Crazy Rich

Nuel Lubis
Chapter #12

Tentang Para Petani yang Ditipu Oknum Bansos

Suhandi kembali ke Karawang. Kali ini ia ke sana bersama Dadang. Awalnya mereka berjanji bertemu di Mall Metropolitan, Bekasi. Dari sana, dengan mobil sedan Suhandi, mereka berdua bergegas ke sana.

Selama perjalanan, Dadang bercerita tentang pengalaman iparnya di Sukabumi.

"Apes euy, ipar aku itu, Koh," Dadang mencurahkan isi hatinya, "Si Kimung terima bansos sebesar dua ratus ribu, eh... dia malah jadi punya utang ke bank sampai lima puluh juta."

"Kok bisa gitu, Kang?" Suhandi mengernyitkan dahi.

Dadang mengangkat bahu. "Auk ah, Koh. Aku sendiri bingung sampai begini. Tapi bukannya ini yang dialami sama sembilan ratus petani kita, kan, Koh?!"

Suhandi hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

"Oknumnya sering ngaku-ngaku mau ngurusin bansos," lanjut Dadang. "Dokumennya ternyata, katanya sih Koh, bukan buat bansos. Malah diajukan buat KUR di salah satu bank swasta yang ada Sukabumi. Nilainya gila, euy. Sampai lima puluh juta per orang. Identitas setiap petani dipakai seenak udel. Duitnya malah sampai dikuasai orang. Nggak ada petani yang nikmatin, Koh. Parah sih, manusia-manusia kadal ini. Mana buku tabungan dan kartu ATM dikuasai orang lain."

"Kayak gitu sih," sela Suhandi. "kerugian negara bisa sampai 41 juta rupiah."

"Lebih kali, Koh," Dadang geleng-geleng kepala. "Untungnya aja, salah satu pelakunya bisa ketangkep. Udah jadi tersangka di polsek sana."

"Siapa tersangkanya?"

"Katanya sih, Koh, kepala cabang bank swasta itu."

"Harusnya yang jagain duit rakyat," Suhandi berdecak. "malah ngerugiin gitu."

"Aya-aya wae, Koh," Dadang gemas. "Motifnya diduga buat nutupin kredit macet di cabang itu. Biar performa cabang bank itu kelihatan baik-baik aja. Gengsi aja dipikirin, rakyat kecil digerus gitu aja. Kesel aku, Koh."

Suhandi terdiam cukup lama. Sementara mobil sedannya melaju meninggalkan kawasan Bekasi menuju Karawang. Di balik kaca jendela, pemandangan perlahan berubah. Gedung-gedung tinggi mulai jarang, berganti dengan kawasan industri, permukiman, kemudian hamparan sawah. Namun pembicaraan Dadang tadi masih memenuhi kepalanya.

“Kalau benar begitu, Kang,” ujar Suhandi akhirnya, “berarti masalahnya bukan cuma soal uang.”

“Betul, Koh.”

“Identitas orang dipakai. Dokumen ditandatangani. Buku tabungan dan ATM dikuasai orang lain. Memang parah banget, Kang.”

Dadang mengangguk.

“Itulah yang bikin aku heran, Koh.”

Suhandi menarik napas. Ia membayangkan seorang petani yang mungkin tidak terlalu memahami istilah KUR, plafon kredit, bunga, tenor, atau perjanjian kredit. Ketika seseorang datang menawarkan bantuan mengurus bansos, mungkin yang ada di pikiran petani hanyalah satu hal: mendapatkan bantuan.

“Orang kecil itu kadang cuma berpikir,” kata Suhandi pelan, “yang penting bantuannya cair.”

“Nah itu, Koh. Untung Kokoh masih waras.”

Lihat selengkapnya