"Utang yang kayak gitu," kata Erick menyeruput kopi pahit, "biasanya diitung dengan cara menghitung harga emas yang berlaku saat itu."
Suhandi mengambil satu pisang goreng, dan menganggukkan kepalanya. Hanya membalas, "Harga emasnya berapa, nah, segitulah harga emasnya dibayar."
Erick lalu membaca surat utang dari engkong-nya Suhandi. Surat itu ditulis dalam Ejaan Van Ophuijsen,yang masih menggunakan 'dj' untuk menyebut 'j'.
"Soerat perjataan hoetang
Dengan soerat ini, saja menjatakan, saja poenja hoetang sebesar 8330 roepiah kepada saoedara Aloeng."
"Pusing ya, bro--" Suhandi terkekeh, "--bacanya? Ejaan yang belum disempurnakan, soalnya."
Erick ikut terkekeh. "Bisa aja, bro. Tapi, gede juga utang yang harus dibayarin si Alung ke engkong lo, Suh."
Suhandi mengernyitkan dahi, bertanya, "Delapan ribuan sih kecil."
Erick makin memperbesar ttawanya, lalu berkata, "Lah, ini kan, surat utangnya dibikin tahun 1965. 25 Mei 1965. Utang segitu, sekitar Rp 8330, kalau dikonversi ke nilai rupiah sekarang, yah, gede, lah, Suh. Apalagi jaminannya tanah 5 hektar di Karawang. Buset!"
Mendadak Suhandi terbelalak, dan bertanya lagi, "Seriusan?"
Erick mengangguk sambil menunjuk angka di surat tua itu. Ia lalu menjawab, “Serius, Suh. Lo jangan lihat angka delapan ribu tiga ratus tiga puluh rupiah dari kacamata tahun 2026. Coba lihat dari kacamata tahun 1965.”
Suhandi mengambil kembali surat itu. Kertasnya sudah menguning. Bagian sudutnya bahkan mulai rapuh. Ia membacanya perlahan, berusaha memahami setiap kata yang ditulis dengan ejaan lama.
Soerat perjataan hoetang.
Ia tersenyum sendiri.
“Gue baru sadar,” kata Suhandi. “Selama ini gue kira utang delapan ribuan itu receh banget.”
“Justru itu,” kata Erick. “Nilai uang banyak berubah. Yang gak berubah itu justru bukti bahwa engkong lo pernah meminjamkan uang sebesar itu kepada seseorang.”
“Iya, ke seseorang yang namanya Alung.”
Suhandi kembali membaca bagian bawah surat. Tanggalnya jelas. 25 Mei 1965. Lebih dari enam puluh tahun lalu. Tangannya mendadak terasa dingin.
“Dan lo bilang jaminannya lima hektar?”
“Bukan gue yang bilang. Lihat sendiri deh, suratnya.”
Erick membalik halaman lain yang ternyata terselip di belakang surat utang. Ada tulisan tangan lain, lebih pendek, yang menyebut sebidang tanah di Karawang sebagai jaminan.
Suhandi membacanya dua kali. Lima hektar, di Karawang. Ia sekonyong-konyong menelan ludah.
“Jangan-jangan ...” kata Suhandi agak panik.
“Jangan-jangan apaan, Suh?”
Suhandi tidak menjawab. Pikirannya mulai bekerja liar. Selama bertahun-tahun, keluarganya hanya mengenal cerita tentang engkongnya sebagai seorang pedagang yang cukup berhasil. Tidak pernah ada cerita mengenai tanah lima hektar. Tidak pernah ada yang menyebut nama Alung. Apalagi utang dengan nilai yang, jika dilihat dari konteks zamannya, bukan jumlah kecil.
“Kalau tanah itu masih ada atau gak, Rick?” tanya Suhandi akhirnya.
Erick mengangkat bahu. “Nah, itu pertanyaan yang harus lo cari jawabannya.”
Suhandi menatap surat itu, bertanya, “Kalau sudah dijual?”
“Ya sudah. Tapi kalau belum,” Erick minum sebentar kopinya. "Bisa jadi keluarga lo punya aset yang selama ini gak diketahui siapa-siapa.”
Suhandi terdiam. Selama ini ia sibuk memikirkan bagaimana membuka cabang kedua Weweh Plastic. Menghitung modal, mencari investor, mengajukan proposal, bahkan rela berdesak-desakan di kereta demi bertemu orang-orang yang mungkin bisa membantu usahanya. Ternyata, mungkin saja keluarganya memiliki sejarah finansial yang jauh lebih rumit daripada yang pernah ia bayangkan. Ia kembali memandangi nama Alung.
“Bro .…”
“Apa, Suh?”
“Kalau utangnya belum dibayar sampai sekarang, itu gimana?”