Crazy Rich

Nuel Lubis
Chapter #20

Di Pabrik Esnya Keluarga Lubis

"Oh, jadi sebulan bisa untung bersih 10 sampai 15 juta rupiah?" tanya Suhandi, saat ia disuruh mamanya, Etiyati, ke sebuah gudang yang merupakan pabrik es batu.

Lalu ini dia jawaban salah seorang pekerja: "Kurang lebih begitu, Koh. Untungnya manager di sini mah jujur. Nggak neko-neko orangnya."

Awalnya Suhandi bingung sendiri, saat mamanya menyuruhnya ke gudang ini. Ternyata juga yang punya gudang ini ialah Hilman Lubis. Dugaannya benar. Ia tidak perlu repot-repot ke Karawang lagi.

Bahkan menurut para pekerja di sini, istrinya Hilman Lubis adalah Ratna, yang notabene itu mantan istri Alung--atau Suhandi selalu memanggilnya Aloeng. Selanjutnya, antara Hilman Lubis dan Alung, keduanya sempat terjadi friksi.

"Pak Lubis itu," ujar salah seorang karyawan lainnya, "dia sempat beberapa kali ke pengadilan. Dan, kata manager kami, yang adiknya dia, Pak Zulkarnaen, pasti gontok-gontokan sama Pak Alung. Pak Alung sering menuduh Pak Lubis main curang."

Main curang gimana?" Kali ini Erick yang bertanya.

Ia hanya bisa mengangkat bahu dan mengangkat tangan. Sebuah gestur yang berarti "tidak tahu".

"Sekantung kami jual sekitar 20 ribu rupiah, Koh," jawab karyawan tadi, yang tadi mengangkat kantung es batu. Di eceran, satu kantungnya berisi 10 kilogram."

"Oh gitu," Suhandi angguk-angguk kepala. "Tapi Pak Lubis itu rutin kan bayar gaji kalian? Kan tadi bilangnya suka ke pengadilan, terus dituduh main curang."

"Alhamdulilah," ujar yang mengangkat kantung es, yang hanya mengenakan kaus kutang, "sejauh ini lancar-lancar saja."

Suhandi mengangguk pelan. "Berarti meskipun Pak Lubis pernah punya masalah hukum, operasional pabrik tetap jalan?"

"Iya, Koh."

"Dan gaji kalian lancar?"

"Lancar."

Erick menatap Suhandi. Keduanya kemudian saling pandang.

Ada sesuatu yang terasa janggal. Kalau benar Hilman Lubis sedang menghadapi berbagai persoalan, bagaimana mungkin bisnisnya tetap berjalan dengan normal?

Suhandi melihat ke sekeliling gudang. Mesin-mesin pendingin berdengung. Lantai terlihat basah karena lelehan es. Beberapa pekerja sibuk mengangkat kantung-kantung es batu ke dalam kendaraan. Tidak ada tanda-tanda sebuah usaha yang sedang sekarat.

"Sehari bisa produksi berapa kantung?" tanya Suhandi.

Salah seorang pekerja menghitung sebentar. Lalu ia menjawab, "Kurang tahu persis, Koh. Tergantung pesanan. Kalau lagi ramai, ya lumayan untung kotornya."

"Berarti restoran sama pedagang minuman banyak yang ambil?"

"Iya. Warung, rumah makan, pedagang ikan, macam-macam deh, yang ambil dari sini."

Suhandi kembali mengangguk. Ia kemudian menghitung cepat dalam pikirannya. Kalau satu kantung Rp20.000 dan produksi mencapai ratusan kantung per hari, omzetnya memang bisa terlihat besar. Tetapi omzet tentu bukan keuntungan bersih.

"Lalu yang benar-benar mengurus di sini siapa?"

"Manager."

"Namanya?"

"Kan tadi saya sudah bilang, Pak Zulkarnaen."

Suhandi langsung menoleh. Ia bertanya sekali lagi, "Zulkarnaen Lubis?"

"Iya."

Lihat selengkapnya