Crazy Rich

Nuel Lubis
Chapter #10

Masalah Kredit Panci

"Ambil dulu aja, Koh," kata seorang penjual perlengkapan rumah tangga kepada Suhandi, "Bayarnya cuma dua ribu sehari."

Suhandi terkekeh dan meletakkan panci yang katanya impor dari Malaysia itu ke sela-sela yang ada di bak terbuka mobil si penjual itu, beserta temannya yang menjadi sopir.

Dalam hati, Suhandi gemas sendiri. Heran saja, bagaimana bisa panci yang seharusnya berharga Rp 50.000, mendadak berubah menjadi Rp 120.000. Mendadak pula ia teringat dengan kata-kata Nila. Itu tentang mindring alias bank keliling.

*****

Besoknya, saat Suhandi menemani Erick ke bank, untuk mengurus rumahnya Erick yang dalam proses lelang, ia pun mencurahkan isi hati ke Erick.

Erick tertawa.

"Kenapa lo ketawa?" Suhandi mengernyit.

"Untungnya lo nggak ngikutin kata-kata sales perabot rumah tangga itu," jawab Erick terkekeh. "Lagian panci itu kan harga tokonya, rata-rata toko menjual panci gitu seharga Rp 50.000. Lo cicil terus sampai Rp 20.000 sehari, lama-lama jadi Rp 120.000. Gila banget!"

"Kalah dah pembayaran kartu kredit di bank gue nabung," Suhandi tepuk jidat, terkekeh.

"Orang-orang kayak gitu, Suh," Erick menghela napas, "caranya nagih juga nggak banget. Lebih galak dari preman. Untungnya lo gak jadi ambil kredit panci di abang-abang itu. Yang kayak gitu, bahkan bisa melanggar aturan KUHP baru. Orang-orang yang jadikan aktivitas kayak gitu jadi mata pencaharian, bakal dipidana."

"Iya sih," Suhandi angguk-angguk kepala. "Eh, tadi kenapa harus ketawa gitu?"

"Sorry, sorry," Erick masih nyengir. “Gue ketawa bukan karena panci lo.”

“Yah, jangan gitu, lah," Suhandi agak tersinggung, tapi masih terkekeh. "Gue kan suka bantu-bantu lo juga."

"Yah, makanya gue minta maaf, Suh," kata Erick. “Untungnya lo akhirnya sadar kalau cicilan kecil bisa bikin orang gak sadar total pembayarannya.”

"Untungnya gue langsung keinget kata-kata beberapa orang."

“Yah, makanya jangan cuma tanya, ‘Berapa per hari?’ Harus tanya totalnya juga."

Erick sekonyong-konyong mengambil kertas kosong dari meja, lalu ia berkata lagi, “Misalnya secara sederhana, kalau dua ribu sehari, setahun sudah sekitar tujuh ratus tiga puluh ribu. Kalau ternyata harus bayar selama beberapa tahun, totalnya bisa berkali-kali lipat dari harga barang.”

Suhandi mengangguk. “Anjrit, gue bisa bikin orang jadi koruptor kecil-kecilan!”

“Eh, tapi bukan berarti semua cicilan itu jelek,” kata Erick. “Kredit bisa berguna kalau dipakai secara sehat dan kita tahu total kewajibannya. Masalahnya kalau orang cuma melihat angka kecil di depan.”

Suhandi termenung. Ia tiba-tiba teringat istilah yang pernah ia dengar dari Nila.

“Mindring," kata Suhandi yang mengucapkan itu ceplas-ceplos saja.

“Bank keliling kan itu?" sela Erick. "Sebutan masyarakat untuk pola pembiayaan atau penjualan kredit tertentu. Modelnya bermacam-macam. Jadi jangan pukul rata semua.”

Suhandi mengangguk.

“Yang penting jangan sampai orang membeli barang karena tergoda cicilan kecil, lalu baru sadar totalnya belakangan.”

Lihat selengkapnya