Crazy Rich

Nuel Lubis
Chapter #9

Terpikirkan Usaha Duplikat Kunci

Dari Karawang, Suhandi bergegas menuju tempat kerjanya yang baru saja dibuka di Jakarta Utara. Di dekat kantor pengelolaan dan pemasaran plastik miliknya, tiba-tiba ia malah terpikirkan dengan sebuah booth kecil yang dihuni oleh seseorang yang kata salah seorang karyawannya sudah membuka bisnis duplikat kunci sejak 2007.

Roki, salah seorang karyawan terkekeh. "Jangan salah, Koh. Bisnis kayak gitu gak ada matinya."

"Kok bisa?" Suhandi mengernyit. "Bayar booth-nya aja udah makan biaya. Belum lagi bayar biaya mesin servis kuncinya."

"Justru tukang kunci gitu, Koh," Roki langsung menjelaskan. "Mereka malah nggak butuh trafik penjualan es teh manis atau es boba. Nggak perlu juga bayar influencer buat larisin usaha mereka."

"Coba deh lo jelasin," pinta Suhandi yang sesekali matanya memeriksa buku laporan keuangan. "Gue bingung kenapa sih bisa tahan aja si Kokoh jalani bisnis duplikat kunci."

"Mesinnya juga kuat dipakai bertahun-tahun," Roki langsung menjelaskan, setelah sebelumnya meletakkan setumpuk plastik yang baru saja dibuat. "Mereka juga jualan solusi instan di tengah kemunculan biaya kunci digital. Belum lagi, gak butuh AC, gak butuh bayar pajak reklame yang mahal, gak butuh juga bayar upgrade software."

Suhandi hanya angguk-angguk kepala.

"Harga per batang aja, itu cuma 500 perak. Bener-bener bisnis high margin low over head yang sebenarnya, Koh."

Kali ini Suhandi hanya tertawa terbahak-bahak. Roki ini ternyata melek dunia finansial.

"Kemarin aja, Koh," Kembali Roki berceloteh setelah menata stok, "gue barusan aja perbaikin kunci immobilizer di booth itu. Kagetnya, dia buka pengakuan, dia baru aja beresin kerjaan dia, yang ambil kerjaan dari pengelola mall. Gile bener, nilainya bisa sampai sepuluh juta."

"Seriusan lo?" Suhandi mengernyit.

Roki mengangguk dan berkata lagi, "Terus, justru teknisi kayak mereka, banyak di antara mereka punya kontrak tersembunyi sama manajemen gedung buat mengelola master key system. Jadinya, yah, nggak perlu nunggu kita dateng ke kita tiap hari."

"Mending usaha kayak gitu ya, bro," Suhandi terkekeh dan buka suara. "Daripada sebar CV di LinkedIn, mendinh jeli sama bisnis high margin low over head yang banyak banget di sekitar kita."

Roki terkekeh. "Kayak gue, Koh. Kalau modal terkumpul, gue pengen buka bisnis duplikat kunci kayak si Kokoh itu. Udah nemu lahannya, di daerah Mampang. Bekingannya lumayan juga."

Suhandi yang sedang memeriksa laporan keuangan langsung mengangkat kepala dan bertanya, “Bekingan?”

“Bukan bekingan preman, Koh!” Roki buru-buru tertawa. “Maksud gue, bekingan dari lingkungan sekitar. Ada perumahan, perkantoran, kos-kosan, apartemen. Orang yang kehilangan kunci, orang yang mau bikin cadangan, atau orang yang mau ganti silinder. Pasarnya ada terus. Aliran dana stabil bakal ada terus di rekening gue.”

Suhandi mengangguk. Ia kembali menatap layar laptop.

“Menarik juga.”

“Makanya gue bilang, jangan cuma lihat bisnis dari tampilan luarnya.”

Suhandi tersenyum. Ucapan Roki mengingatkannya pada sesuatu yang baru saja ia pelajari selama perjalanan hidupnya.

Kadang-kadang, bisnis yang terlihat kecil justru memiliki struktur yang sangat sehat.

Ia kembali menatap booth kecil di dekat kantor Weweh Plastic. Ukurannya tidak lebih dari beberapa meter persegi. Tidak ada papan reklame besar. Tidak ada lampu neon mencolok. Tidak ada pegawai berseragam juga. Bahkan tidak ada musik yang sengaja diputar keras-keras untuk menarik perhatian.

Namun booth itu tetap hidup. Setiap kali seseorang datang membawa kunci, si pemilik mengerjakan sesuatu. Begitu selesai, dibayar, pelanggan pergi. Tidak perlu menunggu makanan matang. Tidak perlu khawatir bahan baku akan segera basi. Tidak perlu membayar influencer untuk membuat video promosi.

Suhandi terkekeh sendiri. “Lucu juga.”

“Apanya, Koh?”

“Gue baru sadar, selama ini orang sering menganggap bisnis harus kelihatan besar supaya dianggap sukses.”

Roki mengangguk. “Padahal belum tentu gitu.”

Suhandi langsung menutup buku laporan keuangan. Ia mulai membuat perbandingan di kepalanya. Weweh Plastic memiliki gudang, mesin, kendaraan distribusi, stok, listrik, pegawai, biaya pemeliharaan, biaya pengiriman, dan berbagai pengeluaran lain.

Sementara bisnis duplikat kunci mungkin memiliki mesin yang dapat digunakan bertahun-tahun dan bahan baku yang relatif sederhana. Tentu saja bukan berarti bisnis kunci selalu mudah. Teknisi tetap membutuhkan keterampilan. Jenis kunci semakin beragam. Mobil modern juga menggunakan sistem elektronik dan immobilizer yang membutuhkan pengetahuan lebih tinggi. Justru di situlah peluangnya.

“Berarti bukan cuma duplikat kunci rumah,” kata Suhandi.

“Mobil juga, Koh. Bahkan kendaraan tertentu bisa jauh lebih mahal pengerjaannya.”

Lihat selengkapnya