"Tapi saran Mama, Suh," ujar Etiyati dengan sorot mata galak. "Kalau Pak Alung itu mungkin memang bisa, lah, diajak kompromi. Tapi Pak Haji Oman... waduh, Suh, kamu sebaiknya berhati-hati."
Suhandi mengernyit. "Yang katanya sempat kerja di Kementerian Keagamaan?"
"Sampai sekarang malah, Suh," ralat Etiyati. "Pak Haji Oman itu, kabarnya, punya rumah mewah di kawasan Pondok Indah. Dan, rumahnya, suka didatangi orang-orang KPK. Gosipnya lagi, setiap ada kasus korupsi di kementerian itu, namanya suka dicatut."
"Oh iya," Suhandi mengalihkan pembicaraan ke arah lain. "Apa Mama kenal sama Pak Aloeng itu?"
"Kenal sekali Mama," jawab Etiyati. "Bahkan waktu Mama mau lahiran kamu, Pak Alung itu pernah datang. Kabarnya dia sekarang lebih sering tinggal di Denpasar. Bolak-balik Bali-Singapore."
Suhandi terdiam cukup lama.
"Denpasar-Singapore?" ulang Suhandi yang seperti tak percaya ibu kandungnya sendiri.
Etiyati mengangguk. "Iya. Katanya begitu. Tapi Mama juga dengarnya dari orang-orang. Makanya kamu jangan langsung percaya seratus persen."
Suhandi membuka buku catatannya. Ia menulis:
ALUNG / ALOENG / KOH LU
Sekarang sering Denpasar–Singapore
Di bawahnya ia menambahkan tanda tanya.
"Terus Bu Ratna?" tanya Suhandi.
Etiyati langsung menghela napas. "Ratna itu memang pernah dekat sekali sama Alung."
"Dia mantan istrinya, kan?"
"Iya."
"Kenapa bisa cerai?"
Etiyati menatap anaknya, menjawab, "Itu cerita lama, Suh. Mama juga nggak mau ikut campur terlalu jauh."
"Tapi Mama tahu, kan?"
"Hanya tahu sedikit."
Suhandi menutup bukunya, berkata, "Mama...."
"Apa?"
"Kalau aku sekarang sedang mencari tahu tentang engkong, berarti aku harus tahu semuanya."