Suhandi datang ke Koplok Gado-gado SCBD dengan perasaan setengah berharap, setengah curiga. Ia datang penuh harap, karena Rossi Tumbelaka adalah teman SMP di Markus yang dulu paling kreatif di kelas. Seingat Suhandi, setiap pelajaran Seni Musik, Rossi pasti diminta Pak Hutasoit untuk bermain gitar. Bisa saja, mengacu pada pengalamannya bersama Rossi, Suhandi mendapatkan angin segar untuk Weweh Plastic.
Namun, Suhandi sedikit curiga karena pengalaman sebelumnya dengan Freddie Hatumesen masih terasa hangat di tengkuk. Janjinya untuk membicarakan bisnis. Ujung-ujungnya malah untuk membicarakan sepak bola. Apalagi jika ingat dulu Rossi pun hobi sepak bola. Klub sepak bola favoritnya adalah AC Milan.
"Moga Rossi gak kayak Freddie," kata Suhandi lirih. Pandangannya langsung ke arah papan restoran tersebut.
Omong-omong, Rossi sekarang menjadi chef tetap di Koplok Gado-gado. Dulu Rossi pernah bercerita, dapur adalah satu-satunya tempat yang tidak akan pernah mengkhianatinya. Tidak ada basa-basi. Tidak ada drama investor.
Suhandi datang saat jam makan siang. Restoran itu penuh pekerja kantoran, jaket blazer bercampur tas laptop. Antrean di restoran ado-gado itu seperti antrean sembako zaman krisis moneter 1998.
Untungnya Rossi keluar dari dapur dengan celemek hitam dan wajah berminyak keringat.
“Anjir, lu makin keliatan bos kecil,” katanya sambil menepuk lengan Suhandi.
“Lu juga makin keliatan kayak tukang bakso premium,” balas Suhandi.
Mereka berdua tertawa bersama-sama, langsung duduk di pojok restoran. Suhandi bahkan sudah menyiapkan kalimat pembuka tentang Weweh Plastic. Sudah mempersiapkan obrolan yang dimulai dari potensi suplai kemasan ramah lingkungan untuk restoran, hingga tentang kerja sama B2B yang realistis.
Namun Rossi tiba-tiba melambai ke arah pintu. Ia berseru, “Brooo! Sini, sini!”
Masuklah tiga manusia dengan jaket ojek daring yang masih menempel di badan. Namanya Akbar, Agung, dan Adam. Rossi langsung memperkenalkan mereka sebagai teman satu ojek daring di perusahaan ojek daring bernama Crap.
“Handi, kenalin, ini investor masa depan lu,” ujar Rossi tertawa.
Suhandi memaksakan senyum dengan sangat terpaksa.
Mereka langsung duduk berlima. Beberapa saat kemudian, pesanan datang. Ada gado-gado, es teh manis, dan gorengan yang terlalu berminyak. Setelah itu, saat Suhandi baru mau buka mulut, Agung terlebih dahulu berkata-kata. Main cerocos tanpa titik dan koma.
“Bro, bener, anjir. Gue dulu pernah ke Madrid tahun 2012. Ke distrik Vallecas.”
Rossi dan teman-temannya sepertinya antusias. Mata mereka langsung ke arah Agung. Hanya Suhandi yang tidak begitu antusias. Dalam hati, Suhandi sudah menengarai bahwa mungkin akan terjadi lagi apa yang sudah alami bersama Freddie minggu lalu.
Agung langsung melanjutkan kata-katanya, "Stadion Rayo itu bener-bener kayak orang pinggiran dibanding Vicente Calderon sama Bernabeu.”
Adam ngakak dan berkata, “Yang paling kocak, toko resminya. Jual jersey, jaket, tapi dibungkus kantung kresek putih!”
“Bukan paper bag logo klub?” tanya Suhandi refleks.