"Lo yakin mau nyamperin?" ucap Erick di balik setir, sambil menunjuk ke arah Beta-Mart itu lagi. "Terus gimana kata nyokap lo?"
Suhandi minum air mineral dulu, baru menjawab, "Kata nyokap, Bu Rina itu emang istrinya Alung itu. Malah Alung itu salah satu donatur terbesar di gereja yang nyokap gue ikuti."
"Serius lo?" Erick mengernyit.
Suhandi mengangguk. "Ya, gue serius, Rick. Dah, lah, gue mau nyamperin bapak-bapak itu dulu. Biar gue yakin itu emang Pak Obet, temannya si Alung itu."
"Hati-hati, Suh," Hanya itu yang dikatakan Erick.
Segera Suhandi keluar dari mobilnya Erick. Ia mempercepat langkahnya menuju pria tua tersebut.
Sementara itu, pria tua itu cukup kaget saat Suhandi menghampiri dan langsung ke arah topik pembicaraan.
"Iya, saya sendiri Obet," balas pria tua tersebut.
"Apa Bapak kenal dengan pria keturunan Tionghoa bernama Alung?" Lagi-lagi, tanpa basa-basi, Suhandi bertanya.
Seseorang lainnya, dan itu karyawannya Beta-Mart, ikut berkata, "Orang ini, dari kemarin-kemarin, suka datang ke sini, Pak."
"Ada perlu apa," tanya Obet memicingkan mata, "mau ketemu saya sama Koh Lu?"
"Koh Lu?" tanya Suhandi lai, mengernyit.
"Saya biasanya panggil dia Koh Lu," jawab Obet. "Nama Cina dia yang lengkap itu Loe Fù Háo. Memang teman-teman biasanya panggil dia Alung. Ada juga yang panggil dia Aloeng. Kalau saya sendiri, panggil dia Koh Lu.
Suhandi hanya menganggukkan kepala beberapa kali. Di saat itu, Erick keluar dari mobil, menghampiri.
"Adik sendiri, ada perlu apa?"
Erick berdiri di samping Suhandi, sesekali melirik ke arah Beta-Mart. Ia masih mengingat pesan terakhirnya sebelum Suhandi turun dari mobil.
Obet menatap keduanya bergantian.
"Saya Obet," kata Obet sekali lagi. "Kalau boleh tahu, kalian siapa?"
Suhandi mengulurkan tangan, berkata, "Saya Filipus Suhandi. Ini teman saya, Erick."
Obet menyambut tangan Suhandi. Namun begitu mendengar nama belakangnya, ekspresi wajah pria tua itu berubah.
"Lubis?"
Suhandi mengangguk. "Teman saya yang Lubis."
Obet tidak langsung menjawab. Ia justru memandangi Suhandi beberapa detik lebih lama.
"Kalau tak salah, ada yang Batak bermarga Lubis di keluarga Aloeng?"
Suhandi merasakan bulu kuduknya berdiri. Sekonyong-konyong ia bertanya, "T-tapi, apa Pak Obet kenal keluarga saya?"
"Kenal sekali."
Jawaban Obet itu pendek. Terlalu pendek malah.
Suhandi kemudian mengambil ponselnya. Ia membuka foto surat utang engkongnya yang sudah ia simpan dalam galeri.
"Pak, saya sedang mencari tahu tentang satu nama."
Suhandi langsung memperlihatkan layar. Tulisan Ejaan Van Ophuijsen terlihat jelas. Itu seperti: "Soerat perjataan hoetang".
Atau: "8330 roepiah".
Obet langsung diam. Tatapannya terpaku pada layar ponsel.
Erick yang berdiri di samping Suhandi pun memperhatikan perubahan ekspresi pria tua tersebut.
"Pak?"
Obet mengangkat wajah dan bertanya, "Surat itu masih ada?"
Suhandi mengangguk. "Masih. Ini peninggalan engkong saya yang sangat berharga."
"Siapa nama engkongmu?"
Suhandi menyebutkannya.
Obet menghela napas. "Saya kira surat itu sudah tidak ada."
Erick langsung menyela, "Pak Obet tahu tentang surat ini?"
Obet tidak segera menjawab. Ia menoleh ke arah karyawan Beta-Mart, lalu berkata, "Jaga toko sebentar. Saya ngobrol sama mereka di belakang."
Karyawan itu mengangguk.
Obet kemudian mengajak Suhandi dan Erick duduk di sebuah tempat yang agak teduh di sisi belakang minimarket.
Suhandi duduk berhadapan dengannya, lalu bertanya, "Jadi Pak Obet memang kenal Aloeng?"
Obet tersenyum tipis. "Kalau yang kamu maksud Koh Lu, saya bukan cuma kenal."
"Apa Aloeng itu teman bisnis?"
"Yah, benar, dia memang teman bisnis."
Suhandi membuka buku catatannya. Tangannya mulai menulis.
OBET HUTAGALUNG — MENGAKUI KENAL KOH LU/ALOENG
"Pak," kata Suhandi, "saya dapat informasi kalau dulu Koh Lu punya hubungan bisnis dengan engkong saya. Bahkan ada nama Hilman Lubis."
Obet mengangguk perlahan. "Hilman yah..."
"Apa Bapak kenal juga?"
"Kenal."
Erick langsung menatap Suhandi.
Suhandi sendiri mulai merasa bahwa potongan-potongan teka-teki yang selama ini terpisah ternyata perlahan menyatu.
"Bisnis apa sebenarnya?"