Crazy Rich

Nuel Lubis
Chapter #14

Tersebut Beberapa Nama

Herman Suryana menarik kursinya sedikit mendekati meja. Untuk pertama kalinya sejak Suhandi dan Dadang tiba, wajahnya tidak lagi terlihat santai. Tatapannya berubah serius.

“Begini, Suh,” kata Herman. “Surat utang itu memang benar.”

Suhandi langsung mencondongkan tubuh dan membalas, “Jadi engkong saya benar-benar pernah meminjamkan uang kepada seseorang bernama Alung?”

“Benar.”

“Sebesar delapan ribu tiga ratus tiga puluh rupiah?”

Herman lalu menambahkan, “Pada 25 Mei 1965.”

Suhandi merasakan bulu kuduknya berdiri. Tanggal itu sama persis dengan yang tertulis dalam surat tua milik keluarganya.

Dadang kemudian membuka map cokelat, mengeluarkan salinan suratnya, dan berkata, “Ini yang kami punya, Kang.”

Herman mengambil kertas itu dengan kedua tangannya. Ia memperhatikannya cukup lama.

“Dulu tulisan tangan seperti ini biasa,” kata Herman. “Belum menggunakan ejaan seperti sekarang.”

“Benar, Kang,” jawab Suhandi. “Makanya saya harus beberapa kali membacanya.”

Herman tersenyum tipis berkata, “Yang menarik justru bukan tulisannya.”

“Terus apa, Kang?”

“Ini soal jaminannya.”

Suhandi langsung menatap Herman, merespon, “Tanah lima hektar itu?”

“Ya,” Dadang menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Tapi masih ada tanahnya, kan, Kang?”

Pertanyaan itu membuat Herman terdiam. Ia mengambil napas panjang.

“Kalau maksud kamu tanah yang persis sama seperti tahun 1965," Herman menggeleng. “jelas tidak.”

Suhandi langsung merasa kecewa. “Hilang apa gitu, Kang?”

“Bukan hilang.”

“Terus apa kalau nggak hilang?”

“Cuma berubah bentuk.”

Satu kata itu membuat Suhandi mengernyit. “Berubah bentuk yang gimana?”

Herman bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pagar rumah. Ia memandang jalan di depan rumahnya.

“Karawang sekarang bukan Karawang yang saya kenal puluhan tahun lalu.”

Suhandi dan Dadang mengikutinya dengan pandangan.

“Dulu,” lanjut Herman, “banyak sekali lahan pertanian. Tanah-tanah luas. Orang hidup dari sawah. Kemudian perlahan datang jalan besar, kawasan industri, perumahan, dan berbagai proyek lainnya.”

Suhandi mengangguk. “Berarti tanah engkong saya.…”

“Jangan buru-buru menyimpulkan,” Herman kembali duduk. “Tanah lima hektar itu memang pernah berada di kawasan yang sekarang sudah mengalami perubahan besar.”

“Pernah? Maksudnya, teh, apa gitu, Kang?"

“Ya, begitulahm”

Suhandi menatap Dadang.

Dadang pun terlihat semakin serius.

“Terus hubungannya dengan utang ini apa?” tanya Suhandi.

Herman mengusap dagunya. “Ini bagian yang rumit buat diceritakan.”

“Ceritakan saja, Kang.”

“Setelah surat itu dibuat, Alung memang memiliki kewajiban kepada engkongmu. Tapi situasinya berubah, Suh.”

“Karena tidak mampu membayar?”

“Sebagian.”

“Sebagian? Maksudnya? Makin bingung saya, atuh, Kang.”

Herman mengangguk. “Jangan lupa, waktu itu kondisi ekonomi dan politik juga tidak sederhana.”

Suhandi terdiam.NIa tidak ingin Herman mengalihkan pembicaraan lagi.

“Jadi Alung pernah membayar?”

“Itu yang harus kita pastikan.”

Lihat selengkapnya