Crazy Rich

Nuel Lubis
Chapter #3

Nila Membawa Secercah Harapan

"Tapi gue nggak janji, yah, Suh," ujar Nila menyesap matcha latte. "Eh, tapi gue usahain yang terbaik buat temen SMP gue. Proposal lo, gue pinjem dulu. Gue tunjukin ke Pak Hitman."

Hitman Nadapdap merupakan nama pemilik dari Nadapdap, Lauw, and Partners. Itu juga tempat Nila bekerja, sebagai asisten pengacara. Tahun 2026 ini sudah Nila bekerja di sana.

Hari ini Suhandi bertemu dengan Nila di Grand Indonesia. Demi Weweh Plastic berkembang, demi cabang baru selain di Tangerang Selatan. Ia rela berdesak-desakan di kereta. Rela pula bermasalah dengan pencopet, yang nyaris mengambil tablet miliknya.

Suhandi mengernyitkan dahi. Baru sadar bahwa ia melupakan beberapa detail. Benar juga yang dikatakan Nila tadi. Bahwa tidak harus di Bekasi juga, perihal cabang kedua Weweh Plastic.

Suhandi mengangguk cepat. Di kepalanya, kalimat “gue nggak janji” terdengar lebih jujur daripada semua “Oke, deh, kita follow up” yang sering ia dengar dari calon rekan lainnya.

Omong-omong, terkait Hitman Nadapdap, orangnya memang terkenal galak, teliti, dan, kata Nila, “lebih kejam ke dokumen daripada ke manusia, sih.”

Mereka duduk di salah satu kafe lantai tiga Grand Indonesia, menghadap jendela besar yang memantulkan bayangan gedung-gedung Thamrin. Suhandi masih teringat bagaimana dirinya merasa sedikit pegal akibat perjalanan pagi tadi. Ia berangkat dari Tangerang Selatan dengan kereta yang penuh seperti kaleng sarden. Bahkan sempat hampir kehilangan tablet saat seorang pencopet yang menyelipkan tangan terlalu percaya diri ke dalam ranselnya. Untung refleksnya masih tajam. Dan mungkin karena wajahnya yang sedang tidak ramah.

“Gila sih lo,” kata Nila sambil menggeleng. “Bela-belain jauh-jauh cuma buat ketemu gue.”

“Ini bukan sekadar pertemuan, Nila,” jawab Suhandi. “Yah, demi masa depan juga.”

Nila mendengus kecil, tertawa kecil, dan menimpali, “Bahasanya kayak yang suka gue lihat di akun-akun motivator, terutama motivator cinta.”

“Ya elah, Nila, masa sahabat lo ini disamain sama motivator kelas cinta itu? Eh, tapi lo tau gue serius kalau ngomongin soal peluang bisnis.”

Nila menaruh gelasnya. Lalu menatap Suhandi dengan ekspresi yang lebih profesional daripada nostalgia SMP.

“Tapi, sekali lagi gue nanya, Suh,” katanya, nada suaranya berubah. “nggak harus di Bekasi, kan? Kalau cabang kedua di daerah lain gimana? Ambil contoh Kelapa Gading, Suh. Gue atau bos gue, Pak Hitman, emang sering berkeliaran di sana. Banyak client F&B, sama anyak gudang distribusi juga.”

Bekasi selama ini Suhandi anggap pilihan paling masuk akal. Selain dekat dengan industri, sewa gudang relatif lebih murah, dan akses tol yang lumayan terjangkau. Namun ia lupa satu hal. Suhandi melupakan hal-hal lain seperti jejaring. Sontak ia terdiam cukup lama.

“Kelapa Gading…” gumam Suhandi.

Lihat selengkapnya