Kepala Suhandi benar-benar panas. Baru saja ia harus menjalani petualangan yang sangat melelahkan. Yang memaksa ia harus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Jaraknya saja sudah lebih dari 5 kilometer.
Eh, sekarang ia harus dibuat jengkel di sebuah bengkel langganan, yang tak jauh dari Weweh Plastic. Mana si empunya bengkel seperti tak merasa bersalah.
Bang Sianipar hanya cengengesan.
"Waduh, Bang, kok gini?" tanya Suhandi geleng-geleng kepala. "Aku kira Abang jujur. Abang yang numpahin sendiri, Abang yang minta saya suruh ganti. Hampir aja as roda aku rusak. Jangan gitu, lah."
"Aku minta maaf, lah, Koh," Bang Sianipar terkekeh sambil garuk-garuk rambut. "Jangan tersinggung."
"Terus tadi ngapain?" Mata Suhandi langsung melotot. "Lubang karburator aku kok malah diputer-puter? Untung aku sadar. Kalau nggak...."
Suhandi menggeleng-gelengkan kepala, sambil memegang lubang karburator. Ia berkata kesal, "Padahal baru aja minggu lalu aku ganti lubang karburator di bengkel resmi."
"Maaf, lah, Koh...."
"Tadi ngapain harus diputerin gitu? Lagian aku cuma minta tambal ban, kenapa harus buka kap? Untung aku langsung sadar."
Si Bang Sianipar hanya bisa menundukkan kepala, dan menggigit bibirnya.
"Maksudnya apa coba--" Suhandi masih gemas, "--oli kental dituangin ke area transmisi? Bisa rusak mesin aku, Bang, kalau dituangin cairan cair korosif gitu?"
"Yah, aku minta maaf, Koh," Pelan-pelan Bang Sianipar mengangkat kepala.
Untungnya Suhandi masih teringat kata-kata temannya yang lainnya, Yoshi. Tentang praktik-praktik curang di beberapa bengkel yang berkeliaran di jalanan. Itu seperti magic drop atau shadow sabotage.
Omong-omong Yoshi ini , selain pernah bekerja sebagai tester di salah satu restoran gado-gado di Jakarta Pusat, pernah juga bekerja sebagai ojek daring. Pernah pula Yoshi ini bekerja sebentar di bengkel, entah bengkel besar maupun bengkel kecil. Bahkan Yoshi memiliki kenalan yang bekerja di jaringan sindikat ini.
"Kadang oknum bengkel itu, Suh," kata Yoshi saat itu, "punya mata-mata gitu di beberapa titik rawan. Kalau nemu ranjau gitu, hati-hati, Suh. Bisa jadi yang nyebar itu, mereka udah kerja sama bareng oknum bengkel. Bahkan kadang suka ada main sama bagian derek. Gue ada tuh, punya temen yang kaya raya dari dapetin duit dengan nawarin jasa derek. Padahal dia punya informan di beberapa jalan."
"Lain kali jangan gitu, Bang," Suhandi spontan geleng-geleng kepala. "Kalau aku nggak langsung lihat... hampir aja aku buang bautnya. Untung aku tahu bakal Abang jual, kali, suku cadang bekas. Oli tadi juga, aku yakin nggak semahal itu. Dan, nggak perlu juga, kan, pakai oli?"
Si Abang Sianipar hanya cengar-cengir.
"Parah sih!" Suhandi berkata ketus. "Padahal aku udah lama jadi langganan di bengkel ini."
Bang Sianipar kembali cengar-cengir.
Kali ini Suhandi benar-benar tidak bisa ikut tertawa. Ia berdiri di samping kendaraannya sambil memeriksa bagian yang tadi disentuh. Ban memang sudah selesai ditambal. Namun pikirannya justru semakin kacau karena beberapa tindakan yang dilakukan Bang Sianipar tadi terasa tidak ada hubungannya dengan permintaannya.
Suhandi hanya datang untuk tambal ban. Tidak lebih. Bahkan ia tidak meminta pemeriksaan karburator. Tidak meminta penggantian oli juga. Apalagi ia tidak meminta servis transmisi. Apalagi sampai meminta penggantian suku cadang.
“Bang,” kata Suhandi akhirnya, lebih tenang, “aku ngomong begini bukan karena mau cari ribut.”
“Iya, Koh.”
“Aku cuma gak mau kejadian kayak tadi terulang lagi.”
Bang Sianipar mengangguk.
“Kalau memang ada kerusakan, bilang. Kalau memang perlu diganti, kasih tahu dulu. Jangan langsung diputer, dibuka, atau dituangin sesuatu tanpa izin.”
“Iya, Koh.”
“Karena kalau rusak, yang repot bukan cuma aku, Bang. Abang juga.”
Bang Sianipar kembali menggaruk rambutnya. Ia berkata, “Iya. Aku salah, Bang.”
Suhandi menghela napas. Sebenarnya ia masih kesal. Namun ia memilih tidak memperpanjang pertengkaran. Ia membayar biaya tambal ban sesuai kesepakatan, lalu memasukkan dompet ke dalam saku.
“Ini aja, Bang.”
“Makasih banyak, Koh.”
Suhandi hendak pergi ketika mendadak teringat sesuatu. Langsung ia berkata, “Eh, satu lagi.”
Bang Sianipar menoleh.
“Kalau lain kali aku datang lagi, tolong jangan buka bagian lain tanpa aku minta.”
“Iya, Koh.”
“Serius, nih!?”
“Iya, Koh.”