"Jadi, di Beta-Mart ini?" tanya Suhandi kepada Erick yang menemaninya ke sebuah minimarket di kawasan Legok, Tangerang. "Lo yakin, Rick?"
Erick yang menyetir, mengangguk. "Iya, kayaknya Alung yang lu cari... yah, di sini. Yang punya Beta-Mart di daerah sini, konon namanya Alung. Tapi Koh Alung itu lebih sering di Singapore, Suh."
Baik Suhandi maupun Erick, masih berada di dalam minibus berwarna biru tua. Mereka memperhatikan baik-baik minimarket Beta-Mart tersebut. Banyak orang masuk dan keluar dari Beta-Mart.
"Kaya juga berarti," kata Suhandi setelah ia berdiam cukup lama.
"Yah, jelas, Suh," Erick terkekeh. "Asal lo tahu, buat beli franchise dan buka Beta-Mart aja, kita butuh modal sampai seenggaknya tiga ratus juta rupiah. Itu baru franchise fee, belum biaya-biaya lainnya kayak sewa tempat, tempat, renov, dan biaya-biaya lainnya."
Suhandi menatap papan nama Beta-Mart dari balik kaca depan minibus. Logo berwarna merah dan kuning itu terlihat cukup mencolok di antara deretan ruko dan bangunan sederhana di kawasan Legok.
Ia kembali membuka foto surat utang di tabletnya. Namanya Alung. Nama yang selama beberapa hari terakhir terus berputar-putar di kepalanya.
“Kalau memang benar orangnya,” kata Suhandi pelan, “berarti perjalanan hidupnya luar biasa juga.”
Erick tertawa kecil. “Dari utang Rp8.330 tahun 1965, sekarang bisa punya bisnis minimarket, kan?!”
“Jangan langsung menyimpulkan begitu.”
“Gue cuma bercanda, lah, Suh.”
Suhandi mengangguk. Ia tahu Erick hanya mencoba mencairkan suasana. Namun semakin lama ia memperhatikan Beta-Mart tersebut, semakin banyak pertanyaan muncul.
“Rick.”
“Apa?”
“Kalau Koh Alung ini memang orang yang sama, kenapa kita belum coba tanya langsung?”
Erick menoleh dan menawarkan solusi, “Lo mau masuk?”
“Iya.”
“Terus mau bilang apa?”
Suhandi terdiam. Pertanyaan sederhana itu ternyata membuatnya berpikir cukup lama. Mereka tidak memiliki kepastian bahwa pemilik Beta-Mart tersebut adalah Alung yang tercantum dalam surat utang. Mereka juga tidak memiliki dokumen yang menghubungkan minimarket itu dengan orang yang mereka cari. Kalau tiba-tiba datang dan berkata bahwa seseorang mempunyai utang dari tahun 1965, mereka justru bisa dianggap aneh.
“Ya… paling tanya iseng sama pegawainya.”
“Nah, itu lebih masuk akal,” Erick mematikan mesin. “Jangan bawa-bawa surat dulu.”
Suhandi mengangguk.
Mereka langsung turun dari minibus. Di saat udara siang terasa cukup panas. Beberapa kendaraan keluar-masuk area parkir. Seorang pengemudi ojek daring berhenti sebentar untuk mengambil pesanan makanan. Di sisi lain, seorang ibu keluar sambil membawa beberapa kantong belanja.
Suhandi memperhatikan semuanya. Bisnis itu terlihat hidup. Setelah itu, ia lalu melirik Erick.
“Kalau benar ini punya Alung, berarti dia jadi orang sukses.”
“Bisa jadi.”
“Dari mana-mana mungkin bisnisnya. Gak cuma dari utang itu.”
“Jangan lupa, informasi Pak Herman masih sebatas cerita yang perlu diverifikasi.”
Suhandi mengangguk.
Mereka masuk ke dalam minimarket. Udara sejuk langsung menyambut mereka. Rak-rak dipenuhi berbagai macam barang kebutuhan sehari-hari. Ada makanan ringan, minuman, perlengkapan rumah tangga, sampai kebutuhan pribadi.
Suhandi dan Erick berjalan perlahan. Mereka tidak langsung bertanya. Ia malah mengambil sebotol air mineral.
“Beli dulu,” kata Suhandi.
Erick terkekeh. “Biar gak kelihatan kayak detektif?”
Suhandi hanya tertawa.
Setelah membayar, Suhandi memperhatikan seorang pegawai yang sedang menata barang.
“Permisi, Mas.”
“Iya, Pak.”
“Saya mau tanya sedikit.”
Pegawai itu berhenti bekerja.
“Ini Beta-Mart punya siapa, ya?”
Pegawai tersebut terlihat berpikir, lalu menjawab, “Kalau yang ini, saya kurang tahu, Pak. Saya cuma karyawan.”
“Oh," Suhandi tersenyum. “Kalau pemilik atau pengelolanya, apa mereka sering datang?”
“Kadang.”
“Apa namanya Koh Alung?”
Pegawai itu langsung mengernyit. “Alung?”
“Iya.”
“Kalau nama lengkapnya saya kurang tahu. Tapi kadang manager sini suka sebut si Kokoh, Koh Alung.”
Suhandi dan Erick saling berpandangan.
“Tapi memang ada orang yang biasa datang ke sini,” lanjut pegawai itu. “Orangnya sudah tua. Katanya pemilik beberapa usaha.”