Crazy Rich

Nuel Lubis
Chapter #1

Malah Membicarakan Sepak Bola

Suhandi datang lebih awal ke kafe kecil di pinggir Jalan Panjang, Kebon Jeruk. Kafe itu tidak mewah. Bisa terlihat dari adanya meja kayu, kursi besi hitam, dan aroma kopi yang lebih banyak bercampur bau gorengan. Namun justru di tempat seperti inilah ia merasa pembicaraan bisnis bisa lebih cair. Tidak kaku atau penuh basa-basi ala ruang rapat para pebisnis elit.

Ia membuka map tipis berisi proposal Weweh Plastic. Di halaman depan, logo sederhana berwarna hijau. Terlihat ada kaligrafi berupa dua huruf W yang saling bertaut. Yang terlihat sedikit kusam karena sering dibuka-tutup. Di dalamnya ada rencana ekspansi cabang kedua di Bekasi. Di sana, rencananya, akan menggunakan mesin cetak plastik baru, gudang yang lebih besar, dan potensi kontrak dengan beberapa pabrik UMKM di sekitar cabang keduanya.

“Kalau Freddie mau masuk sebagai donatur atau investor kecil aja, ini bisa jalan,” gumam Suhandi pelan, menyesap matcha.

Freddie Hatumesen adalah teman SMP-nya. Dulu, Freddie dikenal sebagai putra Ambon yang paling ribut di kelas, jago basket, dan selalu bawa majalah bola ke sekolah. Sekarang kabarnya Freddie cukup mputr. Freddie lebih sering main di proyek properti. Temannya yang pernah menjadi ketua kelas tersebut, dia kabarnya sering bercengkrama dengan orang-orang yang tajir melintir.

Tak lama kemudian, Freddie datang. Rambutnya klimis, jam tangan besar di pergelangan tangan kirinya. Bersamanya tiga orang lain: Jody, Reza, dan Yoseph. Mereka semua langsung tarik kursi tanpa banyak tanya.

“Handi!” seru Freddie sambil menepuk bahu Suhandi. "Gila, lama banget gak ketemu lo!

“Perasaan bulan lalu, kita masih ketemu,” jawab Suhandi sambil tersenyum tipis. “Oh yah, gue emang sengaja ngajak lo ketemu, Fred. Ada yang mau gue omongin.”

“Iya, iya, santai aja,” kata Freddie. “Eh, kalian udah lihat derby Milan semalem belum?”

Suhandi menarik napas. Oke… belum apa-apa juga, pikir Suhandi mulai gerah. Bagaimanapun Suhandi kurang menyukai sepak bola.

“Busuk, anjir,” Jody langsung nyamber. “Emang sebusuk itu FIGC. Harusnya Serie A bisa saingan sama EPL. Klub besar banyak, sejarah lebih gila malah.”

“Nah itu,” sahut Reza. “Tapi pengurusnya kolot. Akhirnya ketinggalan jauh. Sama kayak Indonesia, negara yang harusnya maju, tapi kebanyakan koruptor jadi miskin.

Reza langsung tertawa dan melanjutkan kata-katanya setelah minum es teh manis yang dipesan Suhandi sebelum Freddie, dkk, datang. Ujarnya, “Kalau Italia malah kebanyakan mafia.”

Yoseph ngakak dan menimpali, “Hahaha, analoginya sadis tapi ngena, cuy...”

Suhandi meneguk kopinya. Proposal di depannya belum disentuh sama sekali.

“Iya aneh banget sih,” lanjut Freddie, makin semangat. “Selevel Inter sama Milan tapi gak punya stadion sendiri. Kan lucu.”

“Bukan karena manajemen klub gak mampu,” potong Jody. “Pemerintah Italia aja yang ribet. Alasan klasik mereka adalah bangunan bersejarah. Gak mau ilangin cagar budaya.”

“Makanya San Siro sama Olimpico itu punya pemerintah,” tambah Reza. “Klub cuma nyewa. Tapi gimana mau maksimalin pemasukan? Investor juga mikir dua kali, lah.”

Suhandi berdehem kecil. “Fred—”

Lihat selengkapnya