Dua hari setelah berbicara dengan Dadang, Suhandi belum juga bisa melupakan surat utang itu. Surat yang awalnya ia anggap cuma selembar dokumen tua milik keluarga, kini berubah menjadi sesuatu yang terus mengganggu pikirannya. Bahkan ketika sedang mengurus pesanan Weweh Plastic, matanya sesekali melirik map cokelat yang ia simpan di laci meja.
Di dalamnya ada surat bertanggal 25 Mei 1965. Ia membaca sekali lagi. Tentang utang sebesar Rp8.330. Atas nama Alung. Dengan jaminan tanah lima hektar di Karawang.
“Gue jadi kepikiran terus,” kata Suhandi kepada Erick ketika mereka kembali bertemu di sebuah kedai kopi.
Erick mengaduk kopinya, membalasnya, “Wajar, Suh. Tapi jangan buru-buru menganggap itu harta karun.”
“Gue tahu, Rick.”
“Yang harus kita cari sekarang justru nilai ekonominya.”
Suhandi mengernyitkan dahi. “Maksudnya?”
Erick menunjuk surat tersebut. Ia coba menjelaskan sebisanya, “Delapan ribu tiga ratus tiga puluh rupiah pada 1965 itu bukan angka yang bisa dibandingkan mentah-mentah dengan delapan ribu rupiah sekarang. Ada inflasi, perubahan nilai uang, suku bunga, bahkan perubahan struktur ekonomi.”
Suhandi mengangguk pelan. “Inflasi itu harga naik, kan?”
“Kurang lebih. Tapi gampangnya begini,” jawab Erick. “Nilai uang kita makin encer. Jadi ketika orang bilang harga barang naik, sebenarnya salah satu cara melihatnya adalah nilai uang kita yang menyusut dari waktu ke waktu.”
Suhandi memainkan ujung kertas surat utang tersebut. Ia spontan melemparkan pertanyaan, “Berarti Rp8.330 tahun 1965 gak bisa dianggap receh?”
“Jelas gak bisa.”
“Gue selama ini memang terlalu melihat angka nominal.”
“Semua orang juga begitu,” Erick kemudian mengambil selembar kertas kosong dan mulai menulis. “Belum lagi ada suku bunga.”
“Yang ini gue ngerti sedikit.”
“Anggap saja harga sewa uang. Kalau lo minjam uang orang lain, bunga adalah biaya yang harus lo bayar karena menggunakan uang tersebut. Kalau lo menabung di bank, bunga adalah imbalan karena sebenarnya lo sedang meminjamkan uang lo kepada bank.”
Suhandi mengangguk. “Makanya KPR atau kredit motor bisa terasa makin berat kalau bunga naik.”
“Betul," Erick melanjutkan penjelasannya. “Dan kalau ekonomi masuk resesi, masalahnya beda lagi.”
“Ekonomi menyusut? Emang bisa?”
“Bisa, lah, Suh. Kalau terjadi berulang atau cukup dalam, bisnis mulai megap-megap. Penjualan turun. Produksi dikurangi. Perusahaan mulai melakukan efisiensi. Dan kalau keadaan parah, PHK massal bisa terjadi.”
Suhandi mendadak terdiam. Ia langsung teringat Weweh Plastic.
“Kalau resesi kejadian sekarang, bisnis gue juga bisa kena, dong.”
“Semua bisnis juga bisa kena.”
“Berarti gak ada bisnis yang benar-benar aman.”
“Gak ada sih seharusnya.”
Jawaban itu membuat Suhandi tertawa hambar. “Enak juga jadi orang kaya.”