar seketika—ada unggahan terbaru yang menandai akun Benjamin. Buru-buru aku mengekliknya.

Aku termangu, mataku berkaca-kaca dengan sendirinya. Setelah berhari-hari tidak ada kabar, kau mengabariku dengan kabar menyesakkan ini, Benjamin?

Aku membuang napas dengan kasar, sambil menggeser deretan foto-foto itu. Aku melihatnya dengan jelas—foto Benjamin dan seorang wanita, bersama keluarga besarnya, serta jepretan hidangan makan malam yang begitu glamor.

Aku benci melihatnya, tapi aku harus tahu. Siapa itu 'remarkyessi'? Segera aku berkunjung ke halaman profilnya, lalu melihat unggahannya satu per satu.

Lihat selengkapnya